L'Enfant Noir: Dari Romantic Primitivism sampai Neokolonialisme Sastra

Romantic Primitivism

 

Ketika kolonialisme Prancis masih bercokol kuat di Afrika pada dekade 1950-an, dan rakyat Afrika masih menderita karenanya, seorang penulis Guinea bernama Camara Laye menerbitkan sebuah novel berjudul L’enfant noir (Si Bocah Hitam)—yang seperti judulnya—menceritakan kisah seorang bocah kulit hitam di satu desa terpencil di Afrika, dengan suasana tentram, damai, dan bahagia, meski berada di bawah kekuasaan kolonialisme. Terbit pada tahun 1953, novel ini langsung mengundang kontroversi. Di Afrika, novel ini mendapat kritik keras dari Mongo Beti—sastrawan progresif Kamerun yang posisinya mirip Pramoedya Ananta Toer di Indonesia—yang menyebut novel ini asyik sendiri mendeskripsikan pemandangan menawan Guinea dan tutup mata terhadap kekerasan kolonialisme. Sebaliknya, novel ini mendapat apresiasi tinggi dari publik Barat. Hanya satu tahun setelah penerbitannya, novel ini langsung diganjar Le prix Charles Veillon 1954, sebuah penghargaan sastra bergengsi dari Yayasan Charles Veillon, Belgia. Franz Hellen, sastrawan Belgia dan nominasi nobel sastra yang menjadi juri penghargaan ini, mengatakan bahwa L’Enfant noir mempunyai kualitas kesastraan yang jempolan dan mampu menunjukkan kejujuran dalam naskahnya. Lebih dari itu, ia menganggap novel ini telah menjembatani kebudayaan Afrika ke seluruh dunia, khususnya Prancis. (Steemers, 2012; Hellens, 1954)

L’Enfant noir adalah novel autobiografi yang menceritakan masa kecil penulis, Camara Laye, di Kouroussa, Guinea, pada tahun 1930-an. Melalui sudut pandang orang pertama, novel ini menceritakan kehidupan sang narator bersama ayahnya yang seorang pandai besi dan Ibunya yang penyayang. Novel ini merekam kehidupan Guinea dengan berbagai budayanya, mulai dari pesta panen, kisah para dukun dan griot (tukang dongeng) dengan kekuatan magisnya, hingga masyarakatnya yang masih percaya arwah leluhur dan memuja totem-totem. Selain menceritakan masa kecil narator, L’Enfant noir juga menceritakan masa remaja tokoh utama saat ia menjadi salah satu siswa paling cemerlang di école francaise.[1] Konflik cerita terjadi saat ia bimbang apakah harus menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di Prancis atau meneruskan pekerjaan orang tuanya. Di akhir cerita, si bocah memutuskan untuk berangkat ke Paris. Cerita berakhir saat si bocah sampai di métropole dan naik métro untuk pertama kali. (Laye, 2008)

Salah satu elemen yang paling sering dikritik dari L’Enfant noir adalah penggambaran suasana Guinea yang sangat idyllic alias surgawi. Ia menjadi semacam novel Mooi Indië khas Afrika yang menggambarkan Guinea sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Dalam hal penggambaran lanscape alam, misalnya, novel ini menggambarkan Guinea sebagai negeri yang masih sangat perawan, seperti tampak dalam kutipan berikut:

 

A mesure que nous avancions sur la route, nous délogions ici un lièvre, là un sanglier, et des oiseaux partaient dans un grand bruit d’ailes; parfois aussi que nous rencontrions une troupe de singes; et chaque fois je sentais un petit pincement au coeur, comme plus surprise que le gibier même que notre approche alertait brusquement. (Laye, 2008: 40)

 

Ketika kami melangkah sepanjang jalan, seekor kelinci dan babi hutan segera bersembunyi, dan burung-burung terbang dengan kepakan sayap yang bergemuruh; terkadang, kami juga bertemu segerombolan monyet; dan setiap kali aku merasa agak kaget, hewan-hewan liar itu ternyata lebih terkejut mendapati kami yang tiba-tiba semakin dekat (Laye, 2008:40)

 

Bukan hanya pemandangan menawan, penggambaran ini juga dibarengi dengan deskripsi penduduk yang akur dan rajin bergotong royong, sebagaimana kutipan di bawah ini:

 

Jamais le ciel n’est plus clair, plus resplendissant; les oiseaux chantant, ils sont ivres; la joie est partout, partout elle explose et dans chaque coeur retentit. C’´était cette saison là, la belle saison, qui me dilatait la poitrine, et le tam-tam aussi [...] Parvenus au champ qu’on moissonnerait en premier lieu, les hommes s’alignaient sur la lisière, la torse nu et la faucille prête. Mon oncle Lansana, ou tel autre paysan, car la moisson se faisait de compagnie et chacun prêtait son bras à la moisson de tous, les invitait alors à commencer le travail (Laye, 2008: 57-58)

 

Langit tidak pernah secerah dan secemerlang ini; burung-burung bernyanyi dan mabuk oleh sukacita yang meletup-letup. Hatiku pun ikut bergema. Musim itulah, musim indah dengan genderang tam-tam yang membuat dadaku membuncah. Sesampainya di ladang yang akan dipanen pertam kali, para lelaki segera berbaris di tepi ladang, bertelanjang dada, dan siap dengan sabit mereka. Pamanku, Lansana, atau beberapa petani lain akan memberi tanda dimulainya panen, di mana setiap orang akan saling mengulurkan tangan agar pekerjaan lekas selesai (Laye, 2008: 57-58)

 

Narasi-narasi di atas, sebenarnya merepresentasikan sebuah pemikiran yang kerap disebut romantic primitivism, yaitu ide yang percaya bahwa orang-orang pribumi non-Barat hidup dengan tenang dan bahagia, di tengah alam yang masih hijau, dan masyarakat yang menjunjung tinggi kolektivitas lagi penuh optimisme. Menurut John Panish dalam Kerouac’s The Subterraneans: A Study of "Romantic Primitivism” (1994), pemikiran ini bisa menjadi bermasalah ketika ia memotret ras tertentu seperti noble savagenamun mengaburkan opresi-opresi yang mereka alami (Panish, 1994:107-108). Istilah romantic primitivism juga dipakai Ali. A Mazrui untuk mendeskripsikan pemikiran Léopold Sedar Senghor, sastrawan, pendiri gerakan négritude, sekaligus presiden pertama Senegal, yang percaya bahwa Afrika mempunyai budaya asli yang berjangkar pada la simplicité alias kesederhanaan(Mazrui, 1995 & 2005). Kesederhanaan ini digambarkan misalnya lewat deskripsi penduduk Afrika yang jauh dari hiruk pikuk modernisme dan lebih memilih hidup menikmati alam yang surgawi sambil bernyanyi atau menari-nari. Hal ini digambarkan Senghor, misalnya, dalam bait penutup puisi Prière aux masques yang mendeskripsikan orang Afrika sebagai “les hommes de la danse, dont les pieds reprennent vigueur en frappant le sol dur (Manusia penari, dengan kaki yang begitu bergas, ketika menghentak tanah keras). (Senghor, 1990:24).

            Gambaran romantic primitivism ini muncul secara dominan dalam L’Enfant noir, misalnya dalam kisah tentang penduduk Desa Tindican, desa kelahiran ibu narator, yang digambarkan begitu ramah, ringan tangan, dan terbuka. Merekadigambarkan misalnya mempunyai tradisi penyambutan tamu, di mana setiap orang bersedia menjamu setiap tamu yang datang. Hal ini dinarasikan narator ketika ia pertama kali datang di Desa Tindican, sebagaimana tampak dalam kutipan berikut:

Les femmes sortaient de leurs cases et accouraient à nous, en s’exclamant joyeusement [...] De partout elles accouraient, de partout elles venaient m’accueillir; oui comme si le chef de canton en personne eût fait son entrée dans Tindican; et ma grand-mère rayonnait de joie [...] Et quand ces excellentes femmes nous quittaient, c’était pour surveiller la caisson d’énormes platées de riz et de volaille, qu’elles n’allaient pas tarder à nous apporter pour le festin du soir (Laye, 2008: 43-44)

 

Para perempuan keluar dari gubuk dan menyambut kami dengan berseru gembira […] Mereka datang dari mana-mana, dan dari mana-mana mereka menghampiriku; ya, seolah-olah kepala kanton sedang masuk Tindican; dan nenekku berseri-seri, penuh suka cita […] Dan begitu para perempuan luar biasa itu meninggalkan kami, mereka akan kembali menyiapkan sekotak besar nasi penuh lauk daging, yang akan mereka hidangkan untuk menjamu kami makan malam (Laye, 2008: 43-44)

 

            Ide tentang kolektivitas ini sendiri sebenarnya bukan hal baru dalam wacana kebudayaan Afrika. Narasi di atas yang menggambarkan perjamuan penuh nasi, lauk, dan senyum merekah para perempuan, sebenarnya juga merepresentasikan adagium terkenal dari Seydou Badian, penulis Mali, L’homme est un peu comme un grand arbre : tout voyageur a droit à son ombre (Manusia seperti sebuah pohon besar yang memayungi setiap pengelana untuk berteduh”) (Badian, 1968:98). Gambaran tersebut juga tampak dalam sekuen tentang panen raya di Tindican yang digambarkan begitu festive, penuh nyanyian, tarian, juga iringan genderang tam-tam, seperti tampak dalam kutipan berikut:

Le tam-tam, qui nous avait suivi à mesure que nous pénétrions plus avant dans le champ, rythmait les voix. Nous chantions en chœur, très haut souvent, avec de grands élans, et parfois très bas, si bas qu’on nous entendait à peine ; et notre fatigue s’envolait, la chaleur s’atténuait […] Ils moissonnaient ensemble : leurs voix s’accordaient, leurs gestes s’accordaient ; ils étaient ensemble ! - unis dans un même travail, unis par un même chant.(Laye, 2008:62-63)

 

Tam-tam yang mengiringi kami masuk ke ladang, memberikan irama genderang. Kami bernyanyi dengan suara yang padu, seringkali sangat tinggi, dan penuh antusias, dan terkadang sangat rendah, terlalu rendah hingga nyaris tidak terdengar. Lelah kami pun lenyap dan gerah seperti menguap[...] Mereka panen bersama: suara mereka seirama, gerakan mereka selaras; mereka panen bersama! - bersatu dalam kerja yang sama, bersatu dalam lagu yang sama! (Laye, 2008:62-63)

 

            Selain gambaran tentang alam surgawi dan penduduk yang riang gembira, romantic primitivism Senghor juga ditandai dengan kepercayaan terhadap konsep afrique mythique, yaitu ide yang percaya bahwa alam Afrika selalu terhubung dengan alam leluhur. Konsep ini hadir dalam banyak puisi Senghor yang sering menyandingkan elemen-elemen material khas Afrika, seperti musik (tam-tam, kora), hewan (buaya, manatee, macan kumbang), tumbuhan (labu siam, tuak nira), atau penduduk kulit hitam (perempuan hitam), dengan elemen-elemen magis seperti leluhur, alam baka, surga, jin, dan lain sebagainya (Malela: 2006). Konsep ini misalnya tampak dalam puisi D’autres chants di mana Senghor menulis:

 

Je ne sais en quel temps c’était, je confounds toujours l’enfance et l’Eden, comme je mêle la Mort et la Vie—un pont de douceur les relie (Senghor, 1990: 148)


Aku tak tahu kapan tepatnya, aku selalu mencampurkan masa kecil dan Taman Eden, seperti mencampuradukkan Kematian dan Kehidupan—jembatan manis yang selalumenghubungkannya(Senghor, 1990: 148)

 

Dimensi mistik ini juga hadir cukup dominan dalam L’Enfant noir. Novel ini misalnya menyoroti kosmogoni Afrika yang percaya bahwa orang Afrika selalu terhubung dengan leluhur hewan tertentu. Hal ini tampak dalam penggambaran keluarga tokoh utama yang percaya bahwa sang ayah adalah keturunan arwah ular. Kutipan yang diucapkan oleh tokoh Ibu di bawah ini menggambarkan kepercayaan tersebut:

 

Celui-ci, mon enfant, il ne faut pas le tuer: ce serpent n’est pas un serpent comme les autres, il ne te fera aucun mal; néanmoins ne contrarie jamais sa course […] Ce serpent, ajouta ma mère, est le genie de ton père (Laye, 2008:15)

 

Jangan pernah kau bunuh yang satu ini, Anakku: ular ini bukan ular seperti yang lain, ia tak akan menyakitimu; dan jangan pula menghalangi jalannya […] Ular ini, tambah ibuku, adalah leluhur ayahmu (Laye, 2008:25)

 

            Di samping itu, novel ini juga menyoroti elemen-elemen tradisional Afrika terkait ritus-ritus leluhur. Ia misalnya mendeskripsikan secara detil ritual inisiasi anak yang harus dilalui tokoh utama. Novel ini menceritakan misalnya bagaimana seorang griot (tukang dongeng) harus membuka upacara inisiasi tersebut lalu mencukur dan menyunat setiap anak di Kouroussa yang berusia 12 sampai 14 tahun. Novel ini menjelaskan bahwa ritual malinke ini menyimbolkan tahap pembersihan dan semacam pepesan bahwa seorang anak telah siap melanjutkan hidup ke masa remaja. 

Penggambaran tentang Afrika yang begitu surgawi ini sebenarnya telah menjadi perdebatan sejak lama. Namun, pada dasarnya, ide ini berangkat dari pemikiran Senghor yang percaya bahwa Afrika memiliki filosofi hidup yang berkebalikan dengan filosofi Eropa. Pemikiran ini terefleksikan dalam salah satu bait puisinya yang paling terkenal sekaligus paling kontroversial, “L’émotion est nègre, comme la raison est hellène (Emosi adalah Negro, nalar adalah Helenistik),” yang menggarisbawahi bahwa Afrika lebih terikat pada jiwa, sementara Eropa lebih terikat pada intelegensi (Senghor, 1964:24). Bait puisi tersebut mendapat penolakan dari banyak pemikir Afrika yang menganggap Senghor telahmengafirmasi pandangan eropasentris tentang irasionalitas orang Afrika. Penolakan tersebut misalnya diutarakan Boubacar Boris Diop, sastrawan Senegal, yang menganggap Senghor telah mengeksotisasi Afrika, bahkan memberi legitimasi atas mission civilisatrice alias misi pemberadaban Eropa (Diop, 2007:90).

Adapun terkait L’Enfant noir, penggambaran romantic primitivism ini juga tidak lepas dari kritikan tajam. Sebagaimana telah disinggung di awal tulisan, novel ini mendapat kritik keras dari Mongo Beti yang secara spesifik menyinggung penggambaran totem-totem dalam novel yang baginya tampak seperti cara orang Barat menulis buku etnologi:

 

Camara Laye parle abondamment de totems et de choses qu’on trouvait dans les livres d’ethnologie. Moi, je n’ai jamais entendu parler de totems dans mon ethnie ici. Dans le roman de Camara Laye, l’évocation du totem est faite de manière si artificielle que ce n’était pas crédible. (Beti, 2002:77)

 

Camara Laye bicara banyak tentang totem dan hal-hal yang hanya ditemukan dalam buku-buku etnologi. Di Afrika, saya tidak pernah mendengar mendengar orang dari etnis saya membahas totem. Dalam novelnya, Camara Laye menceritakan totem dengan cara yang artifisial sehingga sulit dipercaya. (Beti, 2002:77)

 

            Berangkat dari pembacaan itulah, Beti menyimpulkan bahwa Laye tidak menulis L’Enfant noir untuk orang kulit hitam, melainkan untuk orang kulit putih.        Pendapat tersebut sebenarnya bukan sekadar asumsi, terutama jika kita jugamenengok proses novel ini diterbitkan pada tahun 1953, oleh sebuah penerbit dari Prancis bernama penerbit Plon. Melalui jaringan-jaringan ekonomi dan politiknya, penerbit yang dekat dengan kekuasaan kolonial Prancis ini, nantinya akan mengambil peran penting dalam memasarkan L’Enfant noir, hingga novel ini mendapat resepsi positif dari publik Barat, dan lebih jauh lagi, bertransformasi menjadi salah satu karya kanon dalam sastra frankofon Afrika sub-Sahara.

 

Neokolonialisme Sastra dan Penerbit Plon

 

Hari ini, L’Enfant noir tidak diragukan lagi telah menjadi salah satu karya sastra paling penting dalam khazanah sastra frankofon Afrika. Adele King, peneliti sastra Afrika dari Amerika, menyebut novel ini setara dengan Things Fall Apart (1954) karya Chinua Achebe (Achebe, 1958). Jika Things Fall Apart merepresentasikan sastra kualitas jempolanpertama dari Afrika anglofon, maka L’Enfant noir mewakili Afrika frankofon. (King, 2002:2) Seorang peneliti sastra frankofon bernama Dorothy Blair juga menyebut novel ini sebagai penanda zaman sastra frankofon Afrika 1950-an, dan Camara Laye adalah sastrawan Afrika paling berbakat di zamannya (Steemers, 2012:40-41).

Meski demikian, perdebatan tentang novel ini masih belum berakhir. Pada tahun 2012, Vivan Steemers, seorang peneliti sastra dari Michigan University, menerbitkan sebuah buku berjudul Néocolonialisme littéraire (Neokolonialisme Sastra) yang berargumen bahwa kanonisasi L’Enfant noir sebenarnya tidak bisa lepas dari kepentingan politik Prancis, khususnya di era kolonial.

Argumen Steemers berangkat dari teori arena produksi kultural Pierre Bordieu yang menjelaskan bahwa penerbit adalah bagian dari institusi kekuasaan yang bisa menentukan pembentukan nilai sebuah karya. Dalam artikelnya, La Production de la croyance : contribution à une économie des biens symboliques (1977), Bordieu menjelaskan bahwa penerbit adalah intermediaire atau penghubung yang menentukan bagaimana sebuah karya bisa diterima, dibaca, bahkan disakralkan oleh masyarakat. Ia mendeskripsikan proses tersebut dalam kutipan berikut:

On entre en literature non comme on entre en religion, mais comme on entre dans un club select: l’éditeur est de ces parrains prestigieux (avec les préfaciers, les critiques, etc.) qui assurent les témoignages empresses de reconnaissance. (Bordieu, 1977:6)

 

Seseorang memasuki dunia sastra tidak seperti memasuki agama, melainkan seperti memasuki sebuah klub yang selektif: penerbit adalah salah satu pendukung yang prestisius (bersama dengan penulis kata pengantar, para kritikus, dll.) yang memastikan testimoni-testimoni terhadap karya tersebut bisa menghasilkan pengakuan. (Bordieu, 1977:6)

 

            Melalui kutipan di atas, Bourdieu menjelaskan bahwa setiap karya sastra yang sampai kepada publik sebenarnya merupakan hasil saringan ketat dari penerbit, yang bekerja selayaknya un club de select alias klub-klub selektifBagi Bordieu, penerbit adalah mesin penyaring yang memastikan bahwa setiap karya yang terbit sesuai dengan visi, kepentingan, dan ideologi mereka. Lebih jauh lagi, kutipan tersebut juga menjelaskan bahwa karya sastra sebenarnya bukan sekadar apa yang ditulis oleh pengarang. Selain reçit (teks utama yang memuat kisah), ada pula aspek-aspek eksternal yang berpengaruh membentuk nilai sebuah karya. Aspek eksternal tersebut di antaranya adalah peran penerbit dalam mengemas sebuah karya sejak sebuah manuskrip baru masuk ke meja redaksi, hingga ia melalui proses panjang seperti penyuntingan, pemilihan sampul, penambahan kata pengantar, endorsement, penentuan harga, teknik promosi, dan lain sebagainya. Bagi Bordieu, proses di balik meja tersebut bukan hanya krusial, namun juga sangat berpengaruh dalam membentuk resepsi pembaca.

            Berangkat dari pemikiran tersebutSteemers lalu berargumen bahwa resepsi positif yang diterima L’Enfant noir sejak awal diterbitkan hingga menjadi kanon sastra, sebenarnya tidak lepas dari peran penerbit Plon dan kepentingan politik penerbit tersebut, khususnya dengan pemerintah kolonial Prancis. Untuk memahami fenomena tersebut, ada tiga konteks fundamental yang perlu dipahami. Pertama, kondisi pasar buku sastra frankofon Afrika sub-Sahara pada tahun 1950-an, kedua, konteks sejarah penerbit Plon dan relasinya dengan kekuasaan Prancis, dan ketiga bagaimana proses penerimaan dan penyuntingan yang dilakukan penerbit Plon terhadap karya ini.

            Terkait konteks pertama, kita perlu mengingat bahwa pada periode 1950-an, penulis Afrika dari negeri jajahan Prancis belum bisa menerbitkan karyanya di negaranya sendiri. Pada masa itu, hampir seluruh infrastruktur perbukuan di Afrika, seperti rumah penerbit dan pasar buku, masih dimiliki pemerintah kolonial Prancis (Steemers, 2012:27). Minimnya infrastruktur perbukuan ini mudah dipahami mengingat kala itu mayoritas penduduk Afrika belum menguasai bahasa Prancis, apalagi budaya baca tulis. Seperti ditulis oleh Goheney-Polanski, pada tahun 1950-an, politik bahasa Prancis yang dicetuskan Jules Ferry—yang mempunyai visi mempranciskan seluruh negeri kolonial—belum menyasar ke seluruh penduduk Afrika (Ferry, 1885). Hal ini karena indoktrinasi bahasa Prancis di era kolonial sangat terbatas dan hanya menyasar para pegawai kolonial. Adapun hilirisasi bahasa Prancis melalui sistem pendidikan formal justru baru dilakukan secara massif setelah negara-negara Afrika frankofon merdeka pada tahun 1960-an (Goheneix-Polanski, 2014:106-107).

            Sebagai konsekuensinya, penulis Afrika yang saat itu ingin menerbitkan karyanya hanya bisa bergantung sepenuhnya pada penerbit-penerbit di Prancis (Steemers, 2012:27). Hal inilah yang secara otomatis membuat karya-karya dari Afrika harus mengikuti estetika dan standar ekonomi Prancis (Thierry, 2020:68-69). Maka, berkaitan dengan konteksinilah, penerbitan L’Enfant noir tidak bisa dipisahkan dari konteks kedua, yaitu posisi penerbit Plon yang secara historis memang memiliki kedekatan dengan kekuasan Prancis.

Didirikan oleh Henri Plon pada tahun 1845, Plon adalah salah satu penerbit  yang memiliki sejarah panjang dan penting di Prancis. Ia memiliki reputasi utama sebagai penerbit buku bertema sejarah Prancis yang telah menerbitkan memoar-memoar tentang revolusi Prancis, era rezim kekaisaran pertama, perang 1870-1871, perang dunia pertama dan kedua, hingga perang Aljazair. Selain itu, Plon juga menerbitkan banyak biografi tokoh-tokoh politik dan militer Prancis. Salah satu terbitannya yang paling terkenal adalah Mémoires de guerre, sebuah trilogi autobiografi karya Jendral Charles de Gaulle, presiden yang memimpin Prancis selama Perang Dunia II (Sorel, 2016:25 & 731).

Sejak berdiri tahun 1845 hingga L’Enfant noir terbit tahun 1953, penerbit ini sudah dipimpin empat generasi di mana setiap generasi memiliki kedekatan dengan rezim tertentu, mulai dari rezim kekaisaran Louis-Napoléon Bonaparte hingga rezim republik kelima (Sorel, 2016:24). Henri Plon, sang pendiri dan pemimpin redaksi generasi pertama (1845-1872) adalah seorang bonapartiste garis keras. Adapun pada generasi kedua (1872-1895), Plon dipimpin oleh Eugène Plon, anak tunggal Henri Plon, dan Robert Nourrit, menantu laki-laki Henri Plon, dua figur yang merupakan pendukung setia rezim republik ketiga. Di era generasi ketiga (1895-1945), Plon diwariskan pada anak-anak Robert Nourrit, yaitu Pierre Mainguet dan Joseph Bourdel, yang merupakan seorang maurassiennes—pengikut pemikiran Charles Maurras, politikus dan filsuf Prancis yang memegang ideologi sayap kanan katolik (Khouri, 2007:54). Sejak era generasi ketiga ini, Plon secara langsung telah memiliki kedekatan dengan rezim kolonial Prancis. Selama l’affaire Dreyfus, mereka bahkan mendukung politik antisemit dengan menerbitkan Psst!, koran satir anti Yahudi (Sorel, 2016:731-732)

Adapun generasi keempat (1945-1962), atau era ketika L’Enfant noir terbit, berada di bawah kepemilikan Maurice Bordel, putra dari Joseph Bourdel. Bourdel sendiri telah sejak lama dekat dengan pemerintah kolonial. Kedekatan ini pula yang membawanya menerima l’Ordre national de la légion d’honneur pada tahun 1950yaitu penghargaan untuk warga sipil yang dianggap telah memberikan jasa-jasa luar biasa terhadap Prancis. Meski demikian, penerbitan L’Enfant noir sebenarnya bukan hanya terealisasi berkat peran Bourdel, melainkan lebih kepada para punggawa tim redaksi, yaitu Charles Orengo, Guy Depré, dan Robert Poulet (Steemers, 2012).

Charles Orengo, direktur kesastraan Plon, adalah orang pertama yang menerima manuskrip L’Enfant noir. Orengo sendiri dikenal sebagai sosok yang dekat dengan Menteri Dalam Negeri Prancis, François Mitterand. Selain itu, ia juga tokoh kunci yang kelak berhasil meyakinkan Charles De Gaulle untuk menerbitkan seri pertama memoarnya bersama penerbit Plon. Selain itu, Orengo dibantu oleh dua editor, Robert Poulet dan Guy Depré, yang dikenal dengan pandangan politik konservatif yang mendukung superioritas moral Barat atas bangsa-bangsa jajahan (Steemers, 2012:42) Di tangan mereka, Plon pernah menerbitkan jurnal sayap kanan Table Ronde yang menentang gerakan éngagé sartrienne dan memuat tulisan-tulisan bersikap antikomunis. Kedua sosok inilah yang mengambil peran paling banyak dalam menyunting L’Enfant noir.

Dalam proses penyuntingan tersebut, Robert Poulet adalah aktor yang paling banyak memberi masukan dan koreksi pada Camara Laye. Poulet sendiri adalah sosok yang percaya pada superioritas orang kulit putih terhadap kulit hitam. Sikap ini tercermin langsung dalam salah satu artikelnya tentang L’Enfant noir berjudul Les livres et la vie (1953)yang terbit di jurnal sayap kanan ekstrim Rivarol, di mana ia menulis:

 

 On est d’abord un peu surpris, ensuite enchanté, de retrouver sous la plume du romancier guinéen le style élégant et sobre de nos conteurs traditionnels (Poulet, 1953:4; Steemers, 2012).

 

Awalnya kami sedikit terkejut, kemudian terpesona, mendapati bahwa seorang novelis Guinea bisa menulis dengan gaya elegan sekaligus terang dan jelas layaknya pendongeng tradisional (Poulet, 1953:4; Steemers, 2012).

 

Jika dibaca sekilas, kutipan tersebut memang seakan menunjukkan kekaguman Poulet terhadap kemampuan menulis Laye. Namun. di sisi lain, kutipan tersebut juga menyiratkan bahwa penerbitan L’Enfant noir sebenarnya tidak hanya didasarkan pada kualitas literernya, melainkan juga berangkat dari anggapan bahwa secara umum orang kulit hitam tidak bisa menulis sebaik orang kulit putih. Oleh karena itulah, seperti terbaca dalam kutipan di atas, Poulet mengaku terpesona ketika menemui seorang dari Guinea pandai menulis. Di samping itu, aksentuasi pada gaya “élégant (elegan)” dan “sobre (terang)” tampak berangkat dari asumsi eropasentris tentang karakter orang kulit hitam yang secara umum dianggap berlawanan dengan dua kata sifat tersebut, seperti misalnya “sauvage (liar)”  atau “barbare (barbar)”. Sikap ini terlihat semakin jelas dalam resensi L’Enfant noir yang ia tulis di majalah Belgia, Le Phare. Dalam artikel tersebut, Poulet mereferensikan tokoh-tokoh kulit hitam dalam novel dengan istilah-istilah peyoratif seperti “un bon sauvage (manusia liar yang baik)”, “gens simples (manusia sederhana)”, l’âme nègre d’infantilisme (jiwa negro yang kekanak-kanakan)”, dan lain sebagainya yang banyak bersinggungan dengan asumsi-asumsi romantic primitivism (King, 2002; Poulet, 1953; Steemers, 2012).

Di samping itu, Poulet sendiri adalah representasi sempurna dari zeitgeiste mayoritas masyarakat Prancis tahun 1950-an yang percaya bahwa kolonialisme memberikan dampak positif bagi koloni-koloninya. Selama bekerja di Plon, ia bertanggung jawab menyeleksi karya-karya dari Outre-mer (negeri-negeri jajahan seberang laut) yang mampu membuktikan bahwa rezim kolonial telah berhasil mentransformasi para “primitifs” menjadi penulis bertalenta(Steemers, 2012). Sepanjang tahun 1950-an, ia memilah dan menyunting novel-novel dengan tema eksotisme yang melukiskan kehidupan surgawi nan tenang di tanah-tanah koloni. Penerbitan L’Enfant noir misalnya berdekatan dengan penerbitan novel-novel tema serupa, seperti La coline oubliée (1952) karya Mouloud Mammeri dari Aljazair dan Nam et Sylvie (1957) karya Pham Duy Khime dari Vietnam (King, 2002:15).

Adapun menurut Adele King, penerbitan novel-novel tersebut bertujuan untuk menjawab selera pembaca Prancis tahun 1950-an, yang di satu sisi, berhasrat mengalami eksotisme negeri jauh, namun di sisi lain, tidak ingin ambil pusing terhadap urusan-urusan politik berat—terutama terkait kolonialisme (King, 2002; Steemers, 2012). Maka, dengan novel yang menyajikan kisah romantic primitivism seperti L’Enfant noir, Plon memastikan bahwa karya tersebut dapat memenuhi horizon harapan pembaca Prancis yang mengimajinasikan Afrika sebagai negeri eksotis, dengan hutan dan semak-semak, matahari yang cerah, pribumi yang lugu dan harmonis, serta kedekatan dengan dunia magis. Penting dicatat, penerbitan L’Enfant noir juga disponsori oleh Ministère de la France d’outre-mer (Kementerian Prancis Seberang Laut). Fakta ini pula yang membuktikan bahwa novel ini pada dasarnya memang tidak bertentangan dengan kepentingan otoritas kolonial Prancis masa itu. Argumen tersebut diafirmasi sendiri oleh Guy Dupré, rekan kerja Robert Poulet, yang menegaskan bahwa L’Enfant noir adalah novel yang senada dengan karakter dan semangat Prancis, yaitu le culturalisme humanitariste dan le culturalisme apolitique (Steemers, 2012:149-151).

 

Eksotisme dalam Periteks L’Enfant Noir   

 

            Namun, peran penerbit Plon bukan hanya memastikan cerita novel ini sesuai dengan selera masyarakat Prancis. Lebih dari itu, Plon juga berperan menuangkan unsur eksotisme pada elemen-elemen di luar teks novel atau yang disebut Gérard Genette sebagai periteks. Apa itu periteks?

            Secara singkat, periteks adalah elemen-elemen di luar teks utama karya sastra yang berfungsi melengkapi karya tersebut sehingga bisa menjadi sebuah buku. Periteks bisa berupa sampul buku, kata pengantar, endorsement, judul, sub-judul, dan lain sebagainya, yang menurut Genette dapat mempengaruhi resepsi pembaca terhadap karya tersebut. Tidak hanya itu, periteks juga merupakan bagian penting yang dapat menentukan hasil pemasaran (Genette, 1977:7).

            Dalam Néocolonialisme littéraire, Steemers membahas bahwa larisnya angka penjualan L’Enfant noir dan proses sampai karya ini bisa menjadi kanon, ternyata tidak lepas dari peran penerbit Plon dalam merancang periteks novel ini seeksotis mungkin. Sebagai informasi, L’Enfant noir adalah karya yang sangat laris sejak terbitan pertama. Pada tahun 1955, novel ini memperoleh status best-seller dengan penjualan lebih dari 25.000 eksemplar. Angka ini terhitung fantastisuntuk pasar buku masa itu, apalagi untuk sebuah buku yang ditulis penulis Afrika. Sebagai perbandingan, novel Le pauvre christ de bomba (1955) karya Mongo Beti yang diterbitkan oleh Penerbit Laffont saja hanya terjual kurang dari 3000 eksemplar selama 15 tahun, sejak 1955 hingga 1970. Menurut Steemers, tingginya angka penjualan tersebut merupakan buah dari proses kerja penerbit Plon dalam merancang dan menentukan periteks novel, tepatnya terkait judul buku, nama pena penulis, sampul belakang, dan sampul depan novel (Steemers, 2012:50). 

            Berkaitan dengan judul bukupada mulanya, manuskrip novel ini masih berjudul L’Enfant de Guinée (Bocah Guinea). Akan tetapi, penawaran tersebut langsung ditolak oleh Robert Poulet yang lebih memilih judul L’Enfant noir(Bocah Hitam)Seperti ditulis Miller, perubahan tersebut tentu bertujuan untuk menyesuaikan judul novel dengan pembaca Prancis. Sebab pada masa itu, pembaca Prancis belum mengenal istilah “Guinea” sebagai sebuah negara yang eksis—bahkan sampai hari ini, saya yakin nama tersebut masih asing bagi sebagian besar orang Prancis. Dibanding nama negara, atribut warna kulit jelas lebih relevan bagi masyarakat Prancis yang kala itu telah mengenal Afrika sebagai benua hitam.[2] Dengan menonjolkan identitas kulit hitam pula, maka kesan eksotisme Afrika bisa tertuang dengan efektif, jelas, dan kuat sejak dari judul saja. Selain itu, seperti ditulis Miller,“l’universalisme racial était plus attirant que le particularisme national” (universalisme rasial pasti lebih menarik dibanding partikularisme nasional.” (Steemers, 2012:118)

            Selain judul, Poulet juga mengubah nama pena penulis. Sebagai catatan, nama asli dari Camara Laye adalah Abdoulaye Camara. Ada dua hal yang penting dicatat terkait perubahan nama ini. Pertama, Poulet telah membalik posisi nom (nama keluarga) dan prénom (nama depan) dari penulis. Dalam budaya Guinea, nama Camara sebenarnya bukan merujuk nama depan, melainkan nama keluarga dari wilayah Mande. Jika ditilik secara sederhana, pembalikan ini mungkin hanya bertujuan untuk membuat pembaca lebih mudah mengingat nama “Camara Laye”, yang memang terkesan catchy. Namun, menurut Christoper Miller dalam Theories of Africain : Francophone literature and anthropology in Afrika, pembalikan ini sebenarnya menyiratkan sikap Poulet yang menyepelekan identitas kultural Afrika. Kedua, ada penghapusan kata “Abdoul” dalam prénom “Abdoulaye”. Saya kira, hal tersebut bertujuan untuk menjaga citra L’Enfant noir  agar tidak “terpolusi” oleh kata “Abdoul” yang lebih merujuk pada nama Arab atau Islam. Dengan memilih nama “Laye”, Plon berusaha memastikan bahwa citra romantic pritivism dalam novel bisa tersampaikan pada pembaca Prancis yang memang kala itu mengangankan eksotisme Afrika. (Steemers, 2012; Miller, 1990:116)

            Eksotisasi periteks juga terjadi pada sampul belakang novel. Pada cetakan pertama, penerbit telah menyematkan biografi Camara Laye yang meliputi nama, tempat lahir, asal desa, dan latar belakang pendidikannya sebagai lulusan école francais. Penyematan elemen-elemen tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengaksentuasi keliyanan penulis sebagai orang Afrika. Keliyanan sebagai orang Afrika tersebut juga kembali ditekankan dalam sinopsis novel berikut:

 

Il est fait de souvenir d’Afrique, évoquant durant toutes ces années où il a vécu loin de sa case natale et de la grande plaine d’Afrique (Steemers, 2012)

 

Novel ini ditulis dari kenang-kenangan tentang Afrika, dengan cara membangkitkan kenangan selama bertahun-tahun, ketika ia tinggal jauh di gubuk asalnya, di dataran besar Afrika (Steemers, 2012).

 

Meski demikian, bagian periteks yang paling kuat menonjolkan eksotisme Afrika adalah sampul depan novel. Seperti umum dipahami, sampul depan seringkali dianggap merepresentasikan keseluruhan isi buku. Lewat sampul depan, sebagian besar orang sudi membeli buku sebelum tahu isi cerita buku tersebut. Dari fakta inilah, sampul depan sering dianggap sebagai elemen paling esensial di luar teks yang sangat mempengaruhi ketertarikan pembaca dan pada akhirnyamempengaruhi penjualan karya pula (Genette, 1977).

Sebagai catatan, isu eksotisme sampul depan sendiri sudah menjadi perdebatan panjang dalam khazanah sastra frankofon Afrika sub-Sahara. Alain Mabanckou, seorang sastrawan Kongo, dalam bukunya Huit lecons sur l’Afrique (2020), mengatakan bahwa sampul depan novel-novel Afrika seringkali merepresentasikan citra-citra penuh stereotip tentang benua tersebut. Hal ini tidak lepas dari peran penerbit, khususnya penerbit Barat, yang kerap kali menggambarkan Afrika sebagai “un voyage lointain (perjalanan jauh)” yang menjanjikan “une balade exotique dans un univers palpitant où le mystère, l’aventure, la magie, et la sorcellerie (perjalanan eksotis ke dunia penuh misteri, petualangan, dan sihir yang mendebarkan)”(Mabanckou, 2020:113-114). Sebagai contoh, sampul-sampul novel Afrika kerap menampilkan gambar hutan belantara, tambur afrika, orang kulit hitam, lanskap luas dengan sinar matahari terang benderang, dan lain sebagainya, yang sebenarnya belum tentu berhubungan dengan isi cerita. Menurut Mabanckou, reproduksi citra eksotis ini lahir dari l’inconscient coloniale yang selalu ingin menampilkan Afrika dengan se-Afrika mungkin sesuai pandangan Barat (Mabanckou, 2020:113-114). Representasi semacam inilah yang juga ditentang keras oleh penulis muda Pantai Gading, Gauz, yang dalam salah satu wawancaranya pernah mengomel “Di Afrika, tidak ada yang peduli dengan sinar matahari. Kami bahagia saat turun hujan.”[3]

Dalam konteks L’Enfant noir sendiripenonjolan eksotisme dalam sampul depan novel sebenarnya tidak terjadi sejak terbitan pertama. Untuk cetakan pertama, konsep sampul depan novel ini masih sangat sederhana. Sampul depan didominasi oleh warna hitam dengan kombinasi warna oranye dan merah. Selain itu, sampul depan ini hanya memuat judul, nama penulis, dan nama penerbit. Ia sama sekali tidak memuat ilustrasi apalagi foto penulis. Hal ini bisa dipahami mengingat pada tahun 1950-an, buku dengan sampul ilustrasi memang belum populer di Prancis. Pada masa itu, pembaca Prancis hanya mengandalkan sampul belakang untuk mendapat pandangan umum mengenai buku (Sorel, 2016:52). Dan seperti sudah dibahas sebelumnya, penerbit sudah memanfaatkan sampul belakang novel untuk menonjolkan eksotisme Afrika sebagai nilai jual L’enfant noir.

            Perubahan signifikan justru terjadi pada tahun 1966, atau 13 tahun setelah terbitan pertama novel ini. Sejak terbitan tersebut, sampul novel ini selalu menyertakan ilustrasi atau foto seorang bocah kulit hitam sebagaimana tampak dalam gambar-gambar berikut:

 

           

Gambar-gambar di atas adalah beberapa contoh sampul depan L’Enfant noir yang bisa diunduh di website World Cat. Berdasarkan gambar tersebut, kita dapat melihat bahwa ilustrasi bocah kulit hitam tampak semakin jelas seiring berjalannya waktu. Jika dalam terbitan tahun 1966 dan 1970, si bocah kulit hitam hanya tampak dalam bentuk siluet, maka sejak edisi 1975 hingga edisi terbaru tahun 2008, sampul depan novel ini telah menampilkan secara eksplisit lukisan atau foto si bocah kulit hitam. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, foto bocah-bocah tersebut tampak inkonsisten. Sebagai contoh, pada edisi Pocket 1976 dan Pocket 2008, bocah-bocah hitam tersebut berkepala plontos. Namun, pada edisi Plon 1976 dan Pocket Jeunesse 1994, bocah-bocah tersebut tiba-tiba berambut keriting. Di samping itu, masing-masing bocah juga mempunyai bentuk fisik dan usia yang berbeda. Hal ini menyiratkan bahwa penerbit juga tidak peduliamat pada bentuk fisik si bocah selama ia berkulit hitam. Yang menarik, perubahan sampul depan ini juga beriringan dengan peningkatan penjualan novel. Sebagai ilustrasi, antara tahun 1970 hingga 1973, novel ini terjual 111.392 eksemplar (Steemers, 2012). Tentu itu merupakan angka yang dahsyat untuk periode saat itu.

Pada akhirnya, fenomena evolusi periteks tersebut dapat menunjukkan bahwa eksotisme selalu menjadi bagian krusial dalam distribusi L’Enfant. Hal ini juga menunjukkan bahwa le désir d’exotisme (hasrat akan eksotisme) tidak hanya eksis pada tahun 1950 atau 1960-an, ketika kolonialisme masih bercokol kuat di Afrika. Lebih dari setengah abad sejak runtuhnya sistem penjajahan tersebut, eksotisme masih menjadi bagian penting dalam penjualan novel-novel frankofon Afrika, khususnya L’Enfant noir. Memang, isi yang romantic primitivism saja tidak cukup, kulit pun harus eksotis juga.

 

Daftar Pustaka

Achebe, C. (1958). Things Fall Apart. [[William Heinemann Ltd.]].

Badian, S. (1964). Sous l’orage. Paris: Presence Africaine.

Beti, M. (1956). Le pauvre Christ de bomba. Waveland Press.

Bourdieu, P. (1977). "La production de la croyance". Actes de La Recherche En Sciences Sociales, 13(1): 3–43. https://doi.org/10.3406/ARSS.1977.3493

Briere, Eloise. (1981). “Resistance à l’acculturation dans l’oeuvre de Mongo Beti” in Canadian Journal of African Studies, Vol. 15, No. 2. Avaible at https://www.jstor.org/stable/484408

Diop, B. B. (2007). L’Afrique au-delà du miroir. Available at from http://www.philippe-rey.fr/livre-L_Afrique_au_delà_du_miroir-84-1-1-0-1.html

Ferry, J. (1885). "The foundation of colonical policy". Official Journal of the French Republic. Available at from https://clio2web.uclouvain.be/items/show/9503

Genette, G. (1987). Seuils. Available at from https://www.abebooks.com/Seuils-Gerard-Genette-Editions-Seuil/17975973132/bd

Goheneix-Polanski, A. (2014). "L’argument civilisateur dans la doctrine coloniale de la langue française". Le Postcolonial Comparé, 97–112. https://doi.org/10.3917/PUV.JOUB.2014.01.0097

Hellens, F. (1954). Chronique littéraire : Le Prix Veillon dans La Dernière heure 3. Available at from https://en.wikipedia.org/wiki/Franz_Hellens

Khoury, Marcus (2017). "Rewriting the Twentieth-century French Literary Right: Translation, Ideology, and Literary History" Masters Theses, available at from https://doi.org/10.7275/9468894

King, A. (2002). Rereading camara laye. University of Nebraska Press.

Kom, A., & Beti, M. (2002). Mongo Beti parle avec Ambroise Kom. Bayreuth University.

Laye, C. (2008). L’enfant noir. Available at from https://www.lisez.com/livre-de-poche/lenfant-noir/9782266178945

L’Obs (Director). (2018). L’écrivain Gauz dénonce la négritude et appelle les Africains à s’affirmer. https://www.youtube.com/watch?v=jKCoFEOuXkk

Mabana, K. C. (2011). "Léopold sédar senghor et la civilisation de l’universel". Diogène, 235(3/4).

Mabanckou, A. (2020). Huit leçons sur l’Afrique. Available at from https://www.babelio.com/livres/Mabanckou-Huit-lecons-sur-lAfrique/1189990

Malela, Buata. (2006). " Pour une étude de la proximité et de la souffrance humaine dans les productions littéraires. Relecture croisée d’Éthiopiques de Senghor et des Nouveaux contes d’Amadou Koumba de Birago Diop" Francofonia

Mammeri, M. (1952). La Colline Oubliée. Folio Gallimard.

Mazrui, A. A. (1995). "Pan-Africanism: from poetry to power". Issue: A Journal of Opinion, 23(1): 35–38.

Mazrui, A. A. (2005). "The re-invention of Africa: Edward Said, V.Y. Mudimbe, and Beyond". Research in African Literatures, 36(3): 68–82. Available at from https://www.proquest.com/docview/207653562

Miller, C. L. (1990). Theories of Africans: francophone literature and anthropology in Africa. Available at from https://books.google.co.id/books?id=HWD6KrKtzSsC

Panish, Jon. (1994). "Kerouac's The Subterraneans: A Study of 'Romantic Primitivism'". Oxford University Press on behalf of Society for the Study of the Multi-Ethnic Literature of the United States (MELUS). Available at from https://www.jstor.org/stable/467875

Patricia, S. (2016). Plon le sends de l’histoire (1855-1962). Available at from https://pur-editions.fr/product/ean/9782753543683/plon

Phạm, D. K. (1957). Nam et sylvie: roman. Available at from https://books.google.co.id/books?id=fPQ9AAAAIAAJ

Poulet, R. (1953). Les livres et la vie. Available at from https://www.cairn.info/le-neo-colonialisme-litteraire--9782811107642-page-217.htm

Senghor, Léopold Sédar. (1964). Liberté I : negritude et humanisme. Available at from https://catalogue.nla.gov.au/Record/2948527

Senghor, Léopold Sédar. (1967). "Qu'est-ce que la négritude?" in Études françaises, vol. 3, no 1

Senghor, Léopold Sédar. (1990). Oeuvre Poétique. Paris, Seuil. Available at from https://www.abebooks.fr/rechercher-livre/titre/oeuvre-po%E9tique/auteur/senghor/

Singare, Issiaka Ahmadou. (2012). L'oeuvre poétique de Léopold Sédar Senghor : esthétique de la reception, procès de la création. Université de Cergy Pontoise, Français

Steemers, V. (2012). Le (néo)colonialisme littéraire - Karthala. Available at from https://www.karthala.com/lettres-du-sud/2618-le-neocolonialisme-litteraire-9782811107642.html

Thierry, R. (2020). "Francophone African publishing and the miscnception of world literature". In Francophone Literature as World Literature. https://doi.org/10.5040/9781501347177.0008



[1] Sekolah menengah era kolonial yang menggunakan sistem pendidikan Prancis.

[2] Penting dicatat, isu ras sendiri telah menarik perhatian masyarakat Prancis setidaknya sejak lahirnya gerakan négritude pada tahun 1930-an, yang memicu perdebatan tentang isu kesetaraan ras naik ke permukaan.

[3] L’Obs, L'écrivain Gauz dénonce la négritude et appelle les Africains à s'affirmer, diakses di https://www.youtube.com/watch?v=jKCoFEOuXkk

MURAMBI SEBAGAI REFLEKSI DARI GENOSIDA 1994 KE GENOSIDA 1965

Genosida Rwanda


Nyaris satu juta orang terbunuh hanya dalam waktu kurang dari 100 hari, dan setelah itu, dunia menyederhanakan tragedi tersebut sebagai imbas dari konflik antar etnis: Tutsi versus Hutu. Kenyataannya, genosida Rwanda tidak sesederhana itu. Ia tak bisa serta merta dipahami sebagai hasil dari kebencian antar dua kelompok manusia dengan dua identitas berbeda. Lebih dari itu, genosida Rwanda adalah buah dari kebencian antar manusia yang dibentuk dan dipupuk oleh kolonialisme, lalu diparipurnakan oleh fenomena neokolonialisme yang disebut Francafrique. Namun sebelum lebih jauh membahas hal tersebut, kita harus memahami terlebih dahulu sejarah singkat genosida Rwanda, tragedi yang menjadi latar novel Murambi, Buku tentang Tulang-Belulang karya Boubacar Boris Diop.[1]


        Sebelum kedatangan kolonialisme Jerman pada tahun 1894, Rwanda sama sekali tidak mengenal sistem perbedaan etnis. Kala itu, Rwanda adalah negeri damai yang dipimpin seorang raja bernama 
Mwami dan dihuni orang-orang dengan ciri fisik, bahasa, agama, dan budaya yang sama.[2] Meski demikian, Rwanda mengenal sistem pembedaan sosial yang didasarkan pada mata pencaharian. Dalam budaya Ikinyarwanda, orang-orang yang bekerja sebagai petani disebut Hutu, sementara mereka yang bekerja sebagai peternak disebut Tutsi.[3] Pembedaan kelompok sosial ini bersifat cair. Artinya, orang Hutu yang mau belajar menggembala bisa saja menjadi Tutsi, dan orang Tutsi yang tlaten mengolah tanah bisa pula menjadi Hutu.[4]


Konsep kelompok sosial tersebut kemudian bergeser sejak pemerintah kolonial Jerman menganggap perbedaan Hutu-Tutsi sebagai perbedaan etnis. Hal ini pada mulanya terjadi karena Jerman tidak mengenal sistem pembagian kelompok sosial yang didasarkan pada model kerja. Akan tetapi, pembedaan ini kemudian dimanfaatkan Jerman untuk mulai memecah belah kedua kelompok. Seperti bangsa penjajah lainnya, Jerman mulai menerapkan divide et impera dengan hanya memberikan jabatan-jabatan penting pada orang Tutsi yang merupakan kelompok minoritas. Sementara orang Hutu yang merupakan kelompok mayoritas terpaksa hanya bisa gigit jari. [5]


Gesekan ini semakin meruncing tatkala kekuasaan kolonial bergeser ke tangan Belgia. Sejak 1931, Belgia mulai menyematkan nama etnis di kartu identitas penduduk Rwanda.[6] Konsep Hutu-Tutsi menjadi bentuk identitas yang semakin kaku bahkan dianggap bentuk pertalian darah yang mustahil berubah. Bukan hanya itu, mereka juga memproduksi mitos tentang perbedaan fisik Tutsi dan Hutu dengan mengatakan jika orang Tutsi memiliki kulit lebih terang, hidung lebih mancung, dan rupa lebih rupawan. Rasisme ini akhirnya merembet ke berbagai kebijakan lain yang semakin diskriminatif, seperti misalnya larangan terhadap orang-orang Hutu untuk mengakses pendidikan apalagi kekuasaan.[7]


Diskriminasi ini menjadi bom waktu ketika Rwanda merdeka pada 1962. Orang Hutu yang merasa digencet dan diperkuda selama era kolonial kemudian merasa berhak membalaskan dendamnya pada orang Tutsi. Pembunuhan demi pembunuhan terus terjadi. Puluhan ribu orang Tutsi tewas dibelasah golok, sementara ratusan ribu lainnya harus mengungsi ke negara-negara sekitar Rwanda: Burundi, Zaire, Tanzania, Uganda. Kekerasan ini turut didukung oleh posisi politik orang Hutu yang sejak merdeka telah sepenuhnya merebut kekuasaan. Pada pemilu pertama Rwanda, Parmehutu, partai supremasi Hutu, meraup lebih dari 70 persen suara. Hasil inilah yang mendudukkan sosok rasis seperti Grégoire Kayibanda menjadi presiden yang merestui setiap kekerasan terhadap orang Tutsi.[8]


Harapan akan meredanya konflik ini sempat tumbuh di awal tahun 1990-an. Hal ini ditandai dengan menguatnya FPR (Front Patriotik Rwanda), kelompok tentara pemberontak yang dibentuk oleh anak-anak keturunan imigran Tutsi di luar Rwanda. Melalui strategi gerilya, FPR bukan hanya sukses merepotkan,  tetapi juga menggoncang stabilitas pemerintah Juvénal Habyarimanapresiden otoriter yang menggantikan kekuasaan Grégoire Kayibanda sejak 1973. Situasi inilah yang memaksa Habyarimana menandatangani Perjanjian Arusha pada tahun 1993 yang setidaknya memiliki dua poin penting. Pertama, gencatan senjata antara pemerintah dengan FPR. Kedua, rencana rekonsiliasi Hutu-Tusi yang ditandai dengan pembentukan pemerintahan yang terdiri dari kedua unsur kelompok tersebut.[9]


Sayangnya situasi reda ini tak berlangsung lama. Saat Perjanjian Arusha mulai berjalan, sebuah tragedi menggemparkan terjadi pada 6 April 1994. Hari itu, pesawat yang ditumpangi Presiden Juvénal Habyarimana tiba-tiba hancur tertembak rudal. Habyarimana tewas bersama Cyprian Ntaramira, presiden Burundi, yang saat itu juga berada dalam pesawat. Hingga hari ini, tak ada yang tahu siapa sosok atau kelompok di balik serangan tersebut. Namun yang jelas, kematian Habyarimana inilah yang dijadikan alibi oleh Interahamwekelompok paramiliter Hutu garis kerasuntuk mulai membunuh siapapun yang mereka sebut Inyenzijulukan untuk orang Tutsi yang berarti kecoak.


Maka dalam tempo kurang dari 100 hari, Rwanda menjadi tempat yang lebih mengerikan daripada neraka. Satu per satu orang dipenggal. Anak-anak dimutilasi. Perempuan-perempuan diperkosa sebelum disembelih. Kematian terjadi kapan saja dan tak peduli tempat: di rumah, di sekolah, di gereja. Rwanda menjadi tempat kubangan darah dengan mayat-mayat Tutsi yang menutup jalan-jalan dan menyumbat sungai-sungai. 


Sejarah inilah yang menjadi latar dari novel Murambi, Buku tentang Tulang-Belulang karya Boubacar Boris Diopsastrawan Senegal kelahiran 26 Oktober 1946Boris Diop sendiri adalah penulis yang dikenal selalu mencampurkan elemen fiksi dan sejarah dalam karya-karyanya.[10] Sebagai sosok yang tumbuh di lingkungan progresif selama kuliah, ia tak segan mendaku diri sebagai Pan-Afrikanis, Maois, sekaligus sastrawan engagé.[11] Novel Murambi, Buku tentang Tulang-Belulang adalah hasil dari risetnya pada tahun 1998 ketika mengikuti proyek residensi di RwandaBerkat pengalaman tinggal di sana selama beberapa bulan, ia menyadari untuk pertama kali bahwa genosida Rwanda tidaksesederhana konflik antar etnis seperti yang dipahami banyak orang, melainkan tragedi yang lahir dari silang sengkarut politik internasional sejak era kolonial hingga pascakolonial.[12] Perspektif poskolonial inilah yang kemudian coba ia tuangkan dalam novel ini.[13]

 

Narasi Polifoni, Trauma, dan Françafrique

 

Dalam Murambi, Buku tentang Tulang-Belulang, Boris Diop menceritakan genosida Rwanda melalui banyak sudut pandang, terutama dari sisi korban, pelaku, gerilyawan FPR, militer Prancis, hingga seorang keturunan pelaku yang terus dihantui rasa berdosa meski sebenarnya tak terlibat apa-apa. Ia menggunakan apa yang Mikhaïl Bakhtin sebut sebagai narasi polifoni, yaitu bentuk penceritaan karya sastra yang mempekerjakan banyak narator untuk menceritakan kompleksitas suatu fenomena. Dalam novel polifoni, tokoh-tokoh dalam novel saling mengutarakan perspektifnya tentang suatu peristiwa sehingga terbentuk fragmentasi struktur narasi.  Novel tipe ini menghindari narator tunggal serba tahu yang banyak ditemukan dalam karya sastra klasik. Ia menghadirkan lebih banyak narator sekunder yang terkadang saling berdialog, saling melengkapi, atau justru saling menentang wacana satu sama lain.[14] Narasi polifoni inilah yang dipakai Boris Diop untuk menarasikan kembali genosida Rwanda sebagai tragedi yang kompleks dan terutama berkaitan dengan isu trauma dan politik internasional.


Berkaitan dengan isu trauma, saya teringat artikel berjudul Narratives of the Rwandan Genocides (2020) yang ditulis Josias Semujanga, profesor spesialis sastra frankofon Afrika dari Université de Montréal.[15] Dalam artikel tersebut, Semujanga menulis tentang dua cara yang kerap digunakan karya sastra untuk menceritakan kembali pengalaman traumatis. Pertama, ia tanpa lelah menceritakan kembali bagaimana pengalaman traumatis bisa terjadi. “It tirelessly repeats the wounds”, tulis Semujanga, untuk menggambarkan karya sastra yang menceritakan dengan sangat detil bagaimana peristiwa traumatis terjadi. Kendati sangat menyiksa, namun cara inilah yang bisa memastikan bahwa setiap memori traumatis itu tidak terlupakan begitu saja dan bahkan bisa terdengar oleh dunia. Dalam Murambi, Buku tentang Tulang belulang, Boris Diop jelas memanfaatkan narasi polifoni tersebut untuk menggambarkan kekerasan demi kekerasan selama genosida yang seringkali melampaui batas nalar kemanusiaan. Melalui narasi polifoni, adegan seperti penyembelihan di dalam gereja, pemerkosaan secara bergilir, hingga pemaksaan benda-benda tertentu ke dalam vagina, dideskripsikan secara detil oleh narator-narator novel. Meski seakan membuka luka-luka lama, namun cara inilah yang bisa membuat kisah-kisah tersebut tidak lenyap dari sejarah, dan mampu mengajak pembaca untuk berempati terhadap korban.


Namun cara pertama saja tidak cukup. Menurut Semujanga, karya sastra tentang trauma juga harus mengungkapkan apa yang disebut resilience, yaitu kisah tentang manusia-manusia yang tetap bertahan hidup meski berkali-kali digempur penderitaan.[16] Saya kira, cara kedua inilah yang sangat penting untuk memastikan bahwa sebuah karya tidak jatuh pada kecenderungan “mengeksotisasi” apalagi “mengeksploitasi” kekerasan sebagai nilai tawar utamasebuah novel. Dengan kisah tentang resiliensi, sastra tidak hanya mengungkapkan masa lalu yang penuh luka, namun juga menawarkan masa depan di mana harapan masih selalu ada. Cara kedua ini pula yang dipakai Boris Diop dalam menarasikan genosida Rwanda. Melalui keragaman suara tokoh-tokohnya, novel ini akan memperkenalkan kita pada sosok-sosok yang percaya bahwa ada yang tetap bisa dibangun dari puing-puing peradaban yang pernah remuk redam. Kita misalnya akan bertemu sosok Siméon Habineza, lelaki tua yang kehilangan seluruh anak istrinya selama genosida namun memilih tak memupuk dendam, dan justru membangun panti asuhan untuk anak-anak yatim korban genosida. Selain itu, ada pula tokoh-tokoh seperti Cornelius Uvimana, Jessica Kamanzi, hingga Stanley Ntaramira yang mencoba sembuh dari trauma masa lalu dengan turut mendukung proses rekonsiliasi Hutu-Tutsi dengan peran masing-masing.


Namun saya kira, Boris Diop juga menggunakan narasi polifoni untuk menemukan cara ketiga dalam menceritakan trauma genosida, yaitu dengan mengungkap kompleksitas politik sekaligus relasi kuasa Selatan-Utara[17]di balik genosida Rwanda. Dalam novel iniBoris Diop menciptakan seorang tokoh bernama Kolonel Étienne Perrin yang merupakan seorang tentara Prancis yang bertugas di Rwanda. Melalui tokoh inilah, novel ini mengungkap bahwa ada keterlibatan Prancis dalam genosida Rwanda. Tak tanggung-tanggung, novel ini dengan tegas bahkan menulis “Senang atau tidak, apa yang telah terjadi di Rwanda adalah bagian dari sejarah Prancis abad 20.”[18] Singkat kata, melalui suara Étienne Perrin, kita akan mengenal sebuah fenomena neokolonialisme yang disebut Françafrique.


Apa itu Françafrique?


Secara singkat, Francafrique merujuk pada relasi neokolonialisme Prancis terhadap negara-negara Afrika yang sebagian besar merupakan bekas koloninya. Françafrique merupakan mesin raksasa yang memaksa Afrika tetap tergantung terhadap Prancis baik secara ekonomi, sosial, politik, dan budaya, meskipun negara-negara Afrika telah merdeka sejak tahun 1960-an. Sistem ini bekerja dengan berbagai cara, seperti menempatkan politikus-politikus lokal pro-Prancis sebagai presiden, menyeponsori kudeta-kudeta militer, memaksakan bahasa Prancis sebagai bahasa nasional, dan lain sebagainya, yang semuanya mengarah pada satu tujuan, yaitu mengeruk sebanyak-banyaknya sumber daya alam Afrika. Dalam dua dekade terakhir, istilah ini sangat populer dalam kajian poskolonialisme di Prancis setelah seorang ekonom progresif bernama François-Xavier Verschave menulis buku berjudul La Françafrique: le plus long scandale de la République (1998). Melalui buku inilah, Verschave mengungkap bahwa segala mala di Afrika, mulai dari kelaparan, korupsi, diktatoriat, perang sipil, genosida, dan daftar panjang keruwetan lainnya, bukan semata terjadi karena ketidakbecusan orang Afrika, namun juga akibat sepak terjang Prancis di benua tersebut.[19]


Di Rwanda sendiri, fenomena Françafrique merupakan isu tak terbantahkan kendati negara ini tak pernah dijajah langsung oleh Prancis. Campur tangan Prancis bermula pada tahun 1973 ketika Juvénal Habyarimana baru sajamengkudeta presiden pertama Rwanda, Grégoire Kayibanda. Sadar akan posisinya yang belum kuat, Habyarimana berusaha mencari sekutu yang bisa membekengi dan melanggengkan kekuasaannya. Di tengah situasi inilah, Prancis datang sebagai sekutu yang menawarkan sistem kerja à la mafia, “je te protège, je te garantis, mais cela a un prix”(Aku melindungimu, aku menjamin kekuasaanmu, tetapi semua ada harganya).[20]


Prancis pun mulai menyokong bantuan-bantuan militer. Selama perang melawan FPR, Prancis bahkan turut menyeponsori Interahamwe yang selama ini telah membantai puluhan ribu orang Tutsi. Di hadapan sekutu yang bisa mengobral keuntungan, semboyan humanisme dan liberté d’expression yang selalu Prancis gaung-gaungkan mendadak impoten.


Tentu saja semua itu tidak cuma-cuma. Dengan membekengi rezim Habyarimana, Prancis mendapat kesempatan untuk mempertahankan hegemoni bahasa Prancis di Rwanda dan negara-negara sekitarnya. Hal ini penting mengingat ketahanan bahasa Prancis merupakan pintu pertama untuk bisa mengeruk profit-profit lain yang lebih besar, terutama terkait bahan mentah industri dan mineral Afrika. Selain itu, sepak terjang ini juga berhubungan dengan trauma sejarah ketika bahasa Prancis kehilangan pengaruhnya di Afrika akibat kekalahan  Prancis dari Inggris dalam krisis di Fashoda.[21]


Murambi, Buku tentang Tulang Belulang juga mengecam sikap Prancis selama genosida berlangsung. Sebagai negara yang kerap terlibat dalam operasi militer Rwanda, Prancis sebenarnya telah menempatkan ribuan tentaranya di Rwanda bahkan sejak jauh hari sebelum genosida. Namun alih-alih berusaha menghentikan pembantaian yang tepat berada di bawah hidung mereka, tentara Prancis justru berkacak pinggang sambil berkemah di sekitar titik-titikpembantaian. Dalam novel ini, Boris Diop menarasikan ulang fakta sejarah tersebut dengan menampilkan satu adegan yang menceritakan satu pleton tentara Prancis yang berkemah dan bermain voli tepat di samping Sekolah Teknik Murambi, latar utama pembantaian dalam novel ini.


Dakwaan terkeras Diop juga ditujukan terhadap Operasi Turquoise, yaitu operasi militer Prancis di Rwanda yang dilakukan pada akhir Juni 1994, atau tiga bulan setelah dimulainya genosida. Dalam operasi tersebut, Prancis memobilisasi 2500 tentara untuk menciptakan zona-zona perlindungan korban genosida.[22] Pertanyaannya, mengapa Prancis baru bergerak ketika setidaknya 800 ribu orang telah tewas? Di saat Rwanda telah menjadi lautan darah, Prancis tiba-tiba berlagak menjadi pahlawan.


Menurut Colette Braeckman, seorang jurnalis Belgia, tak ada satupun alasan logis yang mampu menjelaskan tindakan tersebut, kecuali bahwa Operasi Turquoise bertujuan untuk melindungi Interahamwe dari kemenangan mutlak FPR.[23] Sebab seperti sudah menjadi rahasia umum, Prancis adalah sahabat mesra dari organisasi paramiliter tersebut. Novel ini nampaknya memiliki pandangan serupa dengan Braeckman ketika ia menampilkan sebuah sekuen yang menceritakan para jagal Interahmwe yang berteriak “Vive la France!” ketika pasukan Operasi Turquoise datang.


Uniknya, Murambi, Buku tentang Tulang Belulang ditulis pada tahun 2000, tetapi nyaris semua kecurigaan Boris Diop terhadap Prancis terbukti 21 tahun kemudian ketika terbit sebuah dokumen setebal lebih dari 1000 halaman bernama Rapport Duclert. Secara singkat, Rapport Duclert adalah dokumen sejarah yang mengungkap sejauh mana keterlibatan Prancis selama genosida Rwanda. Dokumen ini disusun oleh 15 sejarawan Prancis yang mendapat akses membuka arsip kepresidenan, militer, dan intelijen Prancis dalam kasus Rwanda. Kesimpulan utama dari dokumen tersebut adalah bahwa Prancis mempunyai “la responsabilité lourdes et accablantes” alias “tanggung jawab berat dan fatal” karena telah berpura-pura buta terhadap proses persiapan hingga eksekusi genosida Rwanda. Pasca rilisnya dokumen tersebutPresiden Macron terbang ke Rwanda pada 27 Mei 2021 dan menyampaikan pidato di Kigali yang mengakui keterlibatan dan tanggung jawab Prancis selama genosida. Pidato tersebut mendapat tanggapan dari Paul Kagame, Presiden Rwandasaat ini, yang mengatakan bahwa pengakuan tersebut jauh lebih berharga dibanding sekadar permintaan maaf.[24]

 

Dari Genosida 1994 ke Genosida 1965

 

Sikap kritis terhadap relasi neokolonial inilah yang menjadi ciri khas dari karya-karya Boubacar Boris Diop.[25]Alasan ini pula yang membuat saya merasa bahwa novel ini begitu penting untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebab sejauh pembacaan saya, belum banyak karya sastra Indonesia yang membahas isu relasi kuasa dalam politik internasional terkait isu kekerasan negara, apalagi jika itu menyangkut tragedi genosida 1965.[26]


Padahal seperti kita tahu, hari ini sudah menjadi rahasia umum jika Amerika Serikat adalah aktor besar di balik genosida 1965—sebagaimana Prancis di balik genosida Rwanda. Fakta ini juga sudah dibeberkan pada tahun 2015 oleh International People’s Tribunal di Belanda yang menyatakan dengan jelas bahwa Amerika Serikat telah membantu militer Indonesia dalam melakukan pembunuhan, penyiksaan, perbudakan, hingga kekerasan seksual selama genosida 1965.[27]


Proses keterlibatan tersebut juga dibahas secara detil oleh Vincent Bevins dalam bukunya, Metode Jakarta (2022)yang menyimpulkan bahwa Amerika Serikat adalah “bagian tak terpisahkan dari operasi 1965 dalam tiap tahapnya, berawal jauh sebelum darah pertama tumpah, sampai jenazah terakhir rubuh.”[28]


Bagaimana proses keterlibatan tersebut?


Campur tangan Amerika Serikat berawal dari konteks perang dingin ketika mereka harus melawan Uni Soviet dan ideologi kiri yang begitu cepat menyebar di Asia. Di Indonesia sendiri, PKI bahkan sukses menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Kondisi ini tentu membuat Amerika Serikat kalang kabut. Apalagi kala itu, Soekarno semakin merapat pada ide-ide kiri dan terus menyerukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak Indonesia.[29]


Demi mencegah hal tersebut, Amerika mulai menyusun berbagai strategi untuk melemahkan kekuatan Soekarno. Mereka mulai merancang taktik-taktik macam Francafrique, yang kelak akan kita kenal dengan nama Metode Jakarta. Salah satu strategi awal tersebut adalah dengan menjalin kedekatan dengan ABRI yang sejak lama memang kerapberseberangan dengan kaum komunis. Maka sejak 1958, Amerika mulai memberikan pelatihan operasi, intelijen, dan logistik terhadap lebih dari seribu tentara Angkatan Darat Indonesia yang mereka bawa ke Pangkalan Fort Leavenworth, Kansas. Dari pangkalan inilah, kelak akan lahir jendral-jendral Anti-Soekarnoyang sekaligus sangat antikomunis, dan teguh mendukung kebijakan liberal Amerika.[30]


Kerjasama CIA dengan para alumni Kansas ini akan menjadi kunci dari operasi penumpasan 1965. Sepanjang Oktober 1965, misalnya, CIA turut membantu ABRI dalam menyebarkan berita-berita palsu tentang kekejaman PKI. Berita-berita inilah yang kelak akan membakar kebencian rakyat sipil dan membuat mereka sukarela menjadi jagal yang siap menumpas siapapun orang-orang terduga PKI. Pada Desember 1965, kantor CIA di Bangkok juga terus mengirimkan suplai senapan, medis, dan daftar nama orang-orang terduga kiri kepada ABRI, yang nantinya akan mereka salurkan pada para jagal di lapangan. Secara keseluruhan, hubungan gelap CIA dan ABRI ini diperkirakan membunuh satu juta orang Indonesia. Sarwo Edhie Wibowo, sosok yang dijuluki jendral penumpas PKI, bahkan sesumbar jika tentara telah melibas setidaknya tiga juta nyawa.[31]


Tentu bantuan Amerika juga bukan tanpa syarat. Pasca lengsernya Soekarno, Indonesia harus meneken syarat kerelaan mengadopsi ekonomi IMF. Namun itu saja belum cukup. Hanya beberapa hari setelah naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan, orang-orang Freeport langsung menjelajahi hutan Papua dan segera menemukan gunung di Tembagapura yang kini menjadi tambang emas terbesar dunia.[32] Singkat kata, jika ada yang paling diuntungkan dari genosida 1965, maka ia adalah Amerika Serikat. Dan jika ada yang paling dirugikan, maka ia adalah bangsa Indonesia.


Pertanyaannya, sejauh mana sastra Indonesia pernah membahas keterlibatan Amerika Serikat tersebut?


Ironisnya, sastra Indonesia justru pernah menjadi bagian dari sistem ciptaan Amerika yang turut melanggengkan kekerasan dalam isu genosida 1965. Hal ini sudah diungkap oleh Wijaya Herlambang dalam bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965 (2013), yang menunjukkan bagaimana CIA telah menyusupi dunia sastra Indonesia melalui lembaga kebudayaannya yang bernama CCF (Congress for Cultural Freedom).[33] Sejak dekade 1950-an, CCF misalnya telah menyeponsori majalah politik kebudayaan Konfrontasi yang dijuluki sebagai majalah corong antikomunis.[34] Pasca 1965, CCF juga semakin gencar dalam mengarahkan kebudayaan Indonesia agar bersifat liberal, anti-marxisme, dan bahkan mendukung militerisme khas Orde Baru. CCF misalnya turut mendanai majalah Horison yang kerap menerbitkan karya sastra yang menormalisasi pembantaian terhadap orang-orang terduga komunis. Seperti ditulis Wijaya Herlambang, Horison bekerja dengan cara menerbitkan kisah-kisah bertema tragedi 1965 yang dengan cara sangat halus mengarahkan pembaca untuk bersimpati terhadap para jagal, alih-alih korban genosida.[35]


Tentu tidak semua karya sastra Indonesia mempunyai sikap serupa. Novel September (2006) karya Noorca M. Massardi, misalnya, adalah satu—kalau bukan satu-satunya—karya sastra Indonesia yang telah secara ekspisit menyinggung keterlibatan CIA dalam kudeta 1965.[36] Novel yang dijuluki Wijaya Herlambang sebagai “karya sastra pertama yang menjungkirbalik narasi resmi peristiwa 1965”[37] ini dengan berani menampilkan pembantaian 1965 sebagai buah dari konspirasi para jendral sayap kanan yang disokong Amerika. Selain itu, Yoseph Tapi Taum dalam artikelnya Kritik New Historicism dalam Pergulatan Akademis Ilmu Sastra: Studi Kasus Representasi Tragedi 1965, juga telah mengungkap jika ada beberapa karya sastra Indonesia, khususnya dari periode 1965-1970 dan 1981-1998, yang telah melakukan perlawanan humanistik terhadap Orde Baru dengan cara membingkai genosida 1965 sebagai kejahatan kemanusiaan, alih-alih peristiwa heroik seperti yang terus dilembagakan pemerintah Soeharto. Bagi Taum, sastra Indonesia bahkan pernah menjadi “penjaga nurani bangsa” karena berani menunjukkan simpati terhadap korban di era ketika “menghalalkan pembantaian anak bangsa yang terkait organisasi politik PKI beserta anak, cucu, dan sanak saudaranya” masih dianggap wajar.[38]


Hari ini, lebih dari 50 tahun setelah genosida 1965, saya kira sudah saatnya kita—sastra Indonesia secara khusus, dan bangsa Indonesia secara umum—melihat peristiwa tersebut sebagai tragedi yang tidak berdiri sendiri di satu negara bernama Indonesia. Sebab bagaimanapun, tragedi ini bukan semata peristiwa trauma kolektif bangsa kita, tetapi juga bagian dari kompleksitas politik global dalam konteks relasi kuasa Selatan-Utara. Hanya dengan melihat setiap kekerasan negara melalui perspektif tersebut, maka kita akan merasa terhubung dengan bangsa-bangsa lain yang sampai hari ini juga masih berjuang lepas dari jerat penindasan neokolonial, entah dalam nama Françafrique, Metode Jakarta, dan lain sebagainya. Dan semoga, melalui novel yang berada di tangan Anda inilah, kita akan berangkat untuk lebih merefleksikan apa yang disebut sebagai solidaritas global.

 

Ari Bagus Panuntun

Yogyakarta, 18 Mei 2023

Tulisan ini merupakan kata pengantar untuk novel Murambi, Buku tentang Tulang Belulang

 

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtine, Mikhaïl, La poétique de Dostoïevski (Paris: Seuil, 1970)

Bevins, Vincent, Metode Jakarta, (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2022)

 

Braeckman, Colette. “Cowardice and Conscience.” World Policy Journal, vol. 15, no. 4, 1998,

Diop, Boubacar Boris, La ViE en %$ !, (Foreign Policy, 2010)

Diop, Boubacar Boris, Murambi, le livre des ossements, (Paris: Stock, 2000)

Diop, Boubacar Boris, The Montpellier Summit : The New Look of Françafrique, diakses di https://blogs.mediapart.fr/boubacar-boris-diop/blog/081021/montpellier-summit-new-look-francafrique (2021)

Final Report of the IPT 1965: Finding and Documents of the International People’s Tribunal on Crimes against Humanity Indonesia 1965 (Jakarta, 2013)

Foulcher, Keith, “Bringing the World Back Home: Konfrontasi and the International Orientation in Indonesian National Culture, 1954-1960” Heirs to World Culture, (2012)

Herlambang, Wijaya, Kekerasan Budaya Pasca 1965 (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2019)

Mabanckou, Alain, Huit leçons sur l'Afrique, (Paris: Grasset, 2020)

Massardi, Noorca M., September, (Yogyakarta: Basabasi, 2017)

Mathé, Philippe, Génocide, Tutsi et Hutu, rôle de la France… Que s’est-il passé en 1994 au Rwanda?, diakses di https://www.ouest-france.fr/monde/rwanda/genocide-tutsi-et-hutu-role-de-la-france-que-s-est-il-passe-en-1994-au-rwanda-4c561752-bee3-11eb-a219-8f747c6d3d1b

Melvin, Jess, Berkas Genosida Indonesia: Mekanika Pembunuhan Massal 1965-1966, (Depok: Komunitas Bambu, 2022)

Ndiaye, Christiane. "Monstres, princesses et justicières : du féminin pluriel chez Boubacar Boris Diop." Études françaises, volume 55, number 3, (2019) https://doi.org/10.7202/1066606ar

Nugraha, Kelana Wisnu Sapta, “Elang Liberal di Kaki Langit Indonesia”, Finks: Bagaimana CIA mengelabui Para Penulis Besar Dunia, (Pustaka Pias: Bandung, 2021)

Sartre, Jean Paul, Qu'est ce que la littérature, (Paris: Gallimard, 1947)

Seck, Fatoumata, “Mettre sa langue à la première place : entretien avec Boubacar Boris Diop” Études littéraires africaines, 2018 

Semujanga, Josias, “Narratives of the Rwandan Genocides” The Routledge Companion to Literature and Trauma (Oxfordshire: Routledge, 2020)

Taum, Yoseph Tapi, “Kritik New Historicism dalam Pergulatan Akademis Ilmu Sastra: Studi Kasus Representasi 1965” Poe(li)tics, Esai-esai Kritik Sastra di Indonesia (Yogyakarta: PKKH UGM, 2015)

Verschave, François-Xavier, La Françafrique: le plus long scandale de la République, (Paris: Stock, 1998)  

Whitney, Joel, Finks: Bagaimana CIA mengelabui Para Penulis Besar Dunia, (Bandung:Pustaka Pias, 2021)



[1] Boubacar Boris DiopMurambi, le livre des ossements, (Paris: Stock, 2000)

[2] Alain Mabanckou, Huit leçons sur l'Afrique, (Paris: Grasset, 2020), 175

[3] Selain Hutu dan Tutsi, ada pula orang Twa yang merujuk pada para pemburu. Persentase orang Twa sangat sedikit, hanya sekitar 1% penduduk Rwanda

[4] Josias Semujanga, “Narratives of the Rwandan Genocides” The Routledge Companion to Literature and Trauma (Oxfordshire: Routledge, 2020), 395

[5] Ibid

[6] Saat itu Rwanda masih menjadi bagian dari negara jajahan bernama Urundi-Ruanda yang merupakan aneksasi antara Burundi dan Rwanda yang dilakukan oleh Belgia.

[7] Alain Mabanckou, op.cit, 76-185

[8] Ibid

[9] Philippe Mathé, Génocide, Tutsi et Hutu, rôle de la France… Que s’est-il passé en 1994 au Rwanda?, diakses di https://www.ouest-france.fr/monde/rwanda/genocide-tutsi-et-hutu-role-de-la-france-que-s-est-il-passe-en-1994-au-rwanda-4c561752-bee3-11eb-a219-8f747c6d3d1b(2021)

[10] Christiane Ndiaye. "Monstres, princesses et justicières : du féminin pluriel chez Boubacar Boris Diop." Études françaises, volume 55, number 3,(2019) https://doi.org/10.7202/1066606ar

[11] Sastrawan engagé atau sastrawan terlibat adalah istilah yang diperkenalkan Jean Paul Sartre untuk merujuk pada para penulis yang konsisten menyuarakan isu-isu sosial dengan perspektif progresif. Selengkapnya baca: Jean Paul Sartre, Qu'est ce que la littérature, (Paris: Gallimard, 1947)

[12] Fatoumata Seck, “Mettre sa langue à la première place: entretien avec Boubacar Boris Diop” Études littéraires africaines, 2018

[13] Kata “poskolonial” di sini merujuk pada sifat dari karya sastra yang mencoba menggugat dampak-dampak dari kolonialisme terhadap eks bangsa-bangsa terjajah. Sementara kata “pascakolonial” merujuk pada keterangan waktu yaitu masa setelah kemerdekaan. Dalam bahasa Prancis, istilah “poskolonial” dan “pascakolonial” dibedakan dengan istilah “postcolonial” dan “post-colonial.”

[14] Mikhaïl Bakhtine, La poétique de Dostoievski, 1970, Paris, Seuil

[15] Josias Semujanga, op.cit, 2020, 399

[16] Ibid

[17] Terjemahan dari Global South-Global North. Dalam diskusi tentang politik global, konsep Selatan-Utara tidak sepenuhnya merujuk pada posisi geografis. Istilah Selatan lebih merujuk pada negara-negara berkembang yang mengalami problem ketimpangan global. Sementara istilah Utara merujuk pada negara-negara maju yang mayoritas adalah bekas negara penjajah.

[18] Boubacar Boris Diop, op.cit, 2000

[19] François-Xavier Verschave, La Françafrique: le plus long scandale de la République, (Paris: Stock, 1998); Boubacar Boris Diop, La ViE en %$ !, (Foreign Policy, 2010)

[20] Fatoumata Seck, op.cit

[21] Ibid

[22] Fatoumata Seck, op.cit; Boubacar Boris Diop, The Montpellier Summit : The New Look of Françafrique, diakses di https://blogs.mediapart.fr/boubacar-boris-diop/blog/081021/montpellier-summit-new-look-francafrique (2021)

[23]Colette Braeckman, “Cowardice and Conscience.” World Policy Journal, vol. 15, no. 4 (1998)

[24] Philippe Mathé, op.cit

[25] Dalam novel-novelnya yang lain seperti Le temps de Tamango (1981), Les tambours de la mémoire (1987), hingga Kaveena (2006), Boris Diop juga menyinggung keterlibatan Prancis dalam kekerasan-kekerasan negara di Afrika

[26] Istilah genosida ini misalnya dipakai Jess Melvin dalam bukunya Berkas Genosida Indonesia: Mekanika Pembunuhan Massal 1965-1966. Lihat: Jess Melvin, Berkas Genosida Indonesia: Mekanika Pembunuhan Massal 1965-1966, (Depok: Komunitas Bambu, 2022)

[27] Final Report of the IPT 1965: Finding and Documents of the International People’s Tribunal on Crimes against Humanity Indonesia 1965(Jakarta, 2013)

[28] Vincent Benvins, Metode Jakarta, (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2022), 240

[29] Ibid, 175

[30] Ibid, 122-123

[31] Ibid, 238

[32] Ibid, 234

[33] Mengenai sepak terjang CCF dalam mempengaruhi arah kebudayaan dunia hingga cara mereka mengelabui penulis macam Baldwin, Hemingway, dan Gabriel Garcia Marquez, baca: Joel Whitney, Finks: Bagaimana CIA mengelabui Para Penulis Besar Dunia, (Bandung:Pustaka Pias, 2021)

[34] Julukan ini diberikan karena Konfrontasi menerbitkan secara regular terjemahan esai dan sastra dari penulis-penulis antikomunis. Lihat: Kelana Wisnu Sapta Nugraha, “Elang Liberal di Kaki Langit Indonesia”, Finks: Bagaimana CIA mengelabui Para Penulis Besar Dunia, (Pustaka Pias: Bandung, 2021), p.xvi; Lihat juga Keith Foulcher, “Bringing the World Back Home: Konfrontasi and the International Orientation in Indonesian National Culture, 1954-1960” Heirs to World Culture, (2012)

[35] Wijaya HerlambangKekerasan Budaya Pasca 1965, (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2019), 103

[36] Noorca M.Massardi, September, (Yogyakarta: Basabasi, 2017)

[37] Wijaya Herlambang, op.cit, 268

[38] Yoseph Tapi Taum, “Kritik New Historicism dalam Pergulatan Akademis Ilmu Sastra: Studi Kasus Representasi 1965” Poe(li)tics, Esai-esai Kritik Sastra di Indonesia (Yogyakarta: PKKH UGM, 2015), 137