Menyusuri Jejak Zola dan Cézanne di Aix-En-Provence (II)

 Aventures Textuelles: Antara L’Œuvre, Cézanne, dan Zola

I

Pencarian jejak saya akan Zola dan Cézanne tidak berakhir di Tholonet. Secara kebetulan, semester lalu saya harus kembali menemui mereka, namun kali ini dalam lembar-lembar teks. Cerita ini dimulai dari satu mata kuliah bernama Aventures Textuelles, atau yang kalau diterjemahkan secara harfiah: “Petualangan Teks”.

Secara singkat, mata kuliah ini menugaskan kita untuk meneliti perubahan-perubahan teks sastra sejak pertama ia diterbitkan hingga edisi paling anyar. Latar belakangnya, sebuah buku bisa saja mengalami perubahan bentuk pada setiap terbitannya. Perubahan tersebut misalnya bisa berupa perubahan sampul, penambahan kata pengantar, catatan kaki, epilog, lampiran surat, atau bahkan perubahan isi cerita. Mata kuliah ini menugaskan kita untuk meneliti latar belakang apa yang mendasari perubahan tersebut dan dampak apa yang muncul darinya.

Saat itu, saya menulis sebuah esai tentang novel L’Œuvre (1886) karya Émile Zola dan kaitannya dengan legenda persahabatan Zola dan Cézanne. Singkat cerita, novel ini hingga sekarang dipercaya banyak orang sebagai penyebab hancurnya persahabatan kedua maestro tersebut. Padahal, keduanya telah saling mengenal selama lebih dari 40 tahun. Pertanyaannya, benarkah mitos itu?

L’Œuvre bercerita tentang sejarah perkembangan dunia seni lukis Prancis pada paruh kedua abad 19. Kisah ini diceritakan melalui cerita persahabatan dua tokoh utama, Claude Lantier dan Pierre Sandoz. Claude adalah pelukis jenius, penuh talenta, sekaligus ambisius, sedangkan Pierre adalah penulis yang terobsesi menemukan sintesis antara sastra dengan sains. Keduanya bersahabat sejak kecil di Plassane—kota fiktif yang dianggap representasi dari Aix-En-Provence.

Persahabatan mereka terus berlanjut hingga pada periode 1860-an keduanya mengadu nasib di Paris. Di jantung negeri Prancis itu, Claude bergabung dengan satu kelompok pelukis yang tengah memperkenalkan sebuah aliran seni lukis baru bernama impresionisme. Adapun, Sandoz mulai mengerjakan novel-novelnya sekaligus menjadi kritikus seni.

Selama karirnya, Claude sering menjadi pelukis yang disalahpahami. Karya-karyanya ditolak berkali-kali untuk ditampilkan di Salon. Akan tetapi, Claude tetap yakin bahwa ia bisa melukis sebuah mahakarya seni yang luar biasa, yaitu sebuah masterpiece yang terinspirasi dari pose telanjang istrinya. Sayangnya, Claude tidak pernah bisa menyelesaikan karya tersebut. Obsesinya yang menggebu justru memunculkan perasaan cemas dan inferioritas yang melemparnya ke jurang depresi. Di akhir novel, Claude Lantier akhirnya menggantung diri di depan lukisan telanjang istrinya yang tak pernah selesai.

Kisah kegagalan Claude Lantier tersebut kemudian menimbulkan polemik atas novel L’Œuvre. Sebabnya, banyak yang menganggap Claude Lantier adalah representasi Cézanne sedangkan Pierre Sandoz adalah representasi Zola. Kematian Claude di akhir cerita dianggap sebagai olok-olok sekaligus bukti pengkhianatan Zola pada sahabat masa kecilnya.

Tak selesai sampai di situ, banyak orang yang percaya bahwa sejak novel ini terbit, persahabatan Zola dan Cézanne telah remuk sepenuhnya. Keduanya tak pernah bertemu, bahkan berhenti berkorespondensi. Padahal sebelumnya, kemesraan keduanya seperti dua manusia yang saling melengkapi. Zola yang logis, melengkapi Cézanne yang melankolis. Zola yang penyabar, melengkapi Cézanne yang emosional. Keduanya disatukan oleh dua hal: kenangan masa kecil dan kecintaan sedalam laut pada seni. 

Atas dasar latar belakang tersebut, saya kemudian menulis esai yang berusaha menelusuri keterkaitan novel L’Œuvre dengan mitos retaknya persahabatan Zola dan Cézanne. Petualangan teks ini saya lakukan dengan meneliti satu manuscrit preparation—manuskrip persiapan novel—dan dua terbitan modern novel L’Œuvre.

Manuscrit preparation adalah dokumen yang masih berupa tulisan tangan dan berisi rancangan isi novel. Dalam manuskrip ini, terdapat banyak informasi yang belum tentu bisa kita temukan dalam edisi novel. Dokumen yang ditulis tahun 1885—setahun sebelum novel terbit— ini memuat rancangan cerita per bab, penjelasan detil karakter, latar belakang tokoh, penjabaran lokasi cerita, bahkan menyinggung hal-hal detil seperti musik, lukisan, atau potret apa saja yang hadir dalam novel. Manuskrip ini sampai sekarang masih dirawat dengan baik di BNF (Perpustakaan Nasional Prancis), bahkan bisa diakses 24 jam via daring. 


Sementara untuk edisi terbitan modern, saya memfokuskan penelitian pada novel terbitan 1996 edisi Livre du Poche dan terbitan 2016 edisi Gallimard. Perbedaan dari kedua terbitan ini terutama terletak pada kata pengantar yang ditulis dua orang berbeda. Mukadimah edisi 1996 ditulis Marie-Ange Voisin-Fougière, profesor Sastra Prancis Orleans University. Sementara yang kedua ditulis Bruno Foucart, profesor sastra Université Paris Sorbonne IV. Edisi Gallimard juga dilengkapi catatan penutup yang ditulis Henri Mitterand, professor Université Paris Nouvelle Sorbonne yang dikenal sebagai ahli karya-karya Zola paling tekun di Prancis. Yang menarik, ketiga peneliti sastra ini sama-sama membahas polemik novel L’Œuvre terkait hubungannya dengan mitos persahabatan remuk tersebut.

II

Polemik atas novel L’Œuvre telah lama menjadi perdebatan para cendekiawan. Salah satu yang paling sering dikutip adalah pendapat John Rewald, seorang peneliti karya-karya Cézanne, yang dalam pengantar buku La correspondence de Cézanne (1937) menegaskan bahwa L’Œuvremembuat Cézanne tak pernah sudi lagi menemui Zola. Argumen Rewald terutama didukung oleh selembar surat yang dipercaya sebagai surat terakhir korespondensi antara keduanya. Surat tertanggal 4 April 1886 ini tertulis seperti berikut:


Je viens de recevoir L’Œuvre que tu as bien voulu m’adresser. Je remercie l’auteur des Rougon-Macquart de ce bon témoignage de souvenir, et je lui demande de me permettre de lui serrer la main en songeant aux anciennes années.

Tout à toi sous l’impression des temps écoulés.

Paul Cezanne

À Gardanne, arrondissement d’Aix (Cézanne, 1886, cité dans Pagès, 2016)

Aku baru saja menerima L’Œuvre yang kau kirim padaku. Terima kasih untuk penulis Rougond-Macquart atas tanda pengenang inidan izinkan aku menjabat tangan sambil menengok kembali ke masa lalu.

Untukmu, bersama waktu yang terus mengalir.

Paul Cezanne

Gardanne, Aix-En-Provence


Menurut Rewald, surat di atas adalah lettre d’adieu—surat perpisahan—yang menyiratkan kekecewaan mendalam Cézanne pada Zola. Ia misalnya menggarisbawahi sebutan “L’auteur des Rougond-Macquart” alih-alih “Émile” atau “Zola” untuk menyebut nama sahabatnya. Pemilihan diksi itu bagi Rewald tak cuma menunjukkan nuansa yang dingin, tapi sekaligus menunjukkan bahwa Cézanne telah mengambil jarak dari Zola.

Pendapat Rewald juga didukung oleh Pierre Daix, penulis buku Pour une histoire culturelle de l’art moderne (1971)—Sejarah Seni Modern—yang mendakwa L’Œuvre sebagai “bukti kerabunan Zola terhadap talenta dan kejeniusan Cézanne”. Bernard Fauconnier, penulis buku biografi Cézanne (2006), juga menulis bahwa sejak awal persahabatan mereka, Zola tak pernah paham seni lukis dan terutama potensi Cézanne. Bagi Fauconnier, Zola tak lebih dari seorang oportunis yang berteman dengan Cézanne demi mendekati Manet, pelukis impresionis lainnya. Marcelin Pleynet, penulis biografi Cézanne marginal (2006), bahkan mendakwa Zola dengan lebih agresif. Menurutnya, Zola adalah teman yang justru menghancurkan Cézanne physiquement et socialement—secara fisik maupun sosial. Bagi Pleynet, L’Œuvre adalah karya yang mendiskreditkan segala pencapaian artistik Cézanne.

Namun berkebalikan dengan para Cézaniennes di atas, para pengkaji karya-karya Zola justru mempercayai hal yang sebaliknya. Bagi mereka, mitos persahabatan remuk ini tak lebih dari sekadar sensasi tanpa cukup bukti. 

Esai yang ditulis Marie-Ange Voisin-Fougière dalam pengantar edisi Livre du poche, misalnya, merujuk kembali pada dokumen manuskrip persiapan. Dalam manuskrip tersebut, terdapat petunjuk bahwa tokoh Claude Lantier tak hanya terinspirasi dari Paul Cézanne tetapi juga Claude Manet. Ia merujuk pada kalimat yang terdapat pada manuskrip halaman 265, bahwa Claude Lantier terinspirasi dari “Un Manet, un Cézanne dramatisé; plus près de Cézanne”, “Seorang Manet, seorang Cézanne yang didramatisir; namun lebih dekat ke Cézanne”.

Kita memang bisa menebak bahwa dari Cézanne, Zola mengingat masa kecil mereka di Aix-En-Provence, yang ia hadirkan dalam cerita Claude dan Sandoz di Plassane. Ia juga meminjam karakter Cézanne yang introvert tetapi juga jenius dan obsesional. Sementara dari Manet, Zola mengambil kisah lukisan kontroversial Dejeuner sur l’herbe. Dalam kehidupan nyata, Dejeuner sur l’herbe adalah lukisan bergambar dua orang lelaki berjas hitam tengah berpiknik bersama seorang perempuan berpakaian minim dan seorang perempuan telanjang. Pada tahun 1863, karya ini bikin geger dan menjadi skandal karena dianggap mesum dan vulgar. Dalam L’Œuvre, Zola menghadirkan lukisan Plein air dengan deskripsi yang nyaris sama, di mana lukisan ini menjadi penanda kejeniusan sekaligus sifat eksentrik Claude Lantier. 

Le Déjeuner sur l'herbe — Wikipédia

Secara lebih jauh, Fougière menambahkan bahwa  Claude bahkan terinspirasi dari lebih banyak tokoh pelukis, seperti Jules Holtzapfel dan Johan Jongkind. Dari Jules Holtzapfel, Zola mengingat kisah pelukis yang bunuh diri setelah karyanya ditolak Salon. Dari Jongkind, Zola menciptakan Claude Lantier yang begitu mencintai Paris dan Eiffel.

Tak hanya itu, Claude Lantier bahkan terinspirasi dari tokoh-tokoh pelukis fiktif yang pernah ada sebelumnya. Misalnya tokoh Frenhofer, pelukis tua setengah gila yang bunuh diri di cerpen Le Chef d’œuvre d’inconnu (1931) karya Balzac (Cerpen ini diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Andreas Nova dan diterbitkan Diva Press dengan judul Mahakarya tak Dikenal), juga tokoh Coriolis, pelukis dalam novel Manette Salomon (1867) karya Goncourt yang tiba-tiba kehilangan sensibilitas akan warna.

Merujuk kembali pada dokumen manuskrip, Fougière mengatakan bahwa Claude Lantier sebenarnya adalah representasi dari Zola sendiri. Ia membangun argumennya berdasarkan kutipan di bawah ini:

« Avec Claude Lantier je veux prendre la lutte d’artiste contre la nature, l’effort de création dans l’œuvre d’art, effort de sang et de larmes pour donner sa chair, faire de la vie toujours en bataille avec le vrai et toujours vaincu, la lutte contre l’ange. En un mot j’y raconterai ma vie intime de production, ce perpétuel accouchement si douloureux » (Zola, 1885 : 262).

Dengan Claude Lantier, aku ingin mengambil kisah perjuangan seorang seniman melawan dirinya sendiri, dayanya dalam mencipta, darah dan air mata yang bercucuran, dengan hidup yang tak pernah jauh dari medan perang melawan kecemasannya sendiri—dan ia selalu menang. Singkatnya, aku akan menceritakan kisahku sendiri dalam proses mencipta yang penuh penderitaan. (Zola, 1885 : 262).

Merujuk paragraf di atas, menurut Fougière, kalimat “ aku akan menceritakan kisahku sendiri dalam proses mencipta yang penuh penderitaan»  adalah gambaran kehidupan Zola yang selalu dihantui kecemasan sebagai seorang penulis. Jika kita seorang yang rutin berkarya, entah penulis, musisi, pelukis, atau pekerjaan-pekerjaan seni lainnya, tentu kita paham akan hal ini: ketakutan bahwa di masa depan tak bisa menghasilkan karya yang lebih baik adalah sebuah kesengsaraan.

Beban dan sakit seperti itulah yang Zola rasakan saat ia takut tak bisa lagi menulis novel sebaik L’assommoir atau selaris Nana.

Maka merujuk kembali pada L’Œuvre, perjuangan Claude Lantier untuk menyelesaikan lukisannya—meski berakhir dengan mati— adalah gambaran kecemasan Zola yang membuatnya bahkan sampai memampang besar-besar tulisan di rumahnya  “Nulla dies sinea linea”, “Tak ada satu haripun tanpa sebaris tulisan”—Sebuah frasa yang ia yakin bisa membuatnya tetap menulis, entah dengan hasil seburuk apapun. 

III

Sementara itu, Bruno Foucart dalam pengantar untuk edisi Gallimard menulis pendapatnya dengan mengajak kita memahami kembali aliran naturalisme Zola. Ia pertama-tama menjelaskan bahwa novel-novel Zola memang ditulis dengan pendekatan historis yang teliti. Untuk menulis L’Œuvre, misalnya, Zola melakukan observasi panjang terhadap dunia seni lukis Prancis abad 19. Ia mempelajari teknik-teknik pelukisan, hubungan seni lukis dengan politik, kehidupan personal pelukis-pelukis besar, bahkan terjun langsung menjadi kritikus seni lukis. Observasi itulah yang membuat banyak fragmen dalam novel L’Œuvre sangat mirip dengan kejadian di dunia nyata. Meskipun demikian, kehidupan yang terjadi di dalam novel, adalah kehidupan dalam universe berbeda. Jika L’Œuvre dianggap un roman historique—novel sejarah—ia tetap tak bisa menjadi un livre d’histoire—buku sejarah. Dengan demikian, karya ini tak bisa dianggap sebagai roman à clef atau novel biografis yang seolah harus mempertanggung jawabkan isi novel tepat seperti kehidupan nyata. Bagi Foucart, membaca L’Œuvre sebagai buku sejarah justru akan menjadi pembacaan yang memaksakan sekaligus keliru sejak awal.

Kedua, naturalisme Zola berpijak pada prinsip determinisme. Prinsip ini percaya bahwa manusia tak bisa lepas dari des forces invisibles—kekuatan-kekuatan tak nampak—yang membentuk manusia, terutama dari faktor-faktor garis keturunan.  Prinsip ini ia uraikan dalam 20 novel Rougond-Macquart yang semua tokoh utamanya adalah keturunan Adélaïde Fouque—tokoh dalam novel La fortune des rougon (1871), seri pertama Rougond-Macquart—yang secara turun-temurun memiliki kelainan psikologis yang disebut fêlure.

Fêlure sendiri adalah sebuah istilah psychopisiologi yang berarti « lobang ». Ia seperti lobang dalam jiwa yang bisa membuat penderitanya secara tiba-tiba merasa kosong. Perasaan kosong ini kemudian akan terisi dengan gejala yang ganjil, yaitu obsesi pada kematian. Obsesi pada kematian inilah yang menjadi benang merah antar tokoh-tokoh dalam Rougond-Macquart, yang biasanya termanifestasikan dalam hasrat ingin membunuh—entah orang lain atau dirinya sendiri. Berdasarkan penjelasan tersebut, Foucart menyimpulkan bahwa kematian Claude Lantier dalam novel L’Œuvre tidak disebabkan oleh kebencian Zola pada Cézanne, melainkan oleh konsep fêlure tersebut.

Terakhir, Henri Mitterand dalam catatan penutupnya untuk edisi Gallimard menuliskan satu argumen yang mengejutkan. Ia dengan yakin menyatakan bahwa persahabatan Zola dan Cézanne belum berakhir pada tahun 1886. Argumennya tersebut merujuk pada surat tertanggal 28 November 1887 yang ditulis Cézanne untuk Zola. Surat ini ternyata adalah surat lain yang baru ditemukan pada 2013 lalu. Adapun isi surat tersebut adalah sebagai berikut:


Paris, 28 Novembre 1887

Mon cher Émile, 

Je viens de recevoir de retour d’Aix le volume La Terre, que tu as bien voulu m’adresser. Je te remercie pour l’envoi de ce nouveau rameau poussé sur l’arbre généalogique des Rougon-Macquart. 

Je te remercie d’accepter mes remerciements et mes plus sincères salutations.

Paul Cézanne

Quand tu seras de retour j’irai te voir pour te serrer la main


Paris, 28 November 1987

Émile, Sahabatku

Aku baru saja menerima novel La Terre yang kau kirim padaku ke Aix. Terima kasih telah mengirim cabang baru yang tumbuh dari pohon Les Rougon-Macquart.

Terimalah ucapan terima kasih dan salam terhangatku.

 

Paul Cézanne,

Saat kau pulang nanti, aku akan menjabat tanganmu.

Surat di atas, ditulis Cézanne sebagai ucapan terima kasih atas dikirimnya novel La Terre (1887) oleh Zola. Dalam surat ini Cézanne tak hanya menulis dengan nada yang jauh lebih tentram dari surat sebelumnya, tapi bahkan mengajak Zola untuk berjumpa. Sampai hari ini kita memang belum tahu apakah pasca surat itu keduanya kembali bersapa. Yang jelas, surat ini telah membuka babak baru yang mematahkan mitos L’Œuvresebagai biang remuknya persahabatan dua legenda.

Pertanyaannya, benarkah persahabatan mereka langgeng sampai akhir hayat?

Tentu saja, kita tak bisa yakin 100 persen untuk menyimpulkannya. Sebab, aventures textuelles terus berkembang. Ia tak pernah selesai, dan terus menuntut kita untuk menemukan teks-teks baru. 

Bibliographies

Jean, Raymond. (1994). Cézanne et Zola se rencontrent. Actes Sud : Paris

Michel, Pascal. (2018). L’Œuvre : Appareil Pédagogique. Magnard : Paris

Mitterand, Henri (2015). Zola et Le Naturalisme. Presses Universitaires de France : Paris

Zola, Émile. (1885). Premier Manuscrits de L’Œuvre. Édition Gallimard : Paris

Zola, Émile. (1886). Dossier Préparatoire de L’Œuvre. Édition Gallimard : Paris

Zola, Émile. (1886). L’Œuvre, L´édition originale. Lib. Charpentier : Paris

Zola, Émile. (1996). L’Œuvre. Édition Marie-Ange Voisin-Fougère : Paris

Zola, Émile. (2016). L’Œuvre. Édition Gallimard : Paris

Internet 

Pagès, Alain. (2016). Cézanne et Zola, la fin d’une amitié ? sur http://www.societe-cezanne.fr/2016/07/09/cezanne-et-zola-la-fin-dune-amitie/ diakses 20 November 2019

Chedeville, Francois. (2016). Une fraternité d’artistes : Les lettres croiséses de Cézanne et de Zola (Henri Mitterand), sur http://www.societe-cezanne.fr/2016/12/07/une-fraternite-dartistes-les-lettres-croisees-de-cezanne-et-de-zola-henri-mitterand/ diakses 20 November 2019

Borély, Jules, (2013). Cézanne et Zola à Aix-En-Provence. sur https://www.terresdecrivains.com/Emile-ZOLA-a-Aix-en-Provence diakses 20 November 2019

Kennedy, Barbara Noe (2017). How Provence changed the world of Art. sur http://www.bbc.com/travel/story/20170717-how-provence-changed-the-world-of-art diakses 20 November 2019

Menyusuri Jejak Zola dan Cézanne di Aix-En-Provence (I)


Aventures Randonnées: Jejak Masa Kecil Zola dan Cézanne di Tholonet

I

Émile Zola (1840-1902) pernah tinggal di Aix-En-Provence selama 15 tahun. Sebelum dikenal sebagai peletak dasar aliran sastra naturalisme, Zola kecil tinggal di Rue Silvacanne, jalan yang sama dengan alamat kos saya sekarang.

Jika Anda belum mengenal Zola, ia adalah jenis manusia super dengan daya tahan seperti lumut purba. Bayangkan saja. Selama hidupnya, ia berhasil menulis satu seri besar bertajuk Les Rougond-Macquart. Sei ini adalah 20 jilid novel yang bercerita tentang kondisi sosial masyarakat Prancis di bawah le second empire—rezim kekaisaran kedua.

Zola juga sosok yang memperkenalkan aliran sastra naturalisme, yaitu gerakan sastra abad 19 yang percaya bahwa karya sastra harus mampu menggambarkan realitas dunia yang sebenarnya—bukan yang seharusnya. Aliran ini ditandai dengan novel yang ditulis berdasarkan penelitian yang jeli dan akurat. Artinya, novel-novel Zola sangat dekat dengan fakta saintifik maupun fakta historis. Untuk menulis novel-novelnya, Zola melakukan pendekatan multidisiplin dengan mempelajari berbagai pengetahuan, mulai dari sejarah, politik, kimia, biologi, kedokteran, hingga psikologi. Hasil penelitiannya tersebut, kemudian ia tuangkan dalam novel yang ditulis dengan model narasi yang realis, detil, rigid, dan ilmiah.

Jika Anda belum sempat membaca karya-karya Zola, Anda bisa menemukan dengan mudah beberapa novelnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia seperti Germinal, Nana, Thérèse Raquin, Hati Iblis (La Bête humaine), dan The Belly of Paris (Le ventre de Paris). 

Adapun Paul Cézanne (1839-1906) adalah pelukis post-impressioniste yang lahir dan melewatkan hampir seluruh hidupnya di Aix-En-Provence. Ia termasuk anggota kelompok pelukis yang pada periode 1860-an mendobrak dunia seni lukis Prancis dengan memperkenalkan aliran impresionisme. Bersama Claude Monet, Edouard Manet, Camille Pissarro, Gustave Courbet, dan beberapa pelukis lainnya, Cézanne memperkenalkan pada publik model lukisan yang menentang pakem lukisan populer saat itu. Di saat lukisan yang dianggap berselera tinggi adalah lukisan bergaya realis bertema sejarah atau agama, Cézanne dkk justru melukis dengan menjauhi keakuratan sekaligus melukis objek yang keluar dari tema tersebut. Alih-alih melukis tentang kehidupan para raja di istana atau keluhuran Yesus dan malaikat kecil di sekelilingnya, mereka justru menjadikan pemandangan, benda mati, atau figur orang biasa sebagai objeknya. Cézanne misalnya terkenal dengan lukisan-lukisannya tentang gunung (Montagne Saint Victoire), buah-buahan (La corbeille de pommes), atau potret manusia (Portrait d’Émile Zola). Selain itu, pembaharuan mereka juga ditandai dengan gaya lukis yang menitikberatkan pada impresi alih-alih ketepatan bentuk objek. Para pelukis impresionis melukis dengan gerakan kuas yang cepat untuk menangkap secepat mungkin impresi yang ia dapat akan suatu benda.

Di kemudian hari, Cézanne akan menjadi pelukis yang dijuluki Pablo Picasso sebagai Bapak Seni Modern. Betapa kagumnya Picasso pada Cézanne, ia bahkan rela membeli sebuah rumah di Aix-En-Provence yang kelak akan menjadi persinggahan terakhirnya. Kedekatan Cézanne dengan kota inilah yang membuat Aix-En-Provence kini dijuluki La Terre de Cézanne—Tanah Cézanne.

II

Yang tidak banyak orang tahu, kedua legenda ini pernah tinggal dan melewatkan masa kecil bersama di Aix-En-Provence. Mereka duduk di kelas yang sama, bersahabat seperti rumput dan semak, dan di setiap akhir pekan, keduanya hobi keluyuran ke Tholonet—sebuah desa kecil di pinggiran Aix. Di desa inilah, kedua bocah ini kerap menghabiskan hari untuk naik-turun bukit, berburu kelinci, berendam di sungai, lalu mengagumi indahnya Gunung Saint-Victoire.

Berbeda dengan Cézanne yang memang terlahir di Aix-En-Provence, Zola baru datang di kota ini pada tahun 1843. Kala itu usianya baru 3 tahun. Ia mengikuti ayahnya, François Zola, seorang arsitektur kelahiran Italia yang mendapat undangan dari pemerintah Aix untuk membangun sebuah waduk. Adapun waduk ini dibangun untuk mengatasi masalah kekeringan, sanitasi, dan wabah kolera yang menghantam Aix selama satu dasawarsa terakhir. Kelak, waduk rancangan Ayah Zola ini akan mengubah wajah Aix sepenuhnya hingga menjadi Kota Seribu Air Mancur seperti sekarang.

Sepenggal cerita tentang Cézanne dan Zola kecil itu, di kemudian hari membuat saya penasaran untuk menyusuri jejak-jejak mereka. Kesempatan itu akhirnya datang pada pertengahan Oktober lalu—di masa peralihan musim panas menuju gugur—saat saya bersama Danu, Aldrina, dan Perli—tiga teman PPI di Aix—berangkat menuju Tholonet untuk melihat Gunung Saint Victoire sekaligus waduk rancangan Ayah Zola, Le Barrage Zola.

Tholonet adalah desa kecil di kaki gunung Saint Victoire. Selain terkenal dengan gereja abad pertengahan dan kafe-kafe kecilnya, desa ini juga ramai dikunjungi wisatawan yang sebagian besar ingin melakukan randonnée atau trekking seperti kami. Jalur trekking ini membentang mulai dari pintu masuk desa, mendaki bukit selama satu jam sampai padang rumput—dengan latar Gunung Saint Victoire—, dan berakhir di Le Barrage Zola. Saya menyebut trek ini sebagai Jalur Napak Tilas Cézanne dan Zola.

Siang itu, perjalanan kami dimulai dengan menempuh jalan berbatu dan menanjak. Jalur ini sebenarnya cukup gampang saja. Jalanan kering dan tingkat kemiringan tak terlalu terjal. Kami menempuh jalan yang di sampingnya adalah pemandangan Desa Tholonet dengan atap-atap rumah berwarna merah yang dikelilingi bentangan hijau hutan pinus. Tak banyak kesulitan yang kami hadapi, kecuali godaan untuk mengambil foto setiap 200 meter jarak tempuh—bangsa Romawi konon ganas dalam berperang, bangsa Cina ganas dalam berdagang, sedang bangsa Indonesia, saya yakin, ganas dalam berswafoto.

Pemandangan terindah di jalur ini ada ketika kami sampai di padang luas yang tak cuma dihuni semak rumput, pohon olive, dan bunga-bunga liar berkelopak ungu, tetapi juga menghadap langsung ke Saint Victoire, sebuah gunung yang menjadi termasyhur berkat Paul Cézanne.

Siang itu, kami bersandar di bawah pohon Oak, menikmati betapa mempesonanya kaki gunung yang dihidupi ribuan pinus Alep—spesies pinus dengan warna daun hijau muda—, sembari mendengarkan instrumen harmonika Jean de Florette. Diiringi desau angin dan pemandangan Saint Victoire, ingatan saya terbang ke masa saat Cézanne memperkenalkan gunung ini ke mata dunia.

Seumur hidupnya, Cézanne melukis gunung ini sebanyak 87 kali. Kecintaan Cézanne pada gunung ini ia tunjukkan dengan mengabadikan setiap perubahan Saint Victoire yang dipengaruhi oleh musim, intensitas cahaya, warna tanah, hingga vegetasi tumbuhan di atasnya. Semakin sering ia melukis gunung tersebut, semakin ia menjauhi perspektif akurat dari waktu ke waktu. Saint Victoire nampak semakin abstrak dengan bentuk yang semakin jauh dari aslinya.

Cara Cézanne melukis Saint Victoire, kelak akan menginspirasi lahirnya karya seni modern yang menekankan ekspresi kebebasan. Ia turut mempengaruhi lahirnya fauvisme, kubisme, hingga karya seni abstrak abad 20. Kisah tentang Cézanne dan Saint Victoire pula yang membuat Barbara Noe Kennedy, jurnalis BBC, menyebut Saint Victoire sebagai “gunung di Prancis yang mengubah dunia seni”.

Tak jauh dari tempat kami memandang Saint Victoire, terdapat satu waduk yang juga menyimpan cerita tentang hubungan seorang seniman besar dengan sebuah kota. Namun berbanding terbalik dengan Cézanne dan Saint Victoire—yang telah menempatkan nama Aix tinggi-tinggi di mata dunia—waduk ini justru menyembunyikan rahasia kurang elok tentang bagaimana hubungan Émile Zola dan Aix-En-Provence.

Le Barrage Zola dirancang oleh François Zola pada 1843 dan rampung pada 1854. Sayangnya sebelum waduk ini kelar, François dihajar pneumonia dan wafat pada 1847. Kepergian François membuat ekonomi keluarganya empot-empotan. Ia membuat Zola kecil harus bersusah payah bersama Ibunya sampai akhirnya hijrah ke Paris pada 1858.

Kenangan pahit itu kelak akan semakin bertambah saat Aix menamai waduk ini Le Barrage d’Aix-En-Provence. Zola naik pitam. Ia menganggap Aix sengaja menghapus nama ayahnya dari catatan sejarah. Apalagi, waduk ini telah mengubah wajah Aix seutuhnya. Air yang mengalir dari waduk ini tak hanya membuat Aix beres urusan sanitasi dan ledeng. Tapi juga menyulap Aix menjadi La ville de mille fontaine—Kota Seribu Air Mancur—dan membuatnya menjadi kota termahal kedua di Prancis setelah Paris. 

Kelak ketika Zola telah sukses menjadi penulis, ia akan membawa perkara ini ke pengadilan di mana ia akhirnya memenangkan tuntutannya. Sejak itulah, sampai hari ini, waduk ini resmi bernama Le Barrage Zola.

Di Le Barrage Zola, kami makan siang sambil melihat birunya air yang mengalir dari pintu kanal. Ada banyak pengunjung kala itu. Meski demikian, saya tak yakin apakah mereka tahu bahwa waduk ini dibangun oleh ayah dari seorang legenda. Tak ada papan keterangan, tak ada apapun yang memberi kita petunjuk sejarah tentang tempat ini.

Cara Aix mengingat Zola memang berkebalikan dengan caranya mengenang Cézanne. Di saat nama Cézanne terpampang di tiap sudut kota, nama Zola seolah diselipkan dengan sembunyi-sembunyi. Memang, Francois menjadi nama waduk, dan Émile menjadi nama salah satu ruang di perpustakaan kota. Tapi itu tak sebanding dengan Cézanne yang menjadi simbol kota, nama bioskop, kafe, dan sekolah. Patung Cézanne bahkan didirikan tepat di pusat kota.

Namun, setali tiga uang, Zola juga selalu mengenang Aix-En-Provence dengan ungkapan yang meradang:

Magnifique endroit, gens détestables—tempat mengesankan dengan penghuni yang layak dibenci.

Aucune ville n’avait mieux conserve le caractère dévot et aristocratique des anciennes cites provencales—Dalam hal mempertahankan karakter hipokrit dan aristokratik masyarakat provencal abad pertengahan, kota ini tak punya saingan.

Bersambung ….

Di Balik Dapur Restaurant Indonesia, Sepenggal Kisah dari ‘Lintang Utara’


Setelah memastikan memesan seporsi nasi rendang, saya menyapa Ibu penjaga restoran itu, "Ibu asli Indonesia?"

Ia tersenyum lebar dan balik bertanya, “Coba tebak.”

“Emm.. Ibu keturunan campuran Indonesia-Prancis. Tapi didengar dari logatnya, Ibu pasti lahir di Prancis”.

“Bukan. Bapak dan Ibu saya orang Indonesia. Mereka asli Sumatra. Saya lahir di China, tapi besar di Prancis”.

“HAH? Jangan-jangan putrinya Almarhum Sobron Aidit?”

“Perssis”, balasnya dengan desis “ss” yang tebal sebagaimana cara berbicara orang Prancis.

Lalu teman saya, Mbak Anggie, terperanjat dan segera menyahut “Lho, berarti Ibu ini Lintang Utara dong?”

“Haha, ya 20 sampai 30 persen lah”.

Tokoh fiksi adalah tokoh fiksi dan tokoh nyata adalah adalah tokoh nyata. Keduanya hidup dan hadir dalam dunia berbeda, tapi bukan tak mungkin salah satunya menginspirasi.

Saya tentu tahu bahwa ia bukan Lintang Utara. Lintang Utara adalah putri dari Dimas Suryo dan Vivienne Deveroux, tokoh fiksi dalam novel Pulang (2013) karya Leila S Chudori. Sementara ia adalah Wanita “Anita” Putri Pertiwi, putri Almarhum Sobron Aidit—sastrawan Indonesia, adik Almarhum DN Aidit, dan salah satu pendiri Restaurant Indonesia, restoran Indonesia pertama di Paris.

Meski begitu, ada beberapa kisah dalam hidupnya yang saya kira beririsan dengan kisah Lintang Utara. Hal itu sedikit saya pahami setelah hampir 2 jam mendengarkan ia bercerita.

 

Datang

Saya bertemu dengannya di Restaurant Indonesia, Jalan Vaugirard no 12, Paris. Restoran yang berdiri tahun 1981 ini terkenal karena kisahnya sebagai restoran yang didirikan oleh para eksil politik Indonesia dampak tragedi genosida PKI 1965.

Saya datang ke sana bersama Mbak Anggie, Idham, dan Tohir—teman-teman saya yang tinggal di Paris. Sejak mula, kami memang memilih tempat ini karena penasaran, seperti apa bentuk restoran yang menginspirasi novel Pulang ini.

Ketika pertama masuk, nuansa Indonesia di restoran ini sudah begitu kental. Dinding yang dilapisi anyaman bambu, lukisan wayang, peta Indonesia, topeng barong Bali, toples berisi rempah, angklung, alunan musik keroncong, dan tentu saja, bir bintang. Namun, bukan ornamen-ornamen ini yang membuat restoran ini serasa sangat Indonesia, melainkan keramahan Anita yang bisa membuat kami merasa akrab dalam sekejap.

Hari itu, perempuan yang menguasai 7 bahasa ini (Indonesia, Belitong, China, Prancis, Belanda, Inggris, dan Jerman) bercerita banyak sekali hal terutama tentang sejarah restoran, Sobron Aidit, dan sepenggal kisah pribadinya.

Anita pertama kali menginjakkan kaki di Paris saat usianya 17 tahun. Saat itu kemampuan bahasa Prancis-nya kosong mlompong. Sebelumnya, ia lahir dan tinggal di China, mengikuti ayahnya yang menjadi pelarian politik. Sobron, ayahnya, adalah satu dari ribuan diaspora Indonesia yang dicabut kewarganegaraannya oleh Orde Baru karena dianggap bersimpati pada Soekarno. Khusus Sobron, namanya jelas digarismerah tebal-tebal, sebab ia adalah adik dari DN Aidit, ketua committee central PKI.

“Saat tragedi 1965 terjadi, Ayah masih menjadi dosen sastra Indonesia di Beijing. Saat itu, Ayah dikirim Presiden Soekarno untuk menjalankan misi akademis. Jadi, nggak ada itu kepentingan-kepentingan politik. Tapi tetep aja kami nggak boleh pulang”.

Anita lalu bercerita tentang bagaimana ayahnya mendidiknya sejak kecil. Juga bagaimana kecintaan Sobron pada Indonesia meski negara dengan sangat kejam telah merampas haknya, mencerabutnya dari akar.

“Ayah itu selalu menyebut Indonesia dengan Tanah Air” ujarnya sambil menekankan kata Tanah Air. “Tanahh Air!”.

Satu langkah kaki masuk rumah, artinya kami sudah berada di Tanah Air. Harus berbahasa Indonesia, harus belajar budaya Indonesia. Ayah selalu pesan kalau anak cucunya harus tetap tahu akarnya. Tu veux ou tu veux pas—mau nggak mau—ada darah Indonesia dalam tubuhmu”.

“Jadi, anak Ibu sekarang bisa bahasa Indonesia juga dong?”, sambung Idham.

Perssis. Anak saya lancar membaca dan menulis bahasa Indonesia”.

Anita tinggal di China hingga tahun 1981 saat keluarganya harus mencari negara suaka baru. Kata Anita, saat itu pemerintah Soeharto hendak melakukan kerjasama bisnis dengan pemerintah China. Untuk mewujudkan kerjasama tersebut, salah satu syarat yang diajukan rezim Soeharto adalah dikembalikannya para pelarian politik ke Indonesia.

Namun pemerintah China saat itu menolaknya dan memberi solusi pada para eksil untuk memilih dua hal: menjadi warga negara China atau mencari negara suaka baru.

Karena kecintaannya pada Indonesia, Sobron enggan menjadi warga negara China. Dengan bantuan pemerintah China dan kawannya yang tinggal di Paris, Umar Said, ia akhirnya memilih mengajukan suaka ke negeri Prancis.

“Waktu di China, kami itu ditempatkan di satu pemukiman yang isinya orang Indonesia semua. Mungkin ada ratusan orang ya. Karena peristiwa tahun 80-an itu, akhirnya kami terpaksa harus terpisah. Ada yang di Prancis, Belanda, Jerman, dan lain-lain. Yang paling susah itu yang memilih tinggal di Prancis karena pemerintah Prancis hanya kasih jaminan uang dua tahun, setelah itu kami harus urus segala sesuatu sendiri”.

“Lalu begitu sampai Prancis, Pak Sobron langsung bikin Restauran Indonesia?”, tanya kami penuh penasaran.

Tepat di tahun itu pula, Restaurant Indonesia langsung didirikan oleh Sobron dan ketiga temannya sesama eksil. Kata Anitaselain dengan kenekatan restoran ini juga dibangun dengan kerinduan yang begitu besar pada Tanah Air. “Ini kerinduan yang immense—luhur”, ujarnya.

Ia bercerita bahwa mulanya Om-om (begitu ia selalu menyebut para eksil ini) ingin membangun sebuah restoran yang bukan cuma tempat untuk cari duit, tapi juga tempat untuk merasa pulang. Om-om ini rindu suasana rumah, di mana mereka bisa mencium bebauan rempah dan berbagi kisah ngalor-ngidul tentang negerinya.

Pertanyaannya, bagaimana cara membangun restoran tersebut?

Syahdan, Sobron dan Om-om lainnya mulai mengajukan proposal bantuan pada pemerintah Belanda, Prancis, gereja-gereja katolik, dan berbagai lembaga. Tanpa dinyana, permohonan mereka mendapat respons positif dari banyak pihak. Salah satunya dari pemerintah Prancis, yang saat itu dipimpin oleh Francois Mitterand, Presiden Prancis dari Partai Sosialis.

Lucunya, mereka belum juga tahu bagaimana restoran ini akan dijalankan. Anita lalu menceritakan anekdot-anekdot yang membuat kami tertawa ngakak saat mendengarnya.

“Jadi, Om-om ini kan intelektual semua. Ada yang paham sastra, politik, ekonomi, bahkan kedokteran. Mereka orang yang pintar-pintar sekali. Tapi kalau biasanya mereka pegang buku, eh tiba-tiba harus pegang pisau. Terus siapa yang mau masak? Siapa yang urus keuangan? Siapa ketuanya?”.

Akhirnya mereka berembug secara demokratis. Mereka sepakat bahwa Sobron Aidit menjadi koki pertama restoran. Sementara sistem restoran mereka jalankan dengan prinsip sosialis. Tidak ada ketua, tidak ada bawahan, semua anggota setara dan setiap keputusan harus diambil bersama.

“Saking demokratisnya, waktu pertama dapat pelanggan, Om-om ini sampai musyawarah dulu. Bawangnya segini ya? Porsinya segini ya? Setuju ya? Setuju? Setuju? Ok, DEAL!”.

Kami terbahak keras saat mendengar cerita tersebut.

 

“Pulang”


Kalau bukan karena Restaurant Indonesia, barangkali Anita tak akan pernah sadar kalau dirinya “berbeda”.

Sejak lahir hingga tiba di Paris, ia selalu percaya bahwa ia orang Indonesia. Di saat kebanyakan anak kecil mendengar cerita Putri Salju atau Pangeran Katak sebagai dongeng pengantar tidur, ayahnya justru lebih kerap bercerita tentang keindahan tanah lahirnya. Tentang laut-laut berpasir putih di Belitong, tentang rimba di Kalimantan, tentang kayanya adat istiadat di Bali.

Ia juga selalu percaya kalau semua orang Indonesia ramah dan cerdas. Ia mempelajari itu dari Om-om yang sering berkunjung ke rumahnya. Kata Anita, Om-om ini ada yang ahli arsitek, ahli senjata, fisikawan, sosiolog, bahkan pakar bom atom. Dan kalau mereka sudah ngobrol dengan ayahnya, Om-om ini bisa betah duduk dari sore sampai pagi.

Tapi pengalaman hidup di Paris membuatnya sadar bahwa imajinya tentang orang Indonesia tak selalu tepat.

Pada awal berdirinya Restaurant Indonesia, Anita melihat bahwa ayahnya seringkali mendapat telfon dari orang Indonesia yang berisi perintah dan ancaman untuk menutup usahanya. Peristiwa itu membuat ia mulai bertanya-tanya, kenapa ada orang Indonesia tapi tak suka dengan Restaurant Indonesia?

Ia juga mulai mendengar cerita tentang dilarangnya orang-orang Kedubes untuk makan di sini. Konon, di dinding Kedubes Paris pada masa itu, terpampang papan besar-besar yang berisi larangan bagi para staf untuk makan di Restoran Indonesia. Barang siapa yang ketahuan makan di sini, konsekuensinya akan masuk daftar hitam.

Tak jarang pula ia berpapasan dengan sesama orang Indonesia yang tengah berlibur di Paris. Namun pertemuan itu justru lebih kerap membuatnya masygul.

“Kalau bertemu orang Indonesia dan ditanya orang mana, saya selalu bilang saya orang Indonesia. Tapi mereka selalu balas, orang Indonesia kok logatnya aneh? Pasti bukan orang Indonesia ya?”.

Dari situlah ia mulai mempertanyakan jati dirinya. Ia juga mencari tahu tentang sejarah hidup ayah dan sahabat-sahabatnya. Ia pun mulai menyadari bahwa Om-om yang selama ini ia kenal adalah satu generasi intelektual Indonesia yang hilang. Hampir semua Om-om ini dulunya dikirim Soekarno untuk mendapat beasiswa di luar negeri. Di era sekarang, mereka persis seperti mahasiswa LPDP yang harus belajar lalu pulang. Namun karena genosida politik yang kejam, mereka tak pernah mendapat kesempatan untuk mengabdi.

Dahulu, Om-om yang ia sebut sebagai “generasi nostalgie” ini hampir saban hari datang ke restoran untuk saling merawat ingatan.

“Biasanya mereka ngomongin politik. Dulu kadang ada tamu yang kasih majalah Kompas atau Tempo. Kalau ada majalah itu, mereka akan fotokopi satu-persatu. Kadang mereka juga cerita tentang masa lalunya. Sedihnya, Om-om ini banyak yang waktu berangkat masih punya pacar di Indonesia, tapi akhirnya nggak pernah bisa ketemu lagi dan ditinggal menikah”.

Waktu mendengar bagian tersebut, saya langsung mengaduh sambil memukul-mukul paha secara tak sadar. Getir nian nasib mereka. Di samping saya, Tohir bahkan sampai melepas kacamatanya dan menyeka pelupuk mata.

Dalam novel Pulang, Leila S Chudori menghadirkan tokoh Lintang Utara sebagai remaja yang selalu bertanya-tanya tentang identitasnya. Kegamangan identitas inilah yang saya kira Leila ambil dari kisah Anita. Keinginan Lintang yang begitu besar untuk melihat langsung tanah airnya, juga persis seperti keinginan Anita. Anita sendiri baru bisa pergi ke Indonesia pada tahun 1993 saat keluarganya sudah memutuskan menjadi warga negara Prancis.

Pada kunjungan pertama ini, mereka datang secara sembunyi-sembunyi. Terutama Sobron yang sudah mengganti nama menjadi Simon. Kami sempat bertanya apakah mereka mengunjungi rumah sahabat ayahnya seperti sastrawan Rivai Apin atau Pramoedya Ananta Toer. Tapi kata Anita, ayahnya tak berani ke sana meski rindunya setengah mati.

“Kalau Ayah ke sana, kasihan teman-temannya. Nanti mereka yang diincar intel. Ayah selalu bilang, nggak masalah kalau Ayah yang mati, tapi jangan sampai teman-temannya. Apalagi waktu itu, ada orang yang langgam-langgamnya selalu mengikuti kami”.

Kunjungan ini pada akhirnya menginspirasi Sobron untuk menulis sebuah cerpen berjudul Intel. Sedangkan bagi Anita, kunjungan ini seolah menjadi bukti, bahwa Indonesia mungkin tak akan pernah bisa menjadi tempat sepenuhnya untuk pulang.


Rumah

Pada tahun 2000, Gus Dur mengeluarkan Inpres Nomor 1 Tahun 2000 yang berisi imbauan pada para eksil untuk pulang ke Indonesia dan negara akan bertanggungjawab untuk merehabilitasi nama mereka.

Sejak saat itu Sobron dan Anita jadi lebih kerap berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 2006, Sobron bahkan diundang untuk bercerita tentang pengalamannya menjadi eksil oleh Kick Andy—sayangnya saya tidak bisa menemukan video tersebut di Youtube. Beberapa hari sebelum siaran itu, ia sempat menjenguk sahabatnya, Pramoedya Ananta Toer. Pertemuan itu menjadi perjumpaan terakhir dua sastrawan ini sebab Pram wafat tahun itu juga dan Sobron wafat setahun setelahnya.

Sejak runtuhnya Orde Baru pula, makin banyak orang Indonesia yang bebas berkunjung ke restoran. Gus Dur bahkan sudah tiga kali bersantap di sini. Anita selalu mengenang Gus Dur sebagai satu dari tiga tokoh besar dunia yang kerap berkunjung ke restorannya.

“Saya sangat suka Gus Dur karena langgam-langgamnya Gus Dur itu nggak seperti Presiden. Beliau seperti kalian saja, banyak bercerita dan tertawanya keras-keras. Selain Gus Dur, Francois Mittérand juga beberapa kali makan di sini. Lalu ada Xanana Gusmao. Xanana bahkan pernah tinggal di sini selama beberapa bulan. Dia tinggal di lantai bawah, itu di ruangan sebelah toilet”.

Citra restoran ini sebagai restoran terlarang perlahan juga mulai usang. Kini, orang justru mengenal Restaurant Indonesia sebagai salah satu tempat paling berjasa yang memperkenalkan budaya Indonesia di Prancis.

Saat berada di sana, saya bahkan melihat stiker berlogo “Wonderful Indonesia” yang dipajang di kaca pintu. Kata Anita, restoran ini kini telah resmi bekerjasama dengan KBRI.

Dalam novel Pulang, tokoh Dimas Suryo pernah berucap “Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang”. Setelah menyantap rendang yang aduhai nikmat, setelah hampir dua jam ngobrol dengan sang pemilik, saya kemudian menyadari bahwa berada di Restaurant Indonesia membuat saya seperti berada di rumah.

Selama berada di Prancis, saya kerapkali harus berurusan dengan berbagai instansi, lembaga, atau tempat makan yang memakai nama “Indonesia”. Sayangnya, relasi antara saya dengan orang-orang di dalamnya selalu tak lebih dari relasi owner-klien. Bahkan tak jarang, selalu ada pihak yang menempatkan diri sebagai “yang lebih dibutuhkan”. Akhirnya, urusan dengan sesama diaspora pun seringkali lebih bersifat birokratis daripada humanis.

Tapi siang itu, Restaurant Indonesia memberi saya pelajaran berharga. Bahwa menjadi Indonesia tak cukup  dengan hanya memajang nama negara—entah di KTP atau papan nama raksasa. Lebih dari itu, menjadi Indonesia berarti menunjukkan keramahtamahan yang tulus sebagaimana selalu kita anggap sebagai bagian budaya kita.

Sebelum wafat, Sobron Aidit pernah berkata “Bagi saya, tidak apa tidak diterima pemerintah Indonesia asalkan diterima oleh orang Indonesia”.

Andai saja Sobron ada di situ, saya betul-betul ingin berkata, “Bung, kau bukan saja sangat kami terima. Tapi kepadamu pula, kami harus berterimakasih. Sebab berkatmu, kami menemukan makna rumah meski sedang di Paris”.