[Terjemahan] Kereta Hantu - Emmanuel Boundzéki Dongala

Matahari ! Sinar matahari sedang silau betul saat aku keluar dari lab. Hari yang terik pada musim panas di New York dengan pohon-pohon, daun-daun hijau, udara lembab, juga asap yang membumbung tinggi dari gedung-gedung pencakar langit dan membuat langit tampak muram. Aku sebenarnya punya hasrat konyol untuk berjingkrak-jingkrak dari lab sampai Stasiun Central Park, tapi aku tak punya banyak waktu. Kerja. Kereta. Persimpangan jalan. Lampu lalu lintas masih hijau dan aku belum bisa menyeberang. Baris demi baris mobil perlahan-lahan melewatiku. Darah kehidupan mengalir sepanjang arteri makadam. Sinar matahari memantul di kaca depan sebuah mobil dan membuatku silau. Ah, kalau saja aku punya kacamata hitam seperti para penjaga bioskop ituO.K kids, hands up! Para polisi nampak menggelikan dengan tongkat lalinnya. Seorang pria Irlandia bertubuh kekar terus mengunyah permen karet. Lampu merah. Dan aku mulai menyeberang. Loket stasiun. Antrian mengular seperti sering terjadi pada jam-jam sibuk. Seorang nenek-nenek di depanku mengeluarkan beberapa keping receh dari sakunya dan salah satunya jatuh. Ia tampak sedih melihat koinnya menggelinding lalu lenyap di antara kaki orang-orang. Aku tersenyum. Kini giliranku. Petugas loket langsung meminta 2 keping 10 sen tanpa senyum sedikitpunKubalas sikap tak acuhnya dengan pergibegitu saja tanpa terima kasih. Aku turun tangga dan kuikuti petunjuk arah menuju pusat stasiun. Semakin turun, keadaan semakin gelap. Aku sempat berhenti beberapa kali supaya mataku terbiasa dengan gelap. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh kereta yang entah menuju mana. Akhirnya aku tiba di peron. Ada tiga bangku dan dua gadis sedang duduk di salah satu bangku tersebut. Dengan sengaja, aku duduk tepat di sebelah gadis pirang yang paling cantik; dia cuek. Aku pun pindah ke bangku sebelahnya, mengambil jarak dan menatapnya sejenak lalu berusaha melempar senyumku yang paling manis. Sia-sia! Demi apapun aku tak sukagadis blonde, aku lebih suka yang brunette! Sudahlah. Stasiun tampak begitu dekil: puntung rokok, kertas-kertas koran, tutup dan botol bir, semua berserakan. Kulihat sekeliling dan kubaca sebuah peringatan di dinding “Dilarang Meludah”. Mendadak aku langsung ingin meludahinya. Sebuah mesin minuman kaleng memampang tulisan “Pingin gaul? Minum Coca-cola !” Hmm… Tak terasa stasiun menjadi penuh sesak. Seorang nenek-nenek usia 80 atau 90-an berdiri tepat di depanku. Tubuh bungkuknya yang disangga tongkat tampak begitu lelah dan ringkih. Ia menyeringai padaku dengan gigi mulus ompong. Sungguh mengerikan! Aku bangkit dari tempat duduk dan menawarkan tempatku pada seorang gadis cantik nan pirang yang berdiri persis di sebelah nenek tua tadi. Aku sungguh suka cewek, terutama cewek blondeIa awalnya menolak namun akhirnya mau juga. Oh wanita, tak pernah “iya” pada saat pertama. La donna è mobile! (Wanita sungguh membingungkan!). Kupandangi lagi sekeliling dan kuperhatikan dinding-dinding sepanjang stasiun. Dimana-mana ada reklame dan grafiti. Mataku rabun sehingga tak bisa membaca tulisan-tulisan itu dengan jelas; aku mendekat dan membaca salah satunya “Mending jadi komunis daripada kawin!”. LucuAku mulai lelah, bosan, dan jengkel. Aku kembali mendekat ke arah bangku namun sepatuku tak sengaja menginjak permen karet dan aku nyaris terjungkal. Kugosok-gosokkan sepatuku ke lantai tapi permen karet itu tak mau lepas. Menjijikkan.  Aku kembali mendekat ke bangku. Gadis pirang tadi menoleh ke arahku; aku tersenyum padanya. Namun ia bergeming. Apa dia sudah lupa aku?!? Sungguh, aku benci wanita, terutama wanita blonde! Tepat saat itu lah, seseorang ujug-ujug bertanya, “Eh bung, kereta ini ke arah mana ya?” “Ke Neraka bos,” jawabku. Ia jengkel dan mengumpat: bajingan. Bodo amat lah, pikirku. Sekarang stasiun benar-benar penuh. Gerah. Ternyata New York segerah ini di musim panas. Aku kembali berjalan dengan dua tangan kumasukkan dalam saku. Sebuah kaleng Coca-cola kosong tergeletak di depanku. Aku sepak ia sekencangmungkin. Kaleng itu berkelontangan. Saat itulah orang-orang menoleh ke arahku, memperhatikanku: akhirnya aku ada! Orang-orang aneh, entah yang berkacamata atau tidak. Tak ada dari mereka yang kukenal, dan sebenarnya aku juga tak peduli. Biarkan aku menyukai sembarang orang, kebebasan, demokrasi, sosialisme, keadilan, dan sebagainya, dan  sebagainya. Oke, aku akan mendekat ke mesin Coca-cola dan siap menjadi gaul. Mereka kembali melirikku. Aku sungguh suka orang New York, mereka memang jempolan, aku bahkan siap mampus demi mereka. Kuambil sekeping koin 10 sen dan kumasukkan ke lubang mesin sebelum memencet tombol. Sebuah paper cup terlepas dan mulai terisi Coca-cola. Sial, kereta datang! Aku tergesa dan meninggalkan Coca-Cola-ku begitu saja. Orang gaul berikutnya akan dapat minuman gratis! Ada barang gratis di Amerika! Sebentar lagi, seseorang akan berpikir dunia sungguh menakjubkan! Pintu kereta terbuka. Kereta yang tadi lengang mendadak penuh sesak. Kami berdesakan dengan kacau, saling tendang, saling sikat, saling sikut. Voilà, beginilah orang New York dan aku benci sekali pada mereka! Mereka selalu berebut tempat untuk kepentingannya sendiri. Pintu kereta tertutup. Berangkat. Kereta tiba-tiba menghentak dan membuatku terlempar ke belakang, membuat orang-orang di depanku ikut jatuh menindihku. Sembari berusaha menemukan lagi keseimbangan, aku berpapas muka dengan seorang gadis (lagi-lagi) blonde. Aku mengernyit padanya tanpa memberikan senyum. Aku mendekat, mencuri kesempatan sebisa mungkin untuk menyenggol teteknya yang menyembul. Goncangan kereta lagi-lagi membuatku terlempar mundur dan saat aku kembali ke posisi tadi, tiba-tiba sudah ada orang berdiri di antara kami. Ah, selalu saja ada yang menyempil di antara kita dan hal yang paling kita sukai di dunia. “C’est la vie”, “begitulah hidup”, kata orang Prancis. Seseorang menghujamkan sikunya ke jidatku, sedang yang lain menjotos lambungku. Seorang tentara meremukkan jempol kakiku dengan pantofelnya. Kutatap ia tajam-tajam dengan raut murka: ia berbisik minta maaf namun jelas hanya basa-basi. Seorang jagoan di depanku mencoba membaca koran. Oh, si maha akrobat! Orang-orang mendorong, memepet, menyikutnya, namun ia tak peduli dan tetap membaca. Seorang wanita paruh baya berbadan gendut ngorok di tempat duduknya dengan mulut melompong; tubuhnya berpeluh keringat. Aku benar-benar benci cewek gendut, terutama yang tidur di métro dengan mulut melompong. Aku makin merasa gerah. Lelaki di depanku berbau busuk dan seisi dunia mendadak ikut busuk. Aku berbalik, mengamankan hidungku ke arah lain. Kini aku bertatap muka dengan seorang lelaki berwajah mengesankan: seorang badut. Ia pasti seorang aktor atau pelawak atau apalah. Keringat mengalir di dahi, pipi, dan mulutnya dan melelehkan make upmascara, cat merah, cat hijau, dan cat putihnya. Wajahnya yang warna-warni terasa begitu ganjil. Seperti apa wajah aslinya? Yang terlihat hanya bulu matanya; Kedua sayap hidungnya kembang kempis butuh udara. Apa dia akan mati lemas? Ia menatapku, aku bergidik melihat topengnya. Topeng kematian. Ia menginginkanku. Tapi aku masih mau hidup. Keringatku mengalir deras dan semakin deras. Bunyi rel menderit, lampu kereta mati, hidup lagi, mati lagi. Topeng itu kembali menatapku tajam seolah ingin menyeret, menyerapku dalam ketiadaan. Aku coba memejamkan mata, tidak, aku tak bisa melihat lagi. Kereta ini berputar, aku ketakutan, kereta ini cepat sekali, ini kereta hantu, ia tak berhenti, tak mau berhenti, terus terjun dalam lingkaran, berputar, berputar, berputar…

***
 
Judul Asli: Mon Métro Phantôme
 
Penulis: Emmanuel B Dongala
 
Bahasa sumber: Prancis
 
Buku sumber: Kumpulan Cerpen Jazz et vin de palme
 
Emmanuel Boundzéki Dongala, lahir 14 Juli 1941, adalah seorang Profesor kimia cum sastrawan Kongo. Cerpen Mon Métro Phantôme menggambarkan keterasingan yang dialami imigran kulit hitam di Amerika, di tengah arus modernisasi dan stereotip yang melekat padanya. Cerpen yang diceritakan dengan gaya orang mengoceh ini terdapat dalam kumpulan cerpen Jazz et Vin de Palme (1982). Kumcer ini terbit ketika Kongo masih berada di bawah kekuasaan rezim Marxist-Leninist otoritarian dan sempat dilarang di negaranya karena isinya yang satir dan penuh olok-olok pada rezim tersebut.
 
Sumber:
Dongala, Emmanuel Boundzeki. 1982. Jazz et Vin de Palme. Paris: Hatier

Tidak ada komentar:

Posting Komentar