Ini yang dulu selalu saya bayangkan ketika masih menjadi mahasiswa baru di jurusan Sastra Prancis UGM: kalau suatu hari saya bisa menjejakkan kaki di Paris, Paris yang akan saya temui adalah Paris di sore musim gugur. Cuaca dingin, angin menerbangkan daun-daun kering, lalu tulang saya mulai ngilu, dan daun telinga serasa kebas. Tapi segera saya mencari kafe terdekat, memesan kopi dan croissant, lalu menghangatkan tubuh sambil mendengar lagu-lagu jazz bistro. Di sudut utara, Eiffel tampak megah dengan balutan lampu kuning yang menyala.
Tapi Paris semacam itu hanya ada di imajinasi anak semester tiga yang masih percaya pada brosur biro pariwisata atau terpesona pada foto-foto di buku Écho—modul kuliah mahasiswa Sastra Prancis semester awal.
28 Agustus 2019, akhirnya saya benar-benar tiba di Paris. Tapi Paris yang saya jejaki ternyata jauh dari kota nan megah yang membawa perasaan sendu. Saya tiba di kota ini saat musim panas, dengan suhu udara 37 derajat celcius. Terik. Gerah. Tubuh saya lengket setelah 19 jam perjalanan udara tanpa mandi.
Dari Bandara Charles de Gaulle, saya dijemput Hasbi—teman yang tengah menempuh Master Arkeologi di Université Panthéon-Sorbonne. Setelah sejenak bersapa dan saling menanyakan kabar, Hasbi langsung mengingatkan saya untuk selalu waspada selama berada di Paris. Ia lalu mengajak saya naik metro jaringan RER (Réseau Express Régional) menuju tempat tinggalnya di Courcouronnes, daerah pinggiran Paris.
“Gus, hati-hati. Banyak orang brengsek di Gare du Nord. Dompet, HP, amankan. Banyak jambret terorganisir lo”, ujarnya, sebelum menambahkan, “Kalau kowe minta tolong polisi, paling mereka juga bodo amat. Polisi dimana-mana sama aja.”
Stasiun-stasiun kereta di Paris memang jauh dari kesan indah. Gare du Nord, misalnya, stasiun dengan terowongan seperti labirin raksasa ini tak cuma sumpek dan remang-remang, tapi juga pesing menyengat. Sampah dan puntung rokok bertebaran. Dinding-dinding stasiun penuh coretan pilox asal-asalan. Banyak gelandangan tidur di tepi jalan.

Sepanjang perjalanan menuju Courcouronnes, saya melihat Paris sebagai kota yang sesak namun juga sangat plural. Dalam gerbong kereta yang kami tumpangi saja, sebagian besar orang yang duduk bukanlah orang kulit putih Eropa. Di kursi samping kami, pemuda keturunan Maghreb bersebelahan dengan pekerja keturunan Afrika Hitam. Seorang perempuan kulit hitam di belakang kami mengenakan Buba, Iro, dan Gele—blouse, sarung, dan penutup kepala khas Afrika Barat dengan warna-warna menyala. Perempuan berhijab keturunan maghreb berwajah muram sedang menelfon seseorang. Tepat di depan kami bahkan duduk seorang Ibu berwajah India. Nampak pula dua orang Asia bermata sipit dan berkulit kuning langsat—salah satunya adalah saya.
Prancis memang terkenal sebagai negara yang dihuni banyak keturunan imigran. Berdasarkan data yang dihimpun INSEE (Institut National de la statistique et des études économiques) tercatat bahwa pada tahun 2015 terdapat 7,3 juta warga negara Prancis yang mempunyai setidaknya satu orang tua imigran. Artinya, 11 % dari warga negara Prancis adalah keturunan imigran.
Membludaknya jumlah keturunan imigran ini bukannya tidak membawa masalah. Belakangan, meskipun sebagian besar dari orang kulit berwarna tersebut sudah berkewarganegaraan Prancis, mereka seringkali tak bisa sepenuhnya diterima sebagai orang Prancis. Banyak di antara mereka yang mengalami diskriminasi rasial dan terutama kesulitan dalam memperoleh akses kerja dan layanan publik. Hal ini pada akhirnya menimbulkan masalah lain yang lebih ruwet seperti pengangguran maupun kriminalitas.
Sejarah mencatat bahwa imigran memang bagian tak terpisahkan dari negeri Prancis. Bahkan, berbicara tentang sejarah imigran berarti berbicara tentang sejarah negeri ini. Para imigran sudah didatangkan ke Prancis sejak paruh kedua abad 19. Pada periode ini, para imigran didatangkan dari negeri-negeri tetangga di Eropa maupun negara-negara jajahan Prancis di dengan tujuan memperkuat militer Prancis untuk Perang Dunia. Namun puncak dari kedatangan para imigran terjadi pasca Perang Dunia II, tepatnya sepanjang periode Les Trentes Glorieuses (30 tahun kejayaan) alias periode kemajuan gila-gilaan ekonomi Prancis sepanjang 1945-1975.
Pada periode tersebut, Prancis tengah mengalami kemajuan industrialisasi yang luar biasa. Sayangnya, kemajuan ekonomi tersebut tak dibarengi dengan naiknya jumlah penduduk. Hal ini adalah dampak dari Perang Dunia II yang telah memakan korban jiwa sangat besar dan membuat angka pertumbuhan penduduk sangat lambat. Bahkan di masa baby booming, pertumbuhan penduduk Prancis hanya ada di angka 1 %.
Demi mencukupi jumlah pekerja sekaligus meningkatkan populasi negara, Prancis pun perlu menerapkan suatu kebijakan pro-imigran. Maka tercetuslah kebijakan regroupement familial, yaitu suatu prosedur yang mengizinkan seorang pekerja imigran untuk mengajak anggota keluarganya menetap di Prancis dan memperoleh kewarganegaraan Prancis dengan lebih mudah. Kebijakan ini membuat ratusan ribu orang khususnya dari Benua Afrika berduyun-duyun datang, berkeluarga, dan beranak-pinak, hingga saat ini telah sampai pada keturunannya yang ketiga, keempat, atau bahkan kelima.
Saat ini, kebanyakan dari mereka masih dihinggapi berbagai stereotip negatif. Keturunan imigran Afrika Hitam biasanya dianggap biang kerok segala kriminalitas, mulai dari penjambretan, pencurian, hingga gembong narkoba. Keturunan Maghreb kerap dicurigai teroris atau seksis—genit dan senang goda sana-sini. Sementara keturunan Asia, apalagi yang bermata mini seperti saya, justru sering dipukul rata keturunan orang kaya. Alhasil, mereka kerap jadi korban pencopetan—saya kira justru ini yang paling naas.
Apa yang disebut Hasbi sebagai kumpulan orang-orang brengsek di Gare du Nord, bisa jadi merujuk pada kumpulan orang keturunan Afrika hitam yang terlihat dominan di area ini. Saya sebenarnya menolak untuk percaya pada segala bentuk stereotip. Bagi saya, stereotip adalah omong kosong yang didengungkan terus-menerus oleh kelas berkuasa. Tentu saja demi keuntungan mereka. Namun entah mengapa, kali ini saya merasa sangat cemas ketika orang berjejalan di tiap sudut stasiun. Ada semacam rasa kalut yang oleh orang Jawa disebut spaneng.
Sepanjang perjalanan di dalam kereta yang pengap, saya merasakan betul perasaan terasing seperti yang dituliskan Emmanuel Dongala di cerpen Kereta Hantu. Semua orang seakan menjadi berbahaya. Tiap gerak-gerik kecil terasa mencurigakan. Tiap tatapan mata yang bertemu seperti sinyal untuk menerkam.
Pikiran-pikiran negatif berjejal dan salah satu yang terbersit adalah perasaan nelangsa karena tak bisa menonton Gundala. Sebagai penggemar fiksi superhero, yang bahkan mencantumkan lambang Konoha di tanda tangannya, melewatkan film jagoan pertama dari negeri sendiri adalah sebuah ironi. Seandainya saya punya kekuatan super, barangkali saya tak akan sekhawatir ini. Sejak dulu, saya ingin menjadi superhero dengan kekuatan yang penuh kearifan lokal, mungkin menjadi perkasa setelah minum jamu atau disosor soang.
Lamunan itu secara tak terasa telah membawa saya tiba di Courcouronnes dan membuat saya sadar kalau perut sudah keroncongan. Rasa was-was ternyata melelahkan dan cukup menguras energi. Beruntung Hasbi peka dan segera mengajak saya untuk makan malam, yang sialnya, membuat ekspektasi lama tentang romantisme Paris semakin remuk redam.
Hari ini saya tak minum espresso seperti para filsuf eksistensialis di café littéraire. Saya hanya makan kebab dan minum soda 7-Up di sebuah restoran Arab yang memutar lagu-lagu Prancis dan Timur Tengah secara bergantian.
Ukuran kebab di sini seperti porsi gajah. Saya yakin akan kenyang sampai pagi kalau bisa menghabiskannya. Isi daging cincangnya tak tanggung-tanggung. Padat dan berminyak. Saya harus membuka mulut seperti kuda nil untuk melahapnya. Itupun dengan cincangan daging yang tumpah-tumpah.
Namun harus diakui, kebab seharga 6,5 euro ini luar biasa sedap. Potongan daging tebal dan empuk, dengan aroma rempahnya yang harum, membuat saya makin khusyuk menyantap. Apalagi ketika ia dicocol dengan saus kuning aljazair yang memberi sentuhan gurih, pedas, dan sedikit asam yang sempurna. Tanpa terasa, saya melahap ganas kebab ini sampai benar-benar tandas.
Sejenak kemudian, dalam suasana perut kenyang, entah mengapa dunia terasa lebih terang. Saya mulai melihat sekeliling dan mengamati bahwa pelanggan restoran Timur Tengah ini bukan cuma orang keturunan Arab. Tapi ada pula orang kulit hitam, orang Asia Timur, bahkan orang kulit putih Eropa.
Orang beragam suku yang ada di sekitar saya juga nampak segar dan sumringah. Mereka saling bercerita dengan santai dan bahkan saling tersenyum manis.
Amin Maalouf—sastrawan francophone asal Libanon—dalam bukunya Les Identités Meurtrieres pernah menyiratkan sikap optimisnya terhadap globalisasi dan pluralitas dengan mencontohkan budaya tata boga yang kini telah melampaui batas teritorial. Kata Maalouf, zaman modern ini telah memberi kesempatan bagi orang Inggris untuk dengan mudah menikmati saus mint di dalam kare, orang Prancis mulai menyukai daging kukus, atau penduduk Minsk bisa melahap hamburger.
Kebab raksasa yang hari ini dilahap manusia beragam suku di pinggiran Paris ini barangkali adalah bukti bahwa apa yang dikatakan Maalouf bukanlah pepesan kosong saja.
Keberagaman memang kerap dipandang sebagai pembawa mala. Ia selalu menyeret rasisme sekaligus xenophobia. Namun setiap orang sebaiknya juga mengakui, bahwa tanpa keberagaman, tak mungkin ada kebab seenak ini di pinggiran Paris. Tak bakal ada gol Paul Pogba dan Kyllian Mbappe di final Piala Dunia 2018. Tak mungkin pula ada penyanyi seperti Erza Muqoli yang saya yakin akan menggantikan Celine Dion di masa depan.
Pada akhirnya, kebab yang saya libas di penghujung hari membuat saya kembali pada rutinitas harian: kenyang lalu mengantuk.
Saat suhu tubuh mulai menurun, hembusan nafas semakin teratur, sementara mata makin berat untuk dibuka, tiba-tiba saya melihat sebuah negeri seperti yang dikatakan Amin Maalouf sebagai kampung global. Yaitu tempat di mana setiap orang bebas untuk melestarikan karakter tradisionalnya tanpa harus menjatuhkan karakter lain. Ada ratusan atau mungkin ribuan orang di depan saya yang berbeda baik secara fisik maupun penampilan. Dunia semarak, lanskap warna-warni, tak satupun raut tampak kusut. Setiap orang berdamai dengan diri dan sekitarnya. Saya tak tahu apakah yang sedang saya lihat adalah Prancis, Indonesia, Vanuatu, atau Puerto Rico. Yang jelas, saya berada di sebuah ruang, di mana setiap orang tak lagi percaya pada segala bentuk stereotip, dan lebih percaya bahwa universalitas akan selalu punya harapan.