Resensi Buku Who Paid the Pipers of Western Marxism karya Gabriel Rockhill
Penulis: Joseph Jamison
Penejermah: Ari Bagus Panuntun
“Siapa yang membayar peniup seruling, dialah yang memilih lagu,” adalah peribahasa yang dipinjam buku baru Gabriel Rockhill yang luar biasa ini, Who Paid the Pipers of Western Marxism, dengan subjudul “The Intellectual World War. Marxism Versus the Imperial Theory Industry.”[1] Judul buku ini mengingatkan kita pada judul Inggris dari buku terkenal sebelumnya, Who Paid the Piper? The CIA and The Cultural Cold War karya Frances Stonor Saunders.[2] Meski kaya akan detil faktual, karya Saunders jarang mampu melampaui kemarahan khas kaum liberal terhadap tipu daya, korupsi, pelecehan pada demokrasi, dan kekerasan brutal yang dilakukan CIA.
Buku Gabriel Rockhill adalah karya yang jauh lebih dalam dan ambisius. Ia menawarkan sejumlah kemajuan dalam teori Marxis, sekaligus menyoroti satu aspek spesifik dari Perang Dingin di ranah gagasan, yaitu upaya kelas penguasa kapitalis untuk menghancurkan musuh komunisnya dengan sengaja membentuk suatu “Marxisme” gadungan—bernama “Marxisme Barat”—yang tidak akan mengancam status quo kapitalis. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai kendaraan kontrol ideologis di bawah kapitalisme dan imperialisme.
Pokok argumen Rockhill adalah bahwa sebagian besar dari apa yang kita kenal sebagai “Marxisme Barat”—terutama aliran yang berkaitan dengan Mazhab Frankfurt atau Teori Prancis—bukanlah arus yang betul-betul revolusioner atau anti-kapitalis. Dengan bukti arsip yang melimpah, Rockhill menunjukkan bahwa kepentingan kapitalis raksasa—termasuk negara, yayasan, dan institusi yang terkait dengan kekuasaan imperialis—secara aktif telah mendanai dan mempromosikan apa yang kini disebut tradisi “teori kritis”. Tujuan dari seluruh pendanaan dan promosi tersebut adalah melahirkan sebuah “kiri yang kompatibel”: kaum intelektual berhaluan kiri yang tampak kritis, tetapi pada akhirnya melayani kebutuhan kelas kapitalis yang berkuasa, dengan menggeser perhatian dari perjuangan kelas yang sistemik, perubahan sosial yang revolusioner, dan capaian-capaian sosialisme yang kongkrit.
Berbeda dengan Saunders, Rockhill memakai kerangka materialisme dialektis dan historis, dengan berargumen bahwa gagasan dan produksi intelektual harus dipahami sebagai sesuatu yang terhubung dengan relasi kelas material dan struktur kekuasaan. Ia melakukan penelitian arsip dan sejarah yang detil untuk menelusuri hubungan finansial, institusional, dan politik antara institusi-institusi pengetahuan Barat—terutama yang terkait Marxisme Barat—dengan kekuatan kapitalis dan imperialis. Buku ini menekankan konsep perjuangan kelas yang mencakup pula dunia intelektual. Budaya, teori, dan ideologi adalah bagian dari medan perang dalam perjuangan global antara kekuatan kapitalis-imperialis dan gerakan komunis, revolusioner, atau anti-imperialis.
Rockhill tidak melulu mendakwa Marxisme Barat. Ia juga mengajak kita untuk menghargai dan melanjutkan Marxisme-Leninisme anti-imperialis, yaitu Marxisme yang berkomitmen pada transformasi sosialis di dunia nyata, bukan sekadar kritik budaya. Dengan kata lain, buku ini adalah seruan untuk menolak tradisi intelektual Marxisme Barat yang penuh pengaburan. Sebaliknya, kita perlu membangun kembali Marxisme materialis yang berakar pada perjuangan kelas, solidaritas global, dan praksis sosialis yang kongkrit.
Rockhill sendiri mengakui ada masalah dalam istilah “Marxisme Barat.” Seperti kita tahu, Marxisme lahir di Eropa Barat. Sejak dekade 1840-an sampai 1890-an, Marx dan Engels bekerja di Jerman, Belgia, Prancis, dan Inggris untuk mengembangkan teori revolusioner mereka. Pada tahun 1976, istilah “Marxisme Barat” mulai dikenal secara luas setelah Perry Anderson, seorang penulis Trotskis yang terafiliasi dengan jurnal Inggris, New Left Review (sekarang Verso), menerbitkan Considerations on Western Marxisme. Dengan demikian, istilah “Marxisme Barat” tidak merujuk pada seluruh pemikiran Marxis di negara-negara Barat. Ada banyak Marxis otentik di Barat yang seringkali juga berada dalam partai Komunis. Sebaliknya, “Marxisme Barat” merujuk pada satu penyimpangan yang sangat spesifik dari Marxisme. Rockhill sendiri sebenarnya lebih menyukai istilah “Marxisme imperialis” atau “Marxisme kultural.” Namun, sejak Perry Anderson, kita tampaknya sudah terlanjur akrab dengan istilah geografis tersebut. Marxisme Barat pada dasarnya bukanlah tradisi intelektual yang otentik dan independen yang muncul secara organik dari gerakan buruh atau kaum intelektual Barat, melainkan proyek di masa Perang Dingin untuk menjinakkan Marxisme dan menjauhkan kaum intelektual kiri dari politik revolusioner.
Rockhill menulis:
Buku ini, sebagaimana dua buku lain yang akan menyusul, berfokus pada peran intelektual, khususnya di ranah akademik, dalam perang melawan komunisme, dan lebih spesifik lagi, pada upaya untuk membentuk suatu teori kritis kiri yang “kompatibel.” Marxisme tak mungkin disingkirkan sepenuhnya karena ia memiliki daya tarik yang luas, penjelasan yang jernih dan kuat, serta kemampuan untuk mentransformasi tatanan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, para manajer kelas borjuis ini menghadapi dilema tentang bagaimana harus menghadapinya. Seperti yang akan kita lihat, siasat mereka adalah dengan memonopoli kontrol atas suprastruktur yang mampu mempromosikan ke seluruh dunia versi Marxisme yang telah dikomodifikasi, yang sering disebut Marxisme Barat atau Marxisme kultural, sekaligus bermacam teori edgy lainnya yang mengklaim lebih radikal dan canggih dibanding Marxisme. Jika disederhanakan, mantra tersirat yang menggerakkan industri teori imperialis ini adalah: jika Anda tidak bisa mengalahkan saingan Anda (kaum Marxis sejati), maka banjiri pasar dengan tiruan yang murah dan menggoda, promosikan tanpa henti, dan cobalah kubur saingan Anda dengan melabeli mereka sebagai sesuatu yang sudah katrok.”[3]
Rockhill berhati-hati untuk tidak terlalu menyederhanakan persoalan ini. Ia menolak gagasan bahwa para intelektual itu sepenuhnya bertindak otonom atau sepenuhnya dikendalikan secara ketat oleh kekuatan eksternal. Pandangan semacam itu adalah penyederhanaan yang keliru.
CIA mempromosikan para kiri non-komunis ini dari balik layar. Siasat ini justru menjadi salah satu cara paling efektif untuk memecah belah kelompok kiri, dan yang paling penting, melancarkan perang habis-habisan terhadap kiri yang “tidak kompatibel”, yaitu kaum komunis. Penting digarisbawahi, keterkaitan seorang intelektual dengan proyek ini tidak serta-merta membatalkan seluruh kontribusi intelektualnya. Seorang cendekia tidak harus berkolaborasi langsung dengan CIA untuk memainkan peran dalam perang dunia intelektual melawan komunisme.”[4]
Rockhill membuka buku ini dengan kisah tentang upaya CIA membunuh Che Guevara. Setelah CIA membunuhnya di Bolivia pada tahun 1967, terjadi pertempuran lanjutan untuk membunuh gagasannya, terutama yang tertuang dalam buku harian Che selama di Bolivia. Buku harian tersebut jatuh ke tangan diktator Bolivia, René Barrientos, yang berupaya melelang hak penerbitannya pada penawar tertinggi. CIA beserta sekutu dan agen-agennya kemudian menerbitkan berbagai versi palsu dari buku harian tersebut. Setelah perjuangan panjang yang sengit, Fidel Castro dan majalah Ramparts akhirnya berhasil menerbitkan buku harian Che yang asli.
Rockhill mencatat bahwa Che mengalami radikalisasi ketika masih menjadi dokter muda di Guatemala, setelah melihat kampanye propaganda Amerika Serikat menjelang kudeta di Guatemala. Kampanye tersebut menggambarkan Jacobo Árbenz, presiden Guatemala yang progresif, sebagai kaki tangan Uni Soviet. Propaganda tersebut berperan memuluskan penggulingan Árbenz pada tahun 1954. Kelak, di Kuba, Che membuat Radio Rebelde di pegunungan Sierra Maestra, dan kemudian mendirikan Prensa Latina, sebuah kantor berita anti-imperialis. Pengalaman Che di Guatemala memberinya kesadaran tajam tentang pentingnya ideologi dalam perjuangan revolusioner. Pentingnya ideologi inilah yang menjadi salah satu tema kunci buku Rockhill.
Rockhill juga menulis bahwa Who Paid the Pipers of Western Marxism? memerlukan waktu penulisan selama tiga dekade.[5] Selama rentang waktu tersebut, rencana awal satu jilid berkembang jadi tiga jilid. Ketika masih kuliah di Iowa tahun 1990-an, ia pernah mencari bentuk teori paling radikal untuk mengubah dunia yang penuh dengan eksploitasi dan penindasan ini. Teori yang ia dapat saat itu adalah Teori Prancis, Mazhab Frankfurt, dan teori serupa yang banyak berkembang di dunia akademik anglofon.
Pada musim gugur 2001, di usia 29 tahun, ia tengah belajar dan mengajar filsafat di Paris, Prancis. Ia merasa berada di puncak dunia, belajar bersama para dedengkot Teori Prancis seperti Jacques Derrida, Alain Badiou, dan lainnya.
Ketika terjadi peristiwa 9/11 pada tahun 2001, ia diminta untuk menjelaskan dan memaknai peristiwa tersebut dalam sebuah kuliah umum di salah satu institusi tempat ia mengajar. Dalam sebuah momen pencerahan mendadak—seperti ketika Paulus di jalan menuju Damaskus—, ia sadar tak punya apapun yang masuk akal untuk dikatakan. “Setelah bertahun-tahun belajar di institusi-institusi paling ngetop di Paris, saya sama sekali buta soal imperialisme dan dunia geopolitik tempat saya hidup. Saya tahu sangat banyak hal tentang perkara yang nyaris tak ada gunanya, tetapi justru kosong mlompong soal hal-hal yang paling menentukan di dunia, yang secara harfiah menyangkut hidup dan mati mayoritas umat manusia dan biosfer. Apa yang selama ini saya pelajari ternyata adalah imperial ignorance—ketidaktahuan imperialis.”[6]
Perlu lebih dari satu dekade kuliah dan mengajar di Paris, dan nyaris dua dekade terlibat dalam aktivisme dan riset tentang sejarah Marxisme anti-imperialis dan gerakan sosialis global, agar Rockhill dapat lepas dari jerat Marxisme Barat dan memahami satu kebenaran bahwa apa yang selama ini ia anggap edukasi, ternyata hanya indoktrinasi. Ketika ia kemudian berusaha menerbitkan kesimpulan “sesat” awalnya tersebut, ia harus menghadapi “kekuatan kolosal para penjaga gerbang industri teori imperialis.” Ia bahkan membutuhkan waktu lebih lama untuk betul-betul memahami dinamika kekuasaan dalam arena produksi pengetahuan dan dunia penerbitan.
Sejarah tandingan yang diajukan Rockhill menentang narasi arus utama yang menyatakan bahwa “Marxisme Barat”[7] adalah evolusi alami dari teori Marxis. Marxisme Barat yang dimaksud adalah pemikiran dari Theodor Adorno, Max Horkheimer, Herbert Marcuse, Erich Fromm, Walter Benjamin, Jürgen Habermas, Sidney Hook, James Burnham, Immanuel Wallerstein, Michel Foucault, Jacques Derrida, Raymond Aron, Hannah Arendt, Slavoj Žižek, Margaret Mead, dan banyak tokoh lain. Sebaliknya, ia berargumen bahwa Marxisme Barat dipromosikan secara selektif oleh institusi-institusi tertentu untuk menciptakan bentuk Marxisme yang “aman”, filosofis, dan berkebudayaan: sebuah Marxisme yang tidak akan mengancam status quo kapitalis.
Istilah “the pipers” atau “para peniup seruling” dalam judul buku ini tentu merujuk pada para penyandang dana di balik layar. Rockhill dengan teliti mendokumentasikan bagaimana yayasan-yasasan besar Amerika Serikat yang terkait erat dengan kebijakan luar negeri, seperti Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Carnegie Foundation, dan CCF (Congres for Cultural Freedom)—lembaga kebudayaan yang dibuat CIA pada 1950-an—telah mendanai secara sistematis berbagai posisi akademik, konferensi, dan pusat-pusat riset yang berfokus pada teori Marxis, juga berbagai jurnal penting (seperti majalah Encounter di Inggris atau Der Monat di Jerman), dan berbagai proyek penerbitan antikomunis lainnya. Pendanaan ini juga menyasar para intelektual yang seringkali berbentuk pemberian beasiswa, hibah penelitian, atau penyediaan panggung-panggung akademik prestisius.
Jadi, apa sebetulnya Marxisme Barat? Rockhill menulis:
Marxisme Barat adalah bentuk khusus dari Marxisme yang lahir di pusat imperial dan disebarluaskan ke seluruh dunia lewat imperialisme kultural. Sejarah kapitalisme telah membangun negara-negara inti di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan lainnya dengan cara mengerdilkan bagian dunia yang lain. Negara-negara inti tersebut merampas atau mendapat dengan harga sangat murah sumber daya alam dan buruh dari negara-negara pinggiran, sekaligus menjadikan wilayah pinggiran tersebut sebagai pasar dari barang-barang mereka. Proses ini menciptakan aliran nilai internasional dari Selatan Global ke Utara Global. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut Engels dan Lenin sebagai aristokrasi buruh di negara-negara inti, yaitu lapisan atas kelas pekerja global yang kondisi hidupnya jauh lebih makmur dibanding kelas pekerja negara pinggiran. Lapisan pekerja teratas ini mendapat keuntungan—secara langsung atau tidak langsung—dari aliran nilai yang telah dijelaskan tadi. Stratifikasi global kelas pekerja semacam ini menunjukkan bahwa kelas pekerja berprivilese di negara-negara inti juga mempunyai kepentingan material untuk mempertahankan tatanan dunia imperialis.[8]
Rockhill berargumen bahwa mesin institusional yang dibangun selama Perang dingin seperti CCF telah secara aktif membentuk kanon “Marxisme Barat.” Institusi-institusi tersebut menentukan pemikir mana yang harus dirayakan, diterjemahkan, didiskusikan, sambil di saat bersamaan, meminggirkan pemikir-pemikir lain, terutama yang berasal dari Selatan Global atau tradisi revolusioner luar Eropa, seperti Marxisme anti-kolonial. Menurut Rockhill, narasi tentang Marxisme Barat yang “humanis” dan “filosofis”, yang selalu dipertentangkan dengan Marxisme Soviet yang dianggap “dogmatis” dan “bobrok”, adalah sebuah alat propaganda Perang Dingin.
Sebagai konsekuensi, menurut Rockhill, tradisi Marxis yang dominan dan diwariskan di dunia akademik Barat adalah Marxisme yang telah didepolitisasi. Tradisi ini lahir dan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan kapitalis—yang seharusnya menjadi objek kritik—dan tidak mungkin relevan untuk membangun alternatif revolusioner yang kongkrit.
Susunan Buku
Buku ini dibagi dalam tiga bagian utama. Bagian pertama “Pengetahuan Imperial” menguraikan metode Marxis yang digunakan Rockhill dalam proyek ini, yaitu materialisme dialektis dan historis. Bagian ini juga meninjau apa yang ia sebut “aparatus intelektual imperial”, yaitu jaringan institusi yang berperan dalam pertempuran merebut hati dan pikiran. Misalnya, IRD (The Information Research Department) Inggris yang menjadi model bagi banyak institusi Perang Dingin Amerika Serikat. Dalam praktiknya, dana besar Marshall Plan (1948-1952) yang dibuat untuk mendorong pemulihan ekonomi Eropa Barat, kerap dialihkan oleh Amerika Serikat untuk membiayai operasi-operasi senyap perang politik dan psikologis. Sementara itu, OSS (The Office of Strategic Services), badan intelijen terdepan Amerika Serikat dalam perang melawan Blok Poros, kemudian bertransformasi menjadi CIA pada tahun 1947. Banyak pejabat tinggi OSS berpindah langsung ke CIA. Musuh utama institusi baru ini adalah komunisme dan Uni Soviet.
Garda terdepan dari Perang Dingin kebudayaan CIA adalah CCF (Congress for Cultural Freedom). Organisasi ini dijalankan oleh seorang agen CIA yang menyaru, Michael Josselson, yang berbasis di Paris.[9] CIA juga tidak harus mempertanggungjawabkan pengeluaran mereka kepada satu pun anggota legislatif di Capitol Hill.
Pada puncak kejayaannya, CCF memiliki kantor di tiga puluh lima negara, mempekerjakan puluhan staf, menerbitkan lebih dari dua puluh majalah bergengsi, menyelenggarakan pameran-pameran seni, memiliki jasa berita dan artikel, mengorganisasi konferensi internasional penuh prestis, dan memberikan berbagai penghargaan dan kesempatan pertunjukan publik pada para musisi, sastrawan, dan seniman. Misi mereka adalah menggeser perlahan minat kaum intelektual Eropa Barat yang masih sangat tertarik pada Marxisme dan Komunisme menuju pandangan yang lebih ramah dan akomodatif terhadap “the American way”—cara kerja Amerika. Para presiden kehormatan CCF mencakup nama-nama besar seperti Benedetto Croce, John Dewey, Theodor Heuss, Karl Jaspers, Jacques Maritain, Bertrand Russell, dan Léopold Sédar Senghor. Saunders mengatakan bahwa jangkauan CCF begitu luas sampai hampir setiap intelektual, penulis, dan pelaku budaya di Eropa Barat pasca-perang—sadar ataupun tidak—terjerat dalam jejaring mereka.[10]
Pembahasan tentang “Industri Teori Imperial” ini merupakan salah satu gagasan paling penting dalam buku ini. Di sini, Rockhill mengungkap tentang adanya sebuah “industri teori”, sebagaimana terdapat industri musik atau industri film. Ia menjelaskan bahwa “sayap radikal dari industri teori ini” terhubung erat dengan tuntutan dan kepentingan militerisme dan imperialisme, kendati bentuk utamanya adalah perang intelektual terhadap komunisme—yang merupakan hambatan terbesar bagi imperialisme.[11]
Adapun bagian kedua, “Teori Kritis yang Kompatibel”, berfokus pada Mazhab Frankfurt, yang merupakan bagian terdepan dari apa yang disebut Rockhill sebagai “sayap radikal industri teori.” Mazhab Frankfurt, yang didirikan tahun 1923 dan secara resmi bernama Institute for Social Research, adalah sekelompok akademisi Jerman seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, yang bekerja dalam tradisi Marxis, tetapi bersikap anti-Bolshevik. Rockhill menulis bahwa “jauh dari sosok revolusioner Marxis, mereka justru secara oportunis melebur dalam tatanan borjuis sekaligus dekat dan mencari dukungan dari kelas kapitalis dan negara-negara imperialis garis depan.” Setelah menyelamatkan diri dari Hitler, mereka pindah dari Jerman ke Amerika Serikat pada tahun 1933, di mana banyak dari mereka kemudian bekerja untuk pemerintah Amerika Serikat, termasuk di badan intelijen dan lembaga-lembaga propaganda. Pengabdian mereka ini kemudian membantu sebagian dari mereka mendapat posisi akademik elit di Amerika Serikat pasca-perang. Pada tahun 1949-1950, Mazhab Frankfurt pulang kampung ke Jerman Barat, tempat mereka bekerja dengan relatif nyaman di bawah rezim konservatif dan antikomunis Konrad Adenauer—yang nyaris tidak menggubris janji-janji mereka tahun 1945 untuk melakukan denazifikasi di Jerman Barat.”
Pembahasan yang mungkin paling menarik bagi pembaca Amerika Serikat adalah kisah tentang Herbert Marcuse. pemikir Mazhab Frankfurt paling terkenal sekaligus simbol dari Kiri Baru (New Left), yang dikenal luas sebagai mentor Angela Davis. Rockhill menjulukinya sebagai “Peniup Seruling Radikal Marxisme Barat.” Dalam wawancaranya dengan Michael Yates dari Monthly Review, Rockhill berkata:
Harus saya akui, saya cukup terkejut ketika pertama kali menyusun penelitian yang, seiring berjalan waktu, menjadi bab terakhir buku ini. Dengan membaca sejumlah karya ilmiah yang sangat bagus dalam bahasa Jerman, menelaah berkas-berkas FBI Marcuse yang super tebal, memeriksa arsip Departemen Luar Negeri dan CIA, dan melakukan riset di Rockefeller Archive Center, saya melihat dengan sangat jelas bahwa Marcuse bersikap tidak jujur dalam wawancara-wawancaranya ketika ia ditanya keterlibatannya dengan Amerika Serikat. Faktanya, ia secara rutin berkolaborasi dengan CIA, dan Tim Müller mengungkap bahwa Marcuse terlibat dalam setidaknya dua National Security Estimates—tingkat tertinggi dari produk intelelijen Amerika Serikat. Kolaborasinya dengan aparatus keamanan nasional Amerika Serikat sama sekali belum berakhir ketika ia mendapat posisi sebagai dosen universitas. Sebaliknya, sampai akhir hidupnya, ia terus menjalin hubungan dekat dengan para aparat negara, baik yang aktif atau yang sudah pensiun. Ia juga intelektual garis depan dalam Proyek Marxisme-Leninisme milik Rockefeller Foundation, di mana ia bekerja dengan sangat erat dengan teman dekatnya, Philip Mosely, seorang penasihat tingkat tinggi CIA yang menjabat dalam waktu cukup panjang. Proyek transatlantik yang didanai sangat besar ini punya misi ekplisit untuk mempromosikan Marxisme Barat ke seluruh dunia sebagai tandingan sekaligus penantang Marxisme-Leninisme.[12]
Dalam bagian ketiga berjudul “Kesimpulan: Marxisme Imperial versus Marxisme Anti-Imperial, atau Bahaya Marxisme Barat”, Rockhill berargumen bahwa kaum Marxis Barat telah memberi konstribusi besar dalam mempromosikan satu versi Marxisme yang sama sekali tidak bertentangan, dan bahkan selaras, dengan kapitalisme dan imperialisme.
Untuk mendukung analisis teoritisnya, Rockhill bertumpu pada literatur yang kini cukup melimpah dan membahas topik yang kurang lebih sama dengan buku Saunders,[13] dan yang tak kalah penting, juga dari hasil riset arsip yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun. Saya jarang memuji seorang penulis karena catatan kakinya, tetapi dalam hal ini, catatan kaki yang kaya tidak hanya memperkuat argumen Rockhill, tetapi juga menjadi panduan yang sangat penting untuk bacaan lanjutan.
Buku ini memuat lampiran setebal 56 halaman yang menakjubkan, yang memuat berbagai dokumen penting, salah satunya adalah faksimile memorandum dari Psychological Strategy Board bertanggal 16 Mei 1952. Dibentuk tahun 1951, dewan ini bertugas mengoordinasikan operasi perang psikologis yang dijalankan oleh CIA, Departemen Luar Negeri, dinas-dinas militer, dan lembaga pemerintah lainnya. Memorandum tersebut berjudul “Ideological Warfare” alias Perang Ideologis. Isinya menyerukan “serangan terhadap ideologi Komunis yang dirumuskan dalam istilah Marxis”, “serangan terhadap kemerosotan Stalinis atas pemikiran Marx—sekali lagi dalam istilah Marxis, tetapi dengan asumsi bahwa premis-premis dasarnya benar”, sekaligus “pembelaan terhadap masyarakat Barat dalam istilah Marxis.” Rockhill menunjukkan bahwa inilah tepatnya yang dilakukan oleh Marxisme Barat—
yaitu Marxisme antikomunis—dan oleh Mazhab Frankfurt.
Gabriel Rockhill adalah Profesor Filsafat di Universitas Vilanova. Ia mendapat gelar doktor di Universitas Paris 8 dan Universitas Emory. Sebagai akademisi yang namanya telah mapan, ia telah menerbitkan berbagai karya di banyak media dan penerbit, baik di Amerika Serikat atau Prancis. Ia juga penyunting edisi bahasa Inggris buku karya Domenico Losurdo, Western Marxism: How It Was Born, How It Died, How It Can Be Reborn (2017), yang juga diterbitkan Monthly Review Press.
Kesimpulan
Secara umum, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang jernih dan meyakinkan. Namun, jika ada satu kekurangan kecil, penulis terkadang tergelincir dalam bahasa akademik yang agak kaku. Meski begitu, kekurangan ini tertutup oleh kontribusi politik yang sangat besar dari buku ini. Karya ini telah memperkaya pemahaman Marxis-Leninis tentang imperialisme dengan mengungkap banyak materi baru tentang bagaimana imperialisme Amerika Serikat secara nyata melancarkan perang ideologi dan psikologis terhadap kiri komunis dan negara-negara sosialis selama Perang Dingin, 1945-1991. Imperialisme pada akhirnya memang memenangkan sebagian besar dari Perang Dingin. Namun, Perang Dingin baru telah dimulai. Para pejuang sosialisme sejati harus belajar dari pengalaman pahit selama Perang Dingin sebelumnya agar, di kesempatan selanjutnya, imperialisme dapat kita kalahkan dan hasil yang berbeda sekaligus lebih baik dapat kita wujudkan. Karya Profesor Rockhill ini adalah sumbangan sangat besar untuk tujuan tersebut.
[1] Buku ini merupakan jilid pertama dari sebuah trilogi. Jilid-jilid berikutnya yang akan terbit adalah Jilid II French Theory Made in the USA dan Jilid III Radical Theory’s Infantile Disorder.
[2] Who Paid the Piper? The CIA and the Cultural Cold War karya Frances Stonor Saunders. (London: Granta Publications, 1999, 509 halaman). Ketika edisi Amerika dari buku Saunders terbit, seorang pengulas di New York Times tampaknya menganggap judul edisi Inggris tersebut ofensif. Ia menulis: “Keterkaitan CIA bukanlah kisah baru; cerita ini pertama kali diungkap tahun 1967 dan kemudian diperkaya dalam banyak buku dan artikel. Kini, Frances Stonor Saunders, seorang penulis dan sutradara muda asal Inggris, kembali menyajikan kisah tersebut. Dengan bijak, penerbit Amerika-nya telah mengganti judul Inggris di atas dan memilih judul yang lebih netral, Cultural Cold War.”(New York Times, 23 April 2000).
[3] Who Paid the Pipers of Western Marxism? (WPPWM?) p. 151.
[4] Ibid, p.39
[5] Ibid, p.47
[6] Ibid, p.49
[8] An Insider Critique of the Imperial Theory Industry: Gabriel Rockhill Interviewed by Michael Yates,” MRonline. November 25, 2025
[9] WPPWM? p. 118.
[10] Ibid, p.121
[11] Ibid, p. 147
[12] “An Insider Critique of the Imperial Theory Industry: Wawancara Gabriel Rockhill oleh Michael Yates,” MRonline, 21 November 2025.
[13] Misalnya, buku Hugh Wilford, The Mighty Wurlitzer: How the CIA Played America (2008); serta karya Tim Müller, Krieger und Gelehrte (Warriors and Scholars) (2011).
