UTOPIA KAMI: PULAU BAJAK LAUT, TOPI JERAMI, DAN GEN Z MADAGASKAR

Penulis: Jean-Luc Raharimanana

 

Penerjemah: Ari Bagus Panuntun

 

2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka yang sambil menggulingkan diktator, justru menyiapkan sistem baru yang menindas dan korup. Tentu bukan kebetulan. Ketika semua dimulai dengan membakar buku, membungkam para pemikir. Itulah yang terjadi pada ayahku. Juga perpustakaan masa kecilku; hanya sedikit buku yang lolos dari kobaran api.

 

Pernahkah kau melihat huruf-huruf lebur menjadi abu? A atau B, seperti darah dengan tinta gelap, yang mendidih dan menyala. C atau Z, yang tanpa sayap, jatuh terhempas ke halaman yang menghitam, ternoda ujung sepatumu. Dan api dimana-mana. Di antara baris. Di tepi halaman. Di jarak antar kata. Retak. Memutus kalimat. Mengubur cahaya. Api menembus sampai ke makna, lalu menjalar ke kulitmu. Panas. Semakin membara.

 

Begitulah saat buku dibakar. Ketika kata-kata dilarang. Perempuan. Gender. Iklim. Kebebasan. Kata-kata itu bersembunyi di balik bara, berpura-pura hangus. Kata-kata itu menipu, seperti kumbang di bawah tanah, yang pura-pura mati ketika hutan dilalap api. Kata-kata itu bercangkang keras, bertulang sunyi dan kesia-siaan, namun tetap hidup di dalam abu, seolah bisa terhempas lenyap dalam satu hentak, namun mereka tetap ada: menyengat, menyala, menyulut amarah, siap terbentuk kembali dari selirih apapun hembus angin revolusi. Selalu siap.

 

Kata-kata itulah yang hari ini bangkit kembali di Madagaskar. Kata-kata yang dulu dibakar menjadi abu pada 1947, ketika rakyat bangkit melawan penjajah Prancis. Kata-kata yang terhempas desing peluru pada 13 Mei 1972, ketika revolusi mahasiswa menuntut otonomi negeri ini—untuk kembali pada bahasa dan budaya Malagasi, enyah dari pengaruh Prancis yang terus menguasai ekonomi dan budaya negeri ini, memaksakan franc CFA, dan kurikulum akademik Prancis.

 

Kata-kata yang melawan kediktatoran Laksamana Ratsiraka, yang terlalu betah berkuasa, dari 1975 sampai 1991. Kata-kata yang bermandi darah di sawah Iavovoha pada 10 Agustus 1991, ketika sang diktator menyuruh tentara menembaki massa. Kata-kata dari penyiksaan dan perang sipil 2002, yang lantang melawan Ratsiraka yang kembali berkuasa dari 1996 sampai 2002, dan berambisi mencalonkan diri lagi—rela menipu dan menyulut perang saudara, ketimbang menerima kekalahan. Kata-kata dari 2009, yang tumbang oleh rentet senapan mesin, ketika massa di depan Istana Presiden Ambohitsorohitra menuntut mundur Ravalomanana—pebisnis yang dipuja pada 2002 setelah mengakhiri rezim diktator lalu menjadi presiden, namun dibenci tujuh tahun kemudian. Dalam satu periode, ia telah menguasai nyaris seluruh industri ekonomi di pulau ini, dari yogurt sampai biodiesel, dari soda sampai vanili. Ia bahkan ingin mengobral separuh lahan pertanian negara kepada Samsung, untuk ditanam jagung transgenik yang akan diekspor ke Korea Selatan.

 

Kata-kata itulah yang kini bangkit kembali, dihembus angin September 2025, dibawa para pemuda yang memilih menyebut diri sebagai Gen Z.

 

Z bukanlah Z pada Zorro, pahlawan bertopeng yang dulu menjadi panutan generasi tua ketika ingin melawan ketidakadilan. Z adalah Z seperti dalam film garapan Tatsuya Nagamine, One Piece Film: Z. Dan Z juga berarti Zandry, anak bungsu dalam masyarakat Malagasi yang tidak diberi hak bicara. Dalam tradisi kami, kata-kata dianggap sakral bila datang dari leluhur dalam bentuk petuah atau kisah teladan, yang diturunkan lewat ray aman-dreny (“ayah-dan-ibu” secara harfiah)panggilan untuk para tetua yang dianggap bijak dan mampu berbicara dengan leluhur. Kata-kata suci itu lalu turun kepada Zoky, anak-anak tertua, yang menegakkannya tanpa boleh dibantah. Sedangkan para Zandry hanya boleh patuh, hanya boleh diam. Namun, Zandry kali ini, Generasi Z ini, mereka terhubung dengan dunia. Mereka berani bersuara lewat sosial media. Mereka ingin menatap masa depan, tidak hanya mendengar leluhur yang sudah mati. Mereka menolak taklid buta pada para tetua, apalagi para politisi yang justru menjadi jantung korupsi dan penyeleweng kekuasaan, yang merampas gelar ray aman-dreny untuk memaksakan tirani, demi kepentingan pribadi.

 

Dalam film Tatsuya Nagamine, Z adalah nama seorang laksamana yang bersumpah menghancurkan semua bajak laut di New World, karena bajak laut membawa mimpi tentang dunia baru: dunia tanpa pemimpin, yang digerakkan oleh aliansi yang saling menghormati kepentingan setiap orang dan masyarakat. Sistem ini dianggap fiktif, tapi bandingkan itu dengan gelombang perlawanan terbaru pada rezim totaliter Madagaskar: tak ada tokoh politik, tak satu pun pemimpin diakui. Protes yang dimulai 25 September itu tidak dipicu oleh politisi. Ia lahir dari krisis air dan listrik yang telah menjadi momok di pulau ini selama bertahun-tahun.

 

Generasi yang turun ke jalan-jalan di Madagaskar ini adalah mereka yang sepanjang hidupnya mengalami délestage, pemadaman bergilir. Pemadaman yang konon demi efisiensi beban sistem kelistrikan yang rapuh, tapi terjadi setiap hari, kapan pun, siang atau malam. Masalah ini bukan baru muncul, namun telah berlangsung 20 tahun. Air keran berwarna kuning dan mampat. Saat mati listrik, mereka mengerjakan PR dengan lampu ponsel atau lilin. Mereka terancam dirampok atau diperkosa saat pulang malam karena lampu jalan padam. Para remaja tak berani keluar rumah, karena gelap berarti bahaya. Produk makanan beku menjadi basi karena mesin pendingin mati. Memakannya bisa membuat perut melilit atau bahkan botulisme, keracunan makanan yang mematikan—yang beberapa kali terjadi dalam sekian tahun terakhir.

 

Di rumah sakit—bahkan di Befelatanana, rumah sakit umum terbesar di Antananarivo—pasien harus rutin membawa lilin dan air minum kemasan sendiri. Namun, bagaimana mungkin rumah sakit bekerja tanpa listrik? Bagaimana menyalakan ventilator, menghidupkan inkubator untuk bayi prematur, atau memakai mesin radiologi? Generator butuh bahan bakar, dan rumah sakit tak punya cukup bahan untuk setiap unit. Inilah keseharian mereka. Generasi muda yang lahir di tengah kondisi ini.

 

Maka, Gen Z pun menjadi bajak laut. Sebab, pulau ini telah terjebak dalam mesin republik, sebuah sistem yang harus dihancurkan. Mesin yang diimpor dan dicangkok di negeri yang sudah dikuras habis kolonialisme. Mesin yang menuntut kepiawaian dan pendirian di setiap roda gigi, setiap komponen, setiap tingkatan. Padahal, kolonialisme telah membabat habis mereka yang piawai dan berpendirian itu.

 

Pada 1896, di awal penjajahan, ketika Gallieni menjadi residen Menteri baru, bukankah ia memulai tugasnya dengan mengeksekusi Pangeran Ratsimamanga dan sang menteri, Rainandriamapandry? Seolah, itu menjadi contoh, bagi siapa pun yang berani berpikir bahwa Kerajaan Malagasi masih hidup, dan pendudukan kolonial tidak sah. Bukankah Gallieni pula yang membiarkan Kapten Girard membantai habis desa Ambiky pada 29 Agustus 1897, lalu memenggal Raja Toera dari Sakalava yang gigih melawan ekspansi penjajah?

 

Lalu pada 1947, bukankah Prancis pula yang menyusun daftar nama anggota MDRM (Partai Demokratik Restorasi Madagaskar) yang harus dibantai? Ya benar, MDRM yang berani menuntut otonomi dalam Union Française—yang sebelumnya memaksa anak-anak mereka terjun ke Perang Dunia II. Begitu banyak yang gugur, begitu banyak jiwa yang mencintai tanah airnya, begitu banyak bakat sia-sia, yang seharusnya bisa membangun negeri ini!

 

Dan di ujung pembantaian itu, datanglah kemerdekaan pada 1960. Namun, kemerdekaan itu lahir dalam ketimpangan menganga antara mesin demokrasi dan para politisi yang seharusnya “mengoperasikan” sistem itu. Yang terjadi, jabatan itu diisi orang-orang yang telah dibeli Prancis, dan dipilih sendiri oleh Prancis. Dengan begitu, Prancis bisa terus memanipulasi, mengklaim bahwa mereka telah membawa “peradaban” lewat kolonisasi—meski dengan banjir darah dan akulturasi paksa. Tak cukup itu, Prancis juga mengklaim bahwa republik dan demokrasi ini adalah kado untuk Madagaskar. Tapi, demokrasi macam apa yang justru melanggengkan dominasi kolonial untuk menguasai seluruh aspek vital demi keuntungan Prancis: sistem moneter, urusan luar negeri, pendidikan, ekonomi, dan segalanya.

  

Lalu datang Mei 1972, dua belas tahun setelah kemerdekaan: revolusi mahasiswa menjatuhkan Presiden Tsiranana, membersihkan sisa-sisa neokolonialisme. Namun, revolusi itu dibajak kediktatoran baru. Kediktatoran militer bertopeng komunis: sistem impor yang lagi-lagi muncul tanpa mempertimbangkan realitas negeri ini. Sebab, pemerintahan yang benar-benar berpijak pada realitas justru ikut dikubur bersama dengan pembunuhan Ratsimandrava, presiden sementara dari satu-satunya periode Republik ini yang bisa disebut Malagasi—republik yang dibangun dari semangat fihavanana dan fiaraha-monina, konsep hidup komunal dan gotong royong rakyat Madagaskar.

 

Sejak saat itu, negara ini hanya terombang-ambing, melewati sekian periode kekuasaan Laksamana Ratsiraka, yang justru mengilhami Ravalomanana dan Rajoelina, presiden hari ini, dengan konsentrasi kekuasaan yang ekstrem. Madagaskar adalah republik yang dibangun dari mesin perampasan dan korupsi. Pelayan mesin ini hanya para mafia yang dipasang untuk menjarah kekayaan negara—dan Barat turut mendukung dan menikmati kekayaan kami di perut bumi, laut, dan tanah. Perusahaan mana yang tidak bermimpi memiliki buruh yang puas dibayar 60.000-an rupiah per hari?

 

Maka, Gen Z menjadi bajak laut untuk mendobrak sistem busuk tersebut: sistem di mana seluruh tubuh negara—dari pegawai negeri rendahan, menteri, dewan, sampai senator—tak lebih dari roda yang menggerakkan mesin perampokan sang penguasa tertinggi. Dan apakah menenggelamkan sistem ini berarti menolak republik bahkan demokrasi?

 

Namun, Gen Z telah makan bangku sekolah. Mereka memahami dunia, menguasai teknologi modern, media sosial, dan sadar bahwa sistem ini telah menjadi pola di banyak negara—terutama di Asia dan Afrika. Sebuah sistem global di mana negara-negara miskin dijadikan paru-paru dunia, sebab di sanalah tersimpan seluruh kekayaan yang membuat dunia modern tetap bekerja: coltan, minyak, uranium, logam-logam langka, hingga buruh arus migrasi.

 

Kita bisa saja menertawakan mereka, para pemuda yang nyaris masih remaja, yang turun di jalanan Antananarivo. Kita bisa menertawakan mereka yang memakai topi jerami seperti kru Luffy, tokoh utama dalam One Piece.

 

Luffy memakai topi jerami untuk melawan senjata pemusnah massal. Gandhi memakai kain tenun rajutan sendiri saat melawan penjajah Inggris. Dan bukankah topi jerami milik para Gen Z juga dianyam oleh petani miskin desa, bukan korporasi besar?

 

Bukankah bajak laut Topi Jerami, yang berlayar dalam gelap dan terus menerjang ombak, adalah cermin para pemuda ini, yang setiap hari harus menanggung krisis air, pemadaman listrik, dan hidup dalam gulita? Generasi muda yang juga menanggung beban perubahan iklim, dan setengah mati berusaha selamat dari polusi ekstrem Antananarivo.

 

Dengan semua itu, apakah mengejutkan bila presiden Madagaskar—yang bersekutu dengan predator lokal dan asing—tidak ragu mengangkat senjata? Membombardir para pemuda dengan gas air mata, peluru, bahkan menerjang dengan kendaraan lapis baja. Mereka bahkan membiarkan para penjarah berkeliaran, demi mengaburkan tuntutan hak asasi menjadi cerita kekerasan. Kekuasaan yang sama juga menghujani rumah sakit bersalin dengan gas air mata, dan memburu para demonstran sampai ke dalam.

 

Hari ini, 4 Oktober 2025, ketika menulis kata-kata ini, aku akan memilih berani. Berani menatap ke depan, menatap lebih jauh. Melampaui gas air mata. Melampaui rentet senapan, melampaui jerit dan tangis atas luka dan kehilangan. Aku berani menatap ke depan, menatap pada yang setelah.

 

Sebab, cepat atau lambat, presiden macam itu akan jatuh. Jatuh dari kereta gantungnya—sebuah metafora—, kereta yang dibangun dengan jutaan dolar, sementara rakyat hidup tanpa listrik dan jalan. Jatuh dari menara omong kosongnya yang memusingkan—ini bukan metafora. Jatuh dari kekosongan janji-janjinya—dan ini pun bukan metafora. Konstitusi ada untuk melindungi negeri dan warganya, tetapi, apa yang dilakukan mereka yang mengaku mewakilinya?

 

Seorang ketua senat, yang seharusnya mengisi mandat ketika jabatan presiden kosong, justru terus mendorong represi. Para menteri lenyap seperti hantu setelah presiden membubarkan kabinetnya—dan ingin merekrut menteri baru lewat Facebook dan LinkedIn. Para dewan yang tak pernah mewakili suara atau kepentingan rakyat, lebih sibuk dengan mobil 4x4 dan vila yang mereka dapat secara gratis pasca pemilu. Ya, pasti terdengar mustahil. Tapi di Madagaskar, demokrasi memberi kado satu mobil 4x4 dan satu vila untuk anggota dewan terpilih di pemilu legislatif. Dan tahun 2024, ada 163 anggota baru.

 

Maka, aku akan memilih berani. Berani menatap ke depan, menatap lebih jauh. Pemuda ’72 dikhianati oleh pembunuhan Ratsimandrava dan mendapat warisan tiga puluh tahun kediktatoran Ratsiraka. Pemuda ’91 kehilangan harapan karena Ravalomanana. Pemuda 2009 dipermainkan oleh Rajoelina. Dan Gen Z kini mengibarkan bendera bajak laut, bendera One Piece. 

 

Film Z, pada akhirnya bukan sekadar tentang perlawanan pada laksamana jahat yang menguasai setiap lautan. Ia juga mengingatkan kita pada utopia leluhur, dengan jejak yang masih melekat di negeri ini: Libertalia, sebuah mitos yang masih hidup sampai sekarang, dan menjadi nyawa berbagai revolusi pemikiran. Kita perlu membaca kembali karya David Graeber, Pirate Enlightment, or the Real Libertalia, kita bisa mengkaji kembali Zanamalata, anak-anak bajak laut, yang tergambar lewat sosok Ratsimilaho—pendiri kerajaan Betsimisaraka pada abad 18. Kerajaan yang dibangun oleh anak-anak bajak laut dan perempuan Malagasi. Kerajaan yang menolak menobatkan satu orang sebagai penguasa tunggal, namun bercita-cita membangun aliansi ekonomi dan politik dengan berbagai klan dan keluarga penting. Sistem mereka tidak berpusat pada kekuatan dan dominasi, melainkan pada pertukaran dan penghormatan.

 

Maka, aku berani menyuarakan pada dunia. Pemuda ini, Generasi Z Madagaskar, akan meruntuhkan paradigma berpikir lawas.

 

Namun, jatuhnya sang presiden, presiden korup yang pasti segera tumbang, bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah menjawab: bagaimana kita memberantas kemiskinan, sedangkan mesin pembangunan dan roda pemerintahan adalah penghasil kemiskinan itu sendiri? Kemiskinan, yang pada dasarnya, adalah kemiskinan dalam berpikir.

 

Profil penulis:

 

Raharimanana, lahir di Antananarivo (Madagaskar) dan hidup sebagai eksil di Prancis sejak pementasan dramanya Le prophète et le président dilarang di Madagaskar pada 1991. Ia adalah salah satu penulis terkemuka dalam sastra Frankofon kontemporer. Ia telah menerbitkan sekitar lima belas buku, salah satunya adalah novel Nour, 1947, yang menceritakan pemberontakan Madagaskar terhadap kolonialisme Prancis. Pada tahun 2023, ia menerima Prix international de littérature francophone Benjamin Fondane.

Belenggu - Aimé Césaire


perjalanan mengikat menyeret jauh seluruh jalan

hanya kabut yang memeluk mengantar kota ke pelabuhan di atas tandu

dan kau, yang terhempas gelombang menuju kakiku
dan kapal itu, dalam cahaya redup separuh lelap
aku selalu mengenalnya

pegang erat bahu dan pundakku


budak


buih, deru hangat laut

air teluk berlumpur rasa perih dan hampa

di mana kita, dalam lambung malam yang pekat

hari ini seperti dulu

budak-budak terikat dan hati tertambat
tetap saja, sayangku, tetap saja kita berlayar
hanya sedikit kurang muak diguncang ombak

Kekuasaan dan Kenabian

Kekuasaan bukan hanya urusan orang hidup, tetapi juga mereka yang sudah mati. Perihal ini saya pelajari dari tiga antropolog, Marc-Éric Gruénais, Florent Mbambi, dan Joseph Tonda, setelah membaca tulisan mereka tentang fenomena pemilu di Republik Kongo tahun 1992. Kala itu, rebutan kekuasaan terjadi antara tiga calon presiden, Bernard Kolélas, Pascal Lissouba, dan Denis Sassou Nguesso. Yang aneh dari pemilu itu, masing-masing calon sibuk menyematkan diri mereka dengan sosok orang mati tertentu.

 

Bernard Kolélas adalah calon yang dikenal religius. Selama kampanye, ia kerap menyitir ayat-ayat injil dan menyebut nama Yesus. Citra ini pula yang membuatnya dijuluki berbagai atribut kekristenan: Si Musa, Mesias, Pejuang Perang Salib, Sang Martir, dan sebagainya. Namun tak cukup itu, Kolélas juga mencitrakan dirinya sebagai penjaga marwah tradisional. Inilah yang membuatnya kerap mengutip nama-nama pahlawan lokal, seperti Nzinga a Nkuwu, raja pertama Kongo, atau André Matsoua, pejuang lokal antikolonial dari suku Lari.

 

Berbanding terbalik dengan Kolélas, Pascal Lissouba adalah calon yang mencitrakan diri sebagai tokoh modern. Selama kampanye, ia selalu mengedepankan statusnya sebagai alumni Sorbonne, peneliti agronomi, sampai pengamat teknologi. Pendukung fanatiknya menjulukinya: Bapak Sainstifik, Profesor dari Segala Profesor, Calon Peraih Nobel, dan sebagainya. Lucunya, julukan itu sebetulnya tak tepat-tepat amat. Sebab, selama kampanye, Lissouba kerap mengumbar janji-janji politik yang di luar nalar. Ia, misalnya, ingin menyulap kota Brazzaville menjadi Une petite Suisse africaine (Swiss Kecil dari Afrika), dengan kereta-kereta gantung, dan pabrik-pabrik parfum berbahan dasar urin. Ironisnya, Lissouba tetap tak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari sosok orang mati. Selama kampanye, ia tetap menjadi capres yang rajin safari dari gereja ke gereja. Dalam salah satu iklan kampanyenya, ia bahkan merepresentasikan dirinya mirip Yesus: turun dari langit dengan balutan cahaya ilahi.

 

Sementara itu, Sassou Nguesso, sang incumben, justru mencitrakan diri sebagai sosok antagonis. Alih-alih mendekati gereja, apalagi menjadi si paling empiris, Nguesso memilih menjadi penyihirIa memang tidak mencatut nama orang mati, tetapi menetapkan dirinya menjadi penguasa kematian itu sendiri. Sebelumnya, Nguesso memang sudah terkenal sebagai presiden otoriter. Ia tak segan menembak mati siapa pun yang mengkritiknya. Korban petrus berjatuhan. Uniknya, banyak orang percaya bahwa mereka tewas ditikam arwah-arwah pelindung Nguesso. Tak heran, ia dijuluki sebagai penguasa ilmu hitammanusia kebal, penyihir dari utara, keburukan absolut, dan sebagainya.

 

Apa yang terjadi di Kongo, sebetulnya tak asing-asing amat jika kita bandingkan dengan Indonesia. Tak usah jauh-jauh,tengok saja dunia politik kita satu dekade terakhir.

 

Menjelang pilpres 2014, Jokowi tiba-tiba mendeklarasikan diri sebagai capres di rumah si Pitung. Pada pemilu 2024, urusan bawa-bawa orang mati ini justru semakin kentara. Lihat saja bagaimana Anies Baswedan selalu Live TikTok di depan lukisan Pangeran Diponegoro. Prabowo yang tiba-tiba ziarah ke makam Kyai Hasyim Azharisebelum bertemu para petinggi Tebu Ireng. Atau Ganjar Pranowo yang dimitoskan pendukungnya sebagai keturunan Sunan Kalijaga.

 

Di tiap sudut dunia, orang-orang mati akan dibangunkan lagi dari kuburnya, demi melegitimasi kekuasaan.

 

Yang menjadi pertanyaan, apa benang merah dari semua orang mati tersebut? Jawabnya, mereka adalah nabi. Tetapi, bukankah nabi sudah tak ada lagi sejak Muhammad wafat?

 

KENABIAN TAK PERNAH USAI

 

Namun kenyataannya, nabi-nabi masih terus lahir. Tentu mereka tidak datang dari tradisi Islam. Hanya saja, konsep kenabian bukan eksklusif milik agama Abrahamik. Di semesta ini, ternyata ada banyak budaya yang mengenal konsep serupa.

 

Di Senegal misalnya, masyarakat dari provinsi Casamance mengenal seorang nabi perempuan bernama Alinesitoué Diatta. Ia lahir dari tradisi agama lokal bernama Awasena. Aline hidup di tahun 1940-an ketika Senegal tengah dijajah rezim Vichy Prancis.

 

Suatu hari, ia tiba-tiba terkapar dan kejang di tengah pasar. Di tengah warga yang mengerubunginya, ia seketika bangkit dan mengaku mendapat wahyu dari Emitai, Sang Tuhan. Kata Aline, Tuhan membisikinya bahwa padi yang diimpor dari Asia (oryza sativa) adalah haram. Sebaliknya, ia mewajibkan semua pengikutnya merawat padi lokal (oryza glaberima). Barang siapa tidak menaatinya, ia sedang mengkhianati jalan Awasena.

 

Akibat ajaran kenabiannya tersebut, penduduk Casamance mulai menentang perintah kolonial. Mereka berhenti menanam padi impor. Sebagai konsekuensinya, Aline lalu ditangkap karena dianggap berbahaya. Ia diasingkan di Mali dan disekap dalam sel yang sempit dan lembab, hingga gugur karena lepra.

 

Sejak itulah, namanya terus dikenang oleh penduduk Casamance sebagai simbol perlawanan terhadap otoritas kolonial. Namun, seperti nasib nabi-nabi lainnya, namanya juga kerap dicatut di tengah kontestasi kekuasaan. Salah satunya oleh Abdou Diouf, mantan presiden Senegal di tahun 1980-an.

 

Alinesitoué Diatta hanya satu dari ribuan nabi lain yang lahir di zaman kiwari. Kita masih bisa mengabsen deretan nama lain seperti Frédéric Bruly-Bouabre, Souleymane Kanté, André Ondo-Mba, Simon Kimbangu, André Matsoua, sampai Béatrice Kimpa Vita. Namun, mengapa mereka bisa disebut nabi? Dan mengapa pula sosok-sosok yang sudah kita sebut sebelumnya juga bisa disebut nabi, atau setidaknya, figur kenabian?

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menengok kembali definisi nabi menurut Max Weber dalam Sociology of Religion. Dalam buku tersebut, Weber menjelaskan bahwa nabi adalah manusia yang berfungsi sebagai jembatan antara suara Tuhan dengan manusia.

 

Yang menjadi pertanyaan, setiap orang tentu bisa mengaku mendapat wahyu dari Tuhan. Tetapi, mengapa sebagiannydianggap sakit jiwa seperti Lia Eden, sedangkan sebagiannya lagi dipercaya seperti Alinesitoué Diatta?

 

Di sinilah Weber menjelaskan bahwa seorang nabi setidaknya harus mempunyai tiga karakter.

 

Karakter pertama, dan yang paling umum, seorang nabi harus mempunyai kekuatan supranatural. Ibrahim kebal api, Musa bisa membelah lautan, dan Alinesitoué Diatta, konon bisa menurunkan hujan. Ingat pula cerita Si Pitung yang punya ilmu kebal atau keris Sunan Kalijaga yang bisa menangkap petir. Namun, menurut Weber, karakter ini justru yang paling tersierSebab di zaman dulu, kekuatan magis bukan hal yang istimewa-istimewa amat. Tak perlu menjadi nabi, dukun dan penyihir pun punya kekuatan adimanusia.

 

Karakter kedua adalah sifat karismatik. Seorang nabi biasanya mempunyai karakter individu tertentu, seperti fisik yang gagah atau kecerdasan di atas rata-rata, yang memberinya legitimasi untuk memerintah banyak orang. Figur karismatik ini mudah kita bayangkan pada sosok seperti Nzinga A Nkuwu atau Kyai Hasyim Azhari.

 

Sedangkan karakter ketiga, dan merupakan yang paling penting, adalah karakter revolusioner. Seorang nabi hanya bisa mendapat banyak pengikut, jika ia turun di zaman yang sedang hancur lebur, dan menawarkan ajaran tertentu yang tak umum di zamannya. Tengok saja bagaimana Yesus menawarkan nilai cinta kasih, di tengah masyarakat romawi yang militeristik dan gila maskulinitas. Atau André Matsoua dan Pangeran Diponegoro, yang dengan lantang berani menantang penjajah.

 

Semua nama yang sudah kita sebut tadi nyaris memiliki tiga spektrum kenabian weberian. Itulah kenapa, meski secara de jure mereka tidak disebut nabi, namun secara de facto mereka adalah sosok yang dinabikan, atau dengan kata lain, figur kenabian.

 

Dan seperti sudah disinggung di awal tulisan, meski mereka hanya benar-benar hidup selama puluhan tahun, mereka masih akan berkali-kali dibangkitkan ketika kekuasaan sedang membutuhkan.

 

Maka jangan heran, jika menjelang tahun-tahun politik, para pejabat akan rajin sowan ke makam wali atau hobi mengutip nama tokoh karismatik. Besar kemungkinan, mereka tidak sedang meneladaninya, melainkan menyeretnya menjadi timses.

 

 

NABI YANG MENJADI TUHAN

 

Namun, apa yang lebih berbahaya dari penguasa yang meminjam legitimasi kenabian? Jawabnya adalah penguasa yang telah menjadi nabi itu sendiri. Kita barangkali masih mengingat pernyataan Sujiwo Tejo, bahwa pemimpin yang otoriter mematikan nyali, dan pemimpin yang dinabikan mematikan nalar. Masalahnya, otoritarianisme dan kenabian adalah dua sisi mata uang. Di mana penguasa dinabikan, di situ ada kesewenang-wenangan.

 

Saya menyadari hal ini setelah membaca tulisan Roxana Bauduin yang meneliti tokoh Jean-Cœur-de-Père dalam novel La vie et demie (1979) karya Sony Labou Tansi. Dalam novel tersebut, Jean-Cœur-de-Père adalah presiden tiran yang berlumur darah. Ia digambarkan sebagai rezim teror yang mampu melacak, menangkap, dan menghabisi siapa pun yang berani menentangnya. Namun ironisnya, ia juga tokoh yang begitu dipuja. Ia, misalnya, dijuluki “le père de la nation et de son peuple (Bapak Negara dan Bangsa)” dan “le commandant en chef de l’amour et de la fraternité (Komandan Tertinggi Cinta dan Persaudaraan)” oleh para pengagumnya.

 

Bauduin kemudian menyimpulkan bahwa Jean-Cœur-de-Père adalah alusi dari penguasa yang perlahan berubah menjadi nabi, lalu menjelma seperti tuhan. Mengapa seperti tuhan? Sebab di satu sisi, ia adalah kekuatan yang bisa menghukum dan mengancam. Namun di saat bersamaan, ia juga bisa menjamin kehidupan yang lega. Tentu bagi yang sudi menurutinya.

 

Argumen Bauduin juga mengingatkan saya pada tuhan-tuhan palsu dalam novel  distopia, yang selalu merepresentasikan tiga sifat ketuhanan, yaitu omnipresent (ada dimana-mana), omnipotent (kekuatan tak terbatas), serta omniscienct (tahu segalanya). Kita bisa menemukan tiga karakter tersebut, misalnya, dalam tokoh Big Brother dalam novel 1984 karya George Orwell, atau barangkali tokoh Pak Lurah dalam novel Tangan Kotor di Balik Layar karya Puthut EA. Dalam novel tersebut, mereka adalah sosok yang tak pernah benar-benar muncul, tetapi seolah selalu mengawasi, mengontrol, dan mengancam Winston Smith dan Hamam—dua tokoh utama. Ironisnya, kita tak pernah sepenuhnya tahu bagaimana kekuatan maha besar—yang sebetulnya aparatus represif dan ideologi negara—itu bekerja. Yang jelas, setiap bentuk pembangkangan terhadapnya, hanya akan membawa dua tokoh utama kita pada nasib celaka.

 

Jika menengok realitas ekstratekstual, kita tentu akan lebih mudah membayangkan siapa saja raja yang telah berubah menjadi nabi, lalu berevolusi menjadi tuhan. Ia tak melulu sangar seperti Denis Sassou Nguesso atau Idi Amin Dada. Beberapa justru tampak sederhana, murah senyum, dan sayang keluarga. Tapi awas, jangan sekali-kali cari masalah. Sebab, setiap kekuasaan yang telah bersetubuh dengan kenabian, hanya akan melahirkan kekerasan.

 

Yogyakarta, 29 Juli 2024

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Auge, Marc. (1975). Théorie des pouvoirs et idéologie. Étude de cas en Côte-d'Ivoire. Paris: Hermann

 

Balandier. Georges. (1953). Messianismes et Nationalismes en Afrique NoireLes Cahiers internationaux de sociologie, vol. 14ParisLes Presses universitaires de France

 

Bauduin, Roxana. (2015). Le prophétisme dans les romans de Sony Labou Tansi, entre magie du verbe et imposture des êtresProphétismes ou discours de l’entre-deux voixParis: Presses Sorbonne Nouvelle

 

Baum, Robert M. (2015). West Africa’s Women of God: Alinesitoué and the Diola Prophétic TraditionIndianaIndiana University Press

 

Diop, Boubacar Boris. (1980). Les tambours de la mémoire. Paris : Harmattan

 

Dongala, Emmanuel Boundzéki. (2011). Les petits garçons naissent aussi des étoilesMonaco: Rocher

 

EA, Puthut. (2024). Tangan Kotor di Balik Layar. Yogyakarta: Shiramedia

 

Fibrianto, Didik. (2023). Prabowo Nyekar Dan Masuk kamar KH Hasyim Asy’ari di Ponpes Tebuireng jombang. Available at: https://www.beritasatu.com/bersatu-kawal-pemilu/1046002/prabowo-nyekar-dan-masuk-kamar-kh-hasyim-asyari-di-ponpes-tebuireng-jombang (Accessed: 29 July 2024)

 

Gruénais, M.-E., Mouanda Mbambi, F., & Tonda, J. (1995). Messies, fétiches et lutte de pouvoirs entre les « grands hommes » du Congo démocratique. Cahiers d’études Africaines, 35(137). https://doi.org/10.3406/cea.1995.2029

 

Harris, Marvin. (2019). Sapi, Babi, Perang, dan Tukang SihirTangerang Selatan: Marjin Kiri.

 

Kadari, Louiza & Leroux, Pierre. (2015). IntroductionProphétismes ou discours de l’entre-deux voixParis: Presses Sorbonne Nouvelle.

 

Maksum, Ibnu. (2023). Sederek Ganjar: Keturunan Sunan Kalijaga, Nasab Ganjar Bisa Sampai rasulullah. Available at: https://suaranasional.com/2023/05/16/sederek-ganjar-keturunan-sunan-kalijaga-nasab-ganjar-bisa-sampai-rasulullah/#google_vignette (Accessed: 29 July 2024).

 

Moukoko, Phillipe. (1999). Dictionnaire génerale du Congo-Brazzaville. Paris: Harmattan

 

Orwell, George. (1949). 1984. Penguin Classics

 

Sufa, Ira Guslina. (2014). Makna tersirat Deklarasi Jokowi di Rumah Pitung. Tempo. Available at: https://nasional.tempo.co/read/562418/makna-tersirat-deklarasi-jokowi-di-rumah-pitung (Accessed: 29 July 2024).

 

Tansi, Sony Labou. (1979) La vie et demieParis: Seuil.

 

Toliver-Diallo, Wilmetta J. (2005). The Woman Who Was More than a Man : Making Aline Sitoe Diatta into a National Heroine in Senegal. Canadian Journal of African Studies Vol. 39, No. 2.

 

Weber, Max. (2006). Sociologie de la religion. ParisFlammarion