Seperti Kebab di Paris

Ini yang dulu selalu saya bayangkan ketika masih menjadi mahasiswa baru di jurusan Sastra Prancis UGM: kalau suatu hari saya bisa menjejakkan kaki di Paris, Paris yang akan saya temui adalah Paris di sore musim gugur. Cuaca dingin, angin menerbangkan daun-daun kering, lalu tulang saya mulai ngilu, dan daun telinga serasa kebas. Tapi segera saya mencari kafe terdekat, memesan kopi dan croissant, lalu menghangatkan tubuh sambil mendengar lagu-lagu jazz bistro. Di sudut utara, Eiffel tampak megah dengan balutan lampu kuning yang menyala.
Tapi Paris semacam itu hanya ada di imajinasi anak semester tiga yang masih percaya pada brosur biro pariwisata atau terpesona pada foto-foto di buku Écho—modul kuliah mahasiswa Sastra Prancis semester awal.
28 Agustus 2019, akhirnya saya benar-benar tiba di Paris. Tapi Paris yang saya jejaki ternyata jauh dari kota nan megah yang membawa perasaan sendu. Saya tiba di kota ini saat musim panas, dengan suhu udara 37 derajat celcius. Terik. Gerah. Tubuh saya lengket setelah 19 jam perjalanan udara tanpa mandi.
Dari Bandara Charles de Gaulle, saya dijemput Hasbi—teman yang tengah menempuh Master Arkeologi di Université Panthéon-Sorbonne. Setelah sejenak bersapa dan saling menanyakan kabar, Hasbi langsung mengingatkan saya untuk selalu waspada selama berada di Paris. Ia lalu mengajak saya naik metro jaringan RER (Réseau Express Régional) menuju tempat tinggalnya di Courcouronnes, daerah pinggiran Paris.
“Gus, hati-hati. Banyak orang brengsek di Gare du Nord. Dompet, HP, amankan. Banyak jambret terorganisir lo”, ujarnya, sebelum menambahkan, “Kalau kowe minta tolong polisi, paling mereka juga bodo amat. Polisi dimana-mana sama aja.”
Stasiun-stasiun kereta di Paris memang jauh dari kesan indah. Gare du Nord, misalnya, stasiun dengan terowongan seperti labirin raksasa ini tak cuma sumpek dan remang-remang, tapi juga pesing menyengat. Sampah dan puntung rokok bertebaran. Dinding-dinding stasiun penuh coretan pilox asal-asalan. Banyak gelandangan tidur di tepi jalan.
Sepanjang perjalanan menuju Courcouronnes, saya melihat Paris sebagai kota yang sesak  namun juga sangat plural. Dalam gerbong kereta yang kami tumpangi saja, sebagian besar orang yang duduk bukanlah orang kulit putih Eropa. Di kursi samping kami, pemuda keturunan Maghreb bersebelahan dengan pekerja keturunan Afrika Hitam. Seorang perempuan kulit hitam di belakang kami mengenakan Buba, Iro, dan Gele—blouse, sarung, dan penutup kepala khas Afrika Barat dengan warna-warna menyala. Perempuan berhijab keturunan maghreb berwajah muram sedang menelfon seseorang. Tepat di depan kami bahkan duduk seorang Ibu berwajah India. Nampak pula dua orang Asia bermata sipit dan berkulit kuning langsat—salah satunya adalah saya.
Prancis memang terkenal sebagai negara yang dihuni banyak keturunan imigran. Berdasarkan data yang dihimpun INSEE (Institut National de la statistique et des études économiques) tercatat bahwa pada tahun 2015 terdapat 7,3 juta warga negara Prancis yang mempunyai setidaknya satu orang tua imigran. Artinya, 11 % dari warga negara Prancis adalah keturunan imigran.
Membludaknya jumlah keturunan imigran ini bukannya tidak membawa masalah. Belakangan, meskipun sebagian besar dari orang kulit berwarna tersebut sudah berkewarganegaraan Prancis, mereka seringkali tak bisa sepenuhnya diterima sebagai orang Prancis. Banyak di antara mereka yang mengalami diskriminasi rasial dan terutama kesulitan dalam memperoleh akses kerja dan layanan publik. Hal ini pada akhirnya menimbulkan masalah lain yang lebih ruwet seperti pengangguran maupun kriminalitas. 
Sejarah mencatat bahwa imigran memang bagian tak terpisahkan dari negeri Prancis. Bahkan, berbicara tentang sejarah imigran berarti berbicara tentang sejarah negeri ini. Para imigran sudah didatangkan ke Prancis sejak paruh kedua abad 19. Pada periode ini, para imigran didatangkan dari negeri-negeri tetangga di Eropa maupun negara-negara jajahan Prancis di dengan tujuan memperkuat militer Prancis untuk Perang Dunia. Namun puncak dari kedatangan para imigran terjadi pasca Perang Dunia II, tepatnya sepanjang periode Les Trentes Glorieuses (30 tahun kejayaan) alias periode kemajuan gila-gilaan ekonomi Prancis sepanjang 1945-1975. 
Pada periode tersebut, Prancis tengah mengalami kemajuan industrialisasi yang luar biasa. Sayangnya, kemajuan ekonomi tersebut tak dibarengi dengan naiknya jumlah penduduk. Hal ini adalah dampak dari Perang Dunia II yang telah memakan korban jiwa sangat besar dan membuat angka pertumbuhan penduduk sangat lambat. Bahkan di masa baby booming, pertumbuhan penduduk Prancis hanya ada di angka 1 %. 
Demi mencukupi jumlah pekerja sekaligus meningkatkan populasi negara, Prancis pun perlu menerapkan suatu kebijakan pro-imigran. Maka tercetuslah kebijakan regroupement familial, yaitu suatu prosedur yang mengizinkan seorang pekerja imigran untuk mengajak anggota keluarganya menetap di Prancis dan memperoleh kewarganegaraan Prancis dengan lebih mudah. Kebijakan ini membuat ratusan ribu orang khususnya dari Benua Afrika berduyun-duyun datang, berkeluarga, dan beranak-pinak, hingga saat ini telah sampai pada keturunannya yang ketiga, keempat, atau bahkan kelima.
Saat ini, kebanyakan dari mereka masih dihinggapi berbagai stereotip negatif. Keturunan imigran Afrika Hitam biasanya dianggap biang kerok segala kriminalitas, mulai dari penjambretan, pencurian, hingga gembong narkoba. Keturunan Maghreb kerap dicurigai teroris atau seksis—genit dan senang goda sana-sini. Sementara keturunan Asia, apalagi yang bermata mini seperti saya, justru sering dipukul rata keturunan orang kaya. Alhasil, mereka kerap jadi korban pencopetan—saya kira justru ini yang paling naas.
Apa yang disebut Hasbi sebagai kumpulan orang-orang brengsek di Gare du Nord, bisa jadi merujuk pada kumpulan orang keturunan Afrika hitam yang terlihat dominan di area ini. Saya sebenarnya menolak untuk percaya pada segala bentuk stereotip. Bagi saya, stereotip adalah omong kosong yang didengungkan terus-menerus oleh kelas berkuasa. Tentu saja demi keuntungan mereka. Namun entah mengapa, kali ini saya merasa sangat cemas ketika orang berjejalan di tiap sudut stasiun. Ada semacam rasa kalut yang oleh orang Jawa disebut spaneng.
Sepanjang perjalanan di dalam kereta yang pengap, saya merasakan betul perasaan terasing seperti yang dituliskan Emmanuel Dongala di cerpen Kereta Hantu. Semua orang seakan menjadi berbahaya. Tiap gerak-gerik kecil terasa mencurigakan. Tiap tatapan mata yang bertemu seperti sinyal untuk menerkam.
Pikiran-pikiran negatif berjejal dan salah satu yang terbersit adalah perasaan nelangsa karena tak bisa menonton Gundala. Sebagai penggemar fiksi superhero, yang bahkan mencantumkan lambang Konoha di tanda tangannya, melewatkan film jagoan pertama dari negeri sendiri adalah sebuah ironi. Seandainya saya punya kekuatan super, barangkali saya tak akan sekhawatir ini. Sejak dulu, saya ingin menjadi superhero dengan kekuatan yang penuh kearifan lokal, mungkin menjadi perkasa setelah minum jamu atau disosor soang.
Lamunan itu secara tak terasa telah membawa saya tiba di Courcouronnes dan membuat saya sadar kalau perut sudah keroncongan. Rasa was-was ternyata melelahkan dan cukup menguras energi. Beruntung Hasbi peka dan segera mengajak saya untuk makan malam, yang sialnya, membuat ekspektasi lama tentang romantisme Paris semakin remuk redam.
Hari ini saya tak minum espresso seperti para filsuf eksistensialis di café littéraire. Saya hanya makan kebab dan minum soda 7-Up di sebuah restoran Arab yang memutar lagu-lagu Prancis dan Timur Tengah secara bergantian.
Ukuran kebab di sini seperti porsi gajah. Saya yakin akan kenyang sampai pagi kalau bisa menghabiskannya. Isi daging cincangnya tak tanggung-tanggung. Padat dan berminyak. Saya harus membuka mulut seperti kuda nil untuk melahapnya. Itupun dengan cincangan daging yang tumpah-tumpah.
Namun harus diakui, kebab seharga 6,5 euro ini luar biasa sedap. Potongan daging tebal dan empuk, dengan aroma rempahnya yang harum, membuat saya makin khusyuk menyantap. Apalagi ketika ia dicocol dengan saus kuning aljazair yang memberi sentuhan gurih, pedas, dan sedikit asam yang sempurna. Tanpa terasa, saya melahap ganas kebab ini sampai benar-benar tandas. 
Sejenak kemudian, dalam suasana perut kenyang, entah mengapa dunia terasa lebih terang. Saya mulai melihat sekeliling dan mengamati bahwa pelanggan restoran Timur Tengah ini bukan cuma orang keturunan Arab. Tapi ada pula orang kulit hitam, orang Asia Timur, bahkan orang kulit putih Eropa.
Orang beragam suku yang ada di sekitar saya juga nampak segar dan sumringah. Mereka saling bercerita dengan santai dan bahkan saling tersenyum manis.
Amin Maalouf—sastrawan francophone asal Libanon—dalam bukunya Les Identités Meurtrieres pernah menyiratkan sikap optimisnya terhadap globalisasi dan pluralitas dengan mencontohkan budaya tata boga yang kini telah melampaui batas teritorial. Kata Maalouf, zaman modern ini telah memberi kesempatan bagi orang Inggris untuk dengan mudah menikmati saus mint di dalam kare, orang Prancis mulai menyukai daging kukus, atau penduduk Minsk bisa melahap hamburger.
Kebab raksasa yang hari ini dilahap manusia beragam suku di pinggiran Paris ini barangkali adalah bukti bahwa apa yang dikatakan Maalouf bukanlah pepesan kosong saja.
Keberagaman memang kerap dipandang sebagai pembawa mala. Ia selalu menyeret rasisme sekaligus xenophobia. Namun setiap orang sebaiknya juga mengakui, bahwa tanpa keberagaman, tak mungkin ada kebab seenak ini di pinggiran Paris. Tak bakal ada gol Paul Pogba dan Kyllian Mbappe di final Piala Dunia 2018. Tak mungkin pula ada penyanyi seperti Erza Muqoli yang saya yakin akan menggantikan Celine Dion di masa depan.
Pada akhirnya, kebab yang saya libas di penghujung hari membuat saya kembali pada rutinitas harian: kenyang lalu mengantuk.
Saat suhu tubuh mulai menurun, hembusan nafas semakin teratur, sementara mata makin berat untuk dibuka, tiba-tiba saya melihat sebuah negeri seperti yang dikatakan Amin Maalouf sebagai kampung global. Yaitu tempat di mana setiap orang bebas untuk melestarikan karakter tradisionalnya tanpa harus menjatuhkan karakter lain. Ada ratusan atau mungkin ribuan orang di depan saya yang berbeda baik secara fisik maupun penampilan. Dunia semarak, lanskap warna-warni, tak satupun raut tampak kusut. Setiap orang berdamai dengan diri dan sekitarnya. Saya tak tahu apakah yang sedang saya lihat adalah Prancis, Indonesia, Vanuatu, atau Puerto Rico. Yang jelas, saya berada di sebuah ruang, di mana setiap orang tak lagi percaya pada segala bentuk stereotip, dan lebih percaya bahwa universalitas akan selalu punya harapan.










Paman Sekamana dan Sisi Terang Gelap Rwanda

Di penghujung tahun 2018, Bapak Junjungan Umat Kampret Indonesia, Prabowo Subianto, mengeluarkan pernyataan sembrono yang segera saja jadi bola panas terutama di kalangan Umat Cebong. Pernyataan itu kurang lebih berbunyi bahwa tingkat ekonomi negara kita setingkat dengan Haiti dan Rwanda, dua negara di Benua Afrika yang menurutnya tak pernah kita kenal dan ketahui letaknya.
Segera setelah pernyataan itu meluncur, para cebong pun ramai-ramai menyebut Prabowo idiot dengan alasan: Haiti berbeda dengan Rwanda karena Haiti terletak di kepulauan Karibia, sedang Rwanda di Afrika.
Lalu waktu lewat begitu saja. Perdebatan soal Haiti-Rwanda hilang tak berbekas. Umat Indonesia, baik cebong maupun kampret, beralih ke perdebatan yang malah makin ampas, dari tata cara bersuci yang benar sampai lafadz Allah di atas jidat.
Berbicara soal Rwanda, beberapa waktu lalu ketika sedang berada di Srilanka saya berkenalan dengan seorang dari negara tersebut bernama Janvier Sekamana. Kebetulan saat itu kami adalah sesama presentator di sebuah forum internasional yang membahas model pembangunan desa.
Kami bertemu ketika sedang jamuan makan siang di salah satu restoran di Kolombo. Saat itu di bawah cuaca Srilanka yang terik, ia memakai jas abu-abu gelap. Sebab merasa gerah, ia pun membuka seluruh kancing jasnya dan menampakkan dalaman kaos putih bergambar seorang tokoh yang nampak tak asing bagi saya. Melihat sosok di kaos itu, saya pun menyapanya terlebih dahulu.
“Vous devez être vraiment fier de votre présidentJe le connais. Paul Kagamen’est-ce pas?”. Anda pasti sangat bangga dengan Presiden anda. Saya tahu siapa foto orang di kaos anda. Paul Kagame, bukan?
Seperti sudah saya duga, ia terperangah mendengar saya mengenal sosok tersebut. Lebih-lebih, ketika saya mengatakannya dengan bahasa Prancis.
Kemudian sebelum sempat membahas tentang sosok di kaosnya, kami pun saling berkenalan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai pendamping desa di salah satu distrik di Kigali, sementara saya bercerita perihal 4 tahun kuliah sastra Prancis.
“Belajar Bahasa asing  di negeri sendiri membuat saya jarang berinteraksi dengan penutur aslijadi mohon maaf jika bahasa prancis saya remuk redam”, ujar saya seraya mengharap ia memaklumi kalau sesekali saya membuka kamus daring.
Berawal dari perkenalan tersebut, selama 3 hari berikutnya kami jadi sering terlibat dalam obrolan. Obrolan kami lebih banyak membahas tentang negaranya, Rwanda. Tapi tak jarang pula saya bercerita padanya tentang Indonesia dan mencoba membandingkan beberapa hal di antara kami.
Lewat perbincangan dengan Paman Sekamana lah, banyak sekali hal baru yang saya tahu tentang negara tersebut. Dan dari situlah, saya menyimpulkan bahwa saya perlu menuliskan beberapa perihal dalam obrolan kami tentang Rwanda. Sebab, selain penting untuk bahan permenungan, saya yakin bahwa orang-orang yang sama sekali tak tahu tentang Rwanda adalah orang yang merugi, kalau bukan udik.

GELAP

Ketika berbicara tentang Rwanda, orang akan selalu menyebut untuk pertama kali tentang Genosida 1994. Tragedi yang membantai dan menewaskan lebih dari 800.000 orang ini pun menjadi tema di banyak film tentang Rwanda seperti Hotel Rwanda (2004) atau Sometimes in April (2005).
Genosida ini berakar dari konflik antar suku, yaitu suku Tutsi yang merupakan minoritas dan suku Hutu yang merupakan mayoritas. Konflik ini bermula ketika Rwanda masih berada di bawah jajahan Belgia. Kala itu Belgia sebagaimana bajingan kolonial lainnya menerapkan politik adu domba—divide et impera—dengan cara mendudukkan orang-orang dari suku Tutsi di jabatan-jabatan penting pemerintahan. Hal ini memicu dengki bagi suku Hutu yang merasa lebih berhak mendapat porsi kekuasaan karena mereka adalah mayoritas. 
Kecemburuan ini menjadi bom waktu ketika akhirnya Rwanda merdeka pada 1962. Suku Hutu yang merasa digencet dan diperkuda di masa lalu merasa berhak membalaskan dendamnya pada suku Tutsi. Maka sepanjang 1962-1994, rasa benci itu penaka eceng gondok di atas air keruh. Perlahan tumbuh, semakin subur, berjebah, dan tak terkontrol.
Puncaknya terjadi pada tanggal 6 April 1994. Hari itu, Presiden Juvenal Habyarimana—yang mempunyai visi mempersatukan semua suku—tewas setelah pesawat yang ia tumpangi ditembak rudal oleh kelompok pemberontak saat hendak mendarat di Bandara Internasional Kigali.
Dengan kosongnya kekuasaan itulah, beberapa pihak memanfaatkan situasi. Mereka mengkonfrontasi suku Hutu untuk mulai membalaskan dendamnya dengan membunuh siapapun cockroach—julukan untuk orang Tutsi—yang mereka temui.
Maka, dalam tempo kurang dari 100 hari, Rwanda menjadi palagan yang lebih mengerikan daripada neraka. Satu per satu orang dibelasah dan disembelih. Rwanda menjadi kubangan darah dengan mayat-mayat Tutsi yang bertumpuk hingga menutupi jalan. Anyir. Dengan kepala buntung, dan organ tubuh pating berceceran.
Paman Sekamana berusia 23 tahun saat pembantaian itu terjadi. Usianya hampir sama seperti saya sekarang. Ujarnya, ia adalah saksi hidup yang melihat langsung bagaimana leher manusia digorok di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling suci: gereja.
Kala itu, gereja adalah tujuan utama bagi orang-orang yang lari bersembunyi. Orang-orang barangkali mengira bahwa di dalam rumah Ilah, setan tak bisa bernafas sehingga manusia-manusia paling beringas pun tak akan mengokang senjatanya. Tapi dugaan itu sepenuhnya keliru. Sebab, di dalam gereja lah pembantaian justru paling mangkus. Dengan beberapa berondong peluru, ajal datang sekaligus. Begitulah kematian demi kematian terjadi. Di antara dinding kapel yang dingin. Di bawah salib yang menjadi merah.
Setelah mendengar kisah tersebut, saya lantas memberondongi Paman Sekamana dengan pelbagai pertanyaan.
“Jadi karena Anda selamat, maka Anda seorang Hutu ?”.
«  Non ». Bukan.
“Tutsi ?!”
« Non plus ». Bukan pula.
“Jadi, bagaimana Anda masih waras sampai sekarang?”.
Ia nyengir, mengeluarkan suara tawa kecil dan memperlihatkan giginya yang seputih kapur, « Ma mère est Tutsi, mon pêre est Hutu. Si votre père est Hutu, il pouvait sauver toute votre famille » Ibuku Tutsi, ayahku Hutu. Jika ayahmu seorang Hutu, maka ia bisa menyelamatkan seisi keluargamu.
“Paman, dari film-fim yang saya tonton, saya kira orang Tutsi sedikit lebih berkulit terang daripada Hutu yang lebih legam. Jadi, para jagal itu membedakan suku dengan menebak warna kulit ya?”
“Tidak sama sekali. Orang Rwanda bahkan tak bisa membedakan mana Hutu mana Tutsi. Kami sangat mirip. Nyaris sama. Kala itu jika kau seorang Hutu tapi kau lupa membawa KTP, sudah pasti nyawamu juga akan melayang”.
Ia lalu mengambil dompet hitam dari sakunya, mengeluarkan selembar kartu identitas berwarna biru laut, menyerahkannya pada saya, dan meminta saya mengamatinya.
Kartu Tanda Penduduk Rwanda.
Isi kolom: nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, tanda tangan, nomor KTP.
Saya tak tahu apa yang ingin ia tunjukkan pada saya. Sejauh pengamatan, KTP ini tak nampak beda dengan KTP Indonesia kecuali dalam hal bahasa.
Alors?” Jadi intinya apa?.
Lalu ia menjelaskan, “24 tahun lalu, ada 1 kolom tentang identitas ras apakah kamu seorang Hutu atau Tutsi. Tapi kolom jahanam itu kini sudah hilang. Kau tahu siapa yang melenyapkannya? Ia adalah orang yang sama dengan orang yang menghentikan genosida Rwanda.”
Paman Sekamana lalu berdeham, sedikit membusungkan dadanya, sembari dengan raut penuh bangga menunjuk gambar di atas kaos putihnya “Presiden Paul Kagame”.
TERANG
“Today, Rwanda is the land of hope, not hatred”.
Paman Sekamana mengatakan hal tersebut sebelum menceritakan satu per satu perubahan yang terjadi di Rwanda selama 2 dekade terakhir—sejak Kagame menjadi presiden.
Ketika menceritakan Paul Kagame, Paman Sekamana bisa sampai berbusa-busa. Ia pertama menjelaskan bahwa berkat Kagame negaranya kini dijuluki “Singapore de l’Afrique”. Singapura-nya Afrika.
“Seperti Singapore, negara kami kecil dan sumber alam kami pas-pasan. Lebih buruknya, kami bahkan tak punya laut”.
Tapi Paul Kagame menciptakan gelombang perubahan besar terutama di bidang ekonomi. Ia mulai membangun sekolah, rumah sakit, bandara, dan jalan raya yang menghubungkan distrik dengan distrik. Ia membuka lahan jagung seluas-luasnya dan membangun pabrik jagung pertama. Ia juga mencanangkan program “1 Sapi, 1 Keluarga” yang membuat Rwanda kini jadi negara pengekspor ternak tersebut. Singkatnya, ia begitu cerdas dan kreatif dalam memaksimalkan sumber daya yang terbatas. GDP Rwanda yang jatuh dari angka 1,6 Milyar menjadi 450 Juta Euro pada 1994, kini kembali mencapai angka 4,4 M Euro. Tingkat perkembangan ekonomi Rwanda setiap tahunnya mencapai angka 7 hingga 8 persen.
Kreativitas Kagame juga tak berhenti pada program peningkatan ekonomi saja. Ia menjadikan negaranya sebagaimana negeri yang diimpikan kaum feminis: Rwanda menjadi negara dengan persentase tertinggi di dunia untuk anggota perempuan di parlemennya (68%). Dalam hal kesetaraan gender di bidang politik, Rwanda bisa mengungguli negara macam Denmark, Swedia, atau Canada.
Salah satu perubahan besar di Rwanda yang paling kerap dibicarakan dunia saat ini adalah kebijakannya di bidang lingkungan. Beberapa terobosan dilakukan pemerintah Kagame misalnya dengan melarang penggunaan tas plastik sejak 2008. Sebagai solusi atas pelarangan ini, pemerintah Rwanda membuka keran investasi bagi pengusaha kreatif yang mau menjadi produsen tas dari kain, kertas, atau daun pisang. Selain itu, Rwanda juga menggalakkan program penghijauan dengan misi menutupi 30 persen daratannya dengan hutan hijau. Hutan hijau ini kemudian disulap menjadi cagar alam atau taman nasional. Berkat usahanya membuka taman nasional Nyungwe, Gishwati, Mukura, dan Rugezi, Rwanda mendapat penghargaan Green Globe Award pada 2010.
Saya kira sangat jarang sebuah negara berkembang peduli amat dengan isu lingkungan. Tapi Rwanda membuktikan bahwa dengan komitmen penuh di bidang lingkungan, Rwanda bisa menciptakan perubahan besar. Salah satu perubahan besar itu bisa dilihat dari Kigali, Ibu kota Rwanda, yang kini dijuluki sebagai kota paling bersih di Afrika.
Seandainya kau punya sedikit waktu, cobalah meluncur ke youtube dan ketikkan kata kunci “Kigali”. Niscaya, kata kunci itu secara otomatis akan diikuti beragam embel-embel macam “the cleanest” atau “the safest” city in Africa. Selanjutnya, kau bisa membuka satu demi satu video itu dan melihat bagaimana sebuah kota di negeri “tak dikenal” itu, sepatutnya membuat warga Indonesia—apalagi orang Jakarta—tutup muka. Kigali adalah kota yang resik. Sangat resik. Pepohonan ditanam dengan rindang, trotoar menjadi tempat titian kaki yang bikin warga bungah, petugas kebersihan maupun warga sipil bisa bekerja sama mewujudkan kota yang nyaman dipandang.
Jempolan sekali bukan?

TERANG ATAU GELAP?

Rwanda hari ini adalah negara di benua hitam yang paling kerap menjadi perbincangan dunia internasional. Kendati demikian, perbincangan itu tak melulu berisi puja-puji atas keberhasilan mereka di bidang ekonomi. Sebab nyatanya, Rwanda juga kerap disinggung atas problematikanya di bidang politik. 
Di hari terakhir ketika berada di Srilanka, saya melemparkan pertanyaan yang saya kira cukup sensitif. Pertanyaan itu berkisar pada isu demokrasi di Rwanda yang kerap dipermasalahkan terutama oleh orang-orang Barat.
Tak sedikit orang yang menyebut Paul Kagame sebagai diktator. Panggilan diktator yang disematkan padanya semakin gencar seiring dengan duduknya kembali Kagame di kursi presiden untuk periode ketiganya. Padahal di konstitusi Rwanda, seorang presiden hanya bisa memimpin selama dua periode di mana tiap periode berjalan tujuh tahun. Tapi, konstitusi tersebut diubah sebelum pemilu 2017. Dalam aturan baru yang dibuat, presiden boleh memimpin negara selama 3 periode. Perubahan ini tentu menguntungkan Kagame yang akhirnya bisa melenggang kembali ke kursi empuk kekuasaan sampai 7 tahun ke depan.
Sejauh perbincangan kami dalam dua hari sebelumnya, saya mengenal Paman Sekamana sebagai seorang yang cukup fanatik pada Kagame. Untuk menanyakan perihal yang buruk tentang hal yang disukai seseorang, kita perlu menunggu waktu yang tepat atau lebih baik diam sama sekali. Tapi saat itu kami sedang minum teh Ceylon, teh khas Srilanka dengan komposisi teh hitam bercampur kelopak bunga kering berwarna ungu yang aromanya begitu semerbak dan menenangkan. Lalu sambil menyesap perlahan teh itu, akhirnya saya memberanikan diri bertanya perihal Kagame dan demokrasi.
“Paman, mohon maaf jika saya menyinggung. Tapi bagaimana dengan Demokrasi di Rwanda? Bukankah beberapa pihak memanggil Kagame sebagai presiden otoriter?
 “Bagus, laissez-moi vous répondre. De peu un peu. Mari kita jawab sedikit demi sedikit”, ujarnya.
Kemudian ia meminum tehnya dengan cara menenggak, sebelum memberikan jawaban yang justru disesaki pertanyaan.
“Jika benar Kagame diktator, mengapa ia menang pemilu dengan perolehan 99% suara? Let me tell you, Kagame telah mengubah Rwanda. Angka kemiskinan turun, angka kematian bayi turun, begitu pula dengan angka buta huruf. Jika rakyat mencintainya lalu ia memimpin lagi, kenapa ia dipanggil diktator? Lagipula, apa itu demokrasi? Siapa yang mengharuskan negara demokrasi hanya dipimpin 10 tahun? Apakah lagi-lagi, kita harus mengekor pada bangsa oksidental?”.
“Paman, tapi saya pernah membaca artikel tentang betapa bahaya mengkritik Kagame bagi orang Rwanda. Patrick Karegeya, mantan intel negara Anda yang banting setir jadi pengkritik pemerintah, bahkan tewas dengan berondongan peluru. Lalu bagaimana pula dengan 8 wartawan yang hilang? Apa sebegitu penting kesuksesan ekonomi dibanding penghargaan pada kebebasan?”.
Saya mengeluarkan pernyataan itu sambil menceritakan tentang sejarah Indonesia 32 tahun di bawah rezim Soeharto. Seperti halnya Kagame, Soeharto juga presiden yang “dicintai” rakyatnya. Tapi “cinta” itu tidak hadir begitu saja melainkan bertunas dari kemampuan rezim Soeharto menjejali rakyatnya dengan jargon-jargon penuh propaganda. Ia, dengan instrumen kekuasaan yang dimilikinya, secara sistematis telah menghegemoni rakyatnya untuk menasbihkan dirinya sebagai “Bapak Pembangunan Nasional”. 
Mendengar cerita saya, Paman Sekamana tetap bersikukuh bahwa Kagame adalah presiden yang benar-benar dicintai rakyatnya. Keyakinan Paman Sekamana semakin bertambah setelah mendengar cerita saya tentang genosida ’65 dan bagaimana langkah Soeharto atas tragedi itu. Dalam narasi yang dibangun Soeharto dan terus dirawat hingga rezim ini, genosida ’65 masih berhenti pada narasi biner hitam-putih. Semua yang berhubungan dengan PKI—meskipun hanya hubungan darah—adalah penjahat, sementara yang tidak adalah korban. 
“Presiden Rwanda menyelesaikan genosida. Presiden negara Anda jadi dalangnya. Presiden kami melawan phobia, presiden Indonesia merawatnya”, ujarnya dengan mantap.
Lelaki bertubuh jangkung itu sejenak kemudian menceritakan pada saya tentang rekonsiliasi konflik genosida yang pernah dilakukan Kagame untuk mendamaikan hubungan antara Hutu dan Tutsi.
Pada tahun 2002, Rwanda misalnya menginisiasi sebuah sistem peradilan yang disebutgacaca. Gacaca adalah program yang ditujukan pada puluhan ribu jagal yang ditetapkan sebagai tersangka genosida ’94.
Dalam gacaca, para tersangka pada awalnya diminta untuk mengakui kejahatannya. Mereka yang bersedia melakukan pengakuan, kemudian akan mendapat remisi. Setelah keluar dari tahanan, mereka juga harus melakukan kerja sosial di lingkungan di mana mereka dulu pernah berbuat kejahatan. Artinya, mereka tak sekadar saling memaafkan, tetapi juga harus menjalani kehidupan bersama. Menurut pemerintah Rwanda, gacaca telah merekonsiliasi lebih dari 1,9 juta kasus.
Selain gacaca, Rwanda juga menetapkan tanggal 7 April setiap tahunnya sebagai kwibuka,yaitu hari mengenang tragedi ’94. Pada saat kwibuka, ada seremoni di mana suku Hutu dan Tutsi saling bertemu, saling memaafkan, lalu berbagi santapan. Selama 100 hari setelah 7 April, Rwanda juga mengajak warganya baik Hutu maupun Tutsi untuk bersama-sama mengunjungi urwibutso, sebuah monumen untuk mengenang para korban genosida.
Selain itu, terobosan paling penting dari pemerintahan Kagame adalah menghapuskan kolom suku di KTP Rwanda yang sudah bertahan sejak awal masa kolonialisme. Sebab menurut Kagame, tak penting lagi apakah seorang terlahir sebagai Hutu atau Tutsi, selama mereka lahir atau hidup di Rwanda maka mereka adalah rakyat Rwanda.
Cerita gacaca dan kwibuka itulah yang membuat saya mulai memahami perbedaan antara Soeharto dengan Kagame. Bahkan lebih jauh, perbedaan Rwanda dengan Indonesia.
Indonesia hingga detik ini selalu menolak untuk bicara tentang genosida ’65. Setiap kali kita buka mulut tentang tragedi ’65, pemerintah akan meninggikan suara: masa lalu untuk apa diungkit-ungkit terus, ayo move on! Atau yang lebih sering: Ngapain sih terus-terusan membuka luka lama?
Sementara itu, Rwanda justru menjadikan genosida ’94 sebagai tema yang selalu jadi pembahasan, dengan tujuan utama mewujudkan rekonsiliasi dan permaafan bagi semua rakyat. Ada usaha serius dari pemerintah Rwanda untuk menjadikan pengalaman buruknya sebagai pelajaran, sementara kita selalu menampik bahwa ada borok yang mesti segera diobati.
Saya percaya bahwa pemerintah yang baik mengajak rakyatnya saling memaafkan, sementara pemerintah yang buruk membiarkan rakyatnya dihantui rasa bersalah. Dalam hal ini, kita benar-benar harus belajar dari Rwanda.
Di masa depan, Indonesia mungkin bisa punya mobil buatan sendiri. Merk Esemka, Esempe, atau bahkan Emtees. Dalam beberapa dekade ke depan, bukan tak mungkin Iron Man Indonesia benar-benar ada: Dengan lilitan kabel yang ditempelkan ke dua sisi pelipis, seorang lumpuh bisa menggerakkan kaki atau tangannya. Saya bahkan optimis jika suatu hari Indonesia akan menemukan bahan bakar ramah lingkungan entah dari pohon jarak, atau kecapi, atau kedondong yang menjadi solusi permasalahan energi dunia.
Satu-satunya hal yang tidak pernah saya percaya adalah jika suatu hari Indonesia paham betapa berharganya nilai sebuah pengakuan dan permaafan.

[Terjemahan] Kereta Hantu - Emmanuel Boundzéki Dongala

Matahari ! Sinar matahari sedang silau betul saat aku keluar dari lab. Hari yang terik pada musim panas di New York dengan pohon-pohon, daun-daun hijau, udara lembab, juga asap yang membumbung tinggi dari gedung-gedung pencakar langit dan membuat langit tampak muram. Aku sebenarnya punya hasrat konyol untuk berjingkrak-jingkrak dari lab sampai Stasiun Central Park, tapi aku tak punya banyak waktu. Kerja. Kereta. Persimpangan jalan. Lampu lalu lintas masih hijau dan aku belum bisa menyeberang. Baris demi baris mobil perlahan-lahan melewatiku. Darah kehidupan mengalir sepanjang arteri makadam. Sinar matahari memantul di kaca depan sebuah mobil dan membuatku silau. Ah, kalau saja aku punya kacamata hitam seperti para penjaga bioskop ituO.K kids, hands up! Para polisi nampak menggelikan dengan tongkat lalinnya. Seorang pria Irlandia bertubuh kekar terus mengunyah permen karet. Lampu merah. Dan aku mulai menyeberang. Loket stasiun. Antrian mengular seperti sering terjadi pada jam-jam sibuk. Seorang nenek-nenek di depanku mengeluarkan beberapa keping receh dari sakunya dan salah satunya jatuh. Ia tampak sedih melihat koinnya menggelinding lalu lenyap di antara kaki orang-orang. Aku tersenyum. Kini giliranku. Petugas loket langsung meminta 2 keping 10 sen tanpa senyum sedikitpunKubalas sikap tak acuhnya dengan pergibegitu saja tanpa terima kasih. Aku turun tangga dan kuikuti petunjuk arah menuju pusat stasiun. Semakin turun, keadaan semakin gelap. Aku sempat berhenti beberapa kali supaya mataku terbiasa dengan gelap. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh kereta yang entah menuju mana. Akhirnya aku tiba di peron. Ada tiga bangku dan dua gadis sedang duduk di salah satu bangku tersebut. Dengan sengaja, aku duduk tepat di sebelah gadis pirang yang paling cantik; dia cuek. Aku pun pindah ke bangku sebelahnya, mengambil jarak dan menatapnya sejenak lalu berusaha melempar senyumku yang paling manis. Sia-sia! Demi apapun aku tak sukagadis blonde, aku lebih suka yang brunette! Sudahlah. Stasiun tampak begitu dekil: puntung rokok, kertas-kertas koran, tutup dan botol bir, semua berserakan. Kulihat sekeliling dan kubaca sebuah peringatan di dinding “Dilarang Meludah”. Mendadak aku langsung ingin meludahinya. Sebuah mesin minuman kaleng memampang tulisan “Pingin gaul? Minum Coca-cola !” Hmm… Tak terasa stasiun menjadi penuh sesak. Seorang nenek-nenek usia 80 atau 90-an berdiri tepat di depanku. Tubuh bungkuknya yang disangga tongkat tampak begitu lelah dan ringkih. Ia menyeringai padaku dengan gigi mulus ompong. Sungguh mengerikan! Aku bangkit dari tempat duduk dan menawarkan tempatku pada seorang gadis cantik nan pirang yang berdiri persis di sebelah nenek tua tadi. Aku sungguh suka cewek, terutama cewek blondeIa awalnya menolak namun akhirnya mau juga. Oh wanita, tak pernah “iya” pada saat pertama. La donna è mobile! (Wanita sungguh membingungkan!). Kupandangi lagi sekeliling dan kuperhatikan dinding-dinding sepanjang stasiun. Dimana-mana ada reklame dan grafiti. Mataku rabun sehingga tak bisa membaca tulisan-tulisan itu dengan jelas; aku mendekat dan membaca salah satunya “Mending jadi komunis daripada kawin!”. LucuAku mulai lelah, bosan, dan jengkel. Aku kembali mendekat ke arah bangku namun sepatuku tak sengaja menginjak permen karet dan aku nyaris terjungkal. Kugosok-gosokkan sepatuku ke lantai tapi permen karet itu tak mau lepas. Menjijikkan.  Aku kembali mendekat ke bangku. Gadis pirang tadi menoleh ke arahku; aku tersenyum padanya. Namun ia bergeming. Apa dia sudah lupa aku?!? Sungguh, aku benci wanita, terutama wanita blonde! Tepat saat itu lah, seseorang ujug-ujug bertanya, “Eh bung, kereta ini ke arah mana ya?” “Ke Neraka bos,” jawabku. Ia jengkel dan mengumpat: bajingan. Bodo amat lah, pikirku. Sekarang stasiun benar-benar penuh. Gerah. Ternyata New York segerah ini di musim panas. Aku kembali berjalan dengan dua tangan kumasukkan dalam saku. Sebuah kaleng Coca-cola kosong tergeletak di depanku. Aku sepak ia sekencangmungkin. Kaleng itu berkelontangan. Saat itulah orang-orang menoleh ke arahku, memperhatikanku: akhirnya aku ada! Orang-orang aneh, entah yang berkacamata atau tidak. Tak ada dari mereka yang kukenal, dan sebenarnya aku juga tak peduli. Biarkan aku menyukai sembarang orang, kebebasan, demokrasi, sosialisme, keadilan, dan sebagainya, dan  sebagainya. Oke, aku akan mendekat ke mesin Coca-cola dan siap menjadi gaul. Mereka kembali melirikku. Aku sungguh suka orang New York, mereka memang jempolan, aku bahkan siap mampus demi mereka. Kuambil sekeping koin 10 sen dan kumasukkan ke lubang mesin sebelum memencet tombol. Sebuah paper cup terlepas dan mulai terisi Coca-cola. Sial, kereta datang! Aku tergesa dan meninggalkan Coca-Cola-ku begitu saja. Orang gaul berikutnya akan dapat minuman gratis! Ada barang gratis di Amerika! Sebentar lagi, seseorang akan berpikir dunia sungguh menakjubkan! Pintu kereta terbuka. Kereta yang tadi lengang mendadak penuh sesak. Kami berdesakan dengan kacau, saling tendang, saling sikat, saling sikut. Voilà, beginilah orang New York dan aku benci sekali pada mereka! Mereka selalu berebut tempat untuk kepentingannya sendiri. Pintu kereta tertutup. Berangkat. Kereta tiba-tiba menghentak dan membuatku terlempar ke belakang, membuat orang-orang di depanku ikut jatuh menindihku. Sembari berusaha menemukan lagi keseimbangan, aku berpapas muka dengan seorang gadis (lagi-lagi) blonde. Aku mengernyit padanya tanpa memberikan senyum. Aku mendekat, mencuri kesempatan sebisa mungkin untuk menyenggol teteknya yang menyembul. Goncangan kereta lagi-lagi membuatku terlempar mundur dan saat aku kembali ke posisi tadi, tiba-tiba sudah ada orang berdiri di antara kami. Ah, selalu saja ada yang menyempil di antara kita dan hal yang paling kita sukai di dunia. “C’est la vie”, “begitulah hidup”, kata orang Prancis. Seseorang menghujamkan sikunya ke jidatku, sedang yang lain menjotos lambungku. Seorang tentara meremukkan jempol kakiku dengan pantofelnya. Kutatap ia tajam-tajam dengan raut murka: ia berbisik minta maaf namun jelas hanya basa-basi. Seorang jagoan di depanku mencoba membaca koran. Oh, si maha akrobat! Orang-orang mendorong, memepet, menyikutnya, namun ia tak peduli dan tetap membaca. Seorang wanita paruh baya berbadan gendut ngorok di tempat duduknya dengan mulut melompong; tubuhnya berpeluh keringat. Aku benar-benar benci cewek gendut, terutama yang tidur di métro dengan mulut melompong. Aku makin merasa gerah. Lelaki di depanku berbau busuk dan seisi dunia mendadak ikut busuk. Aku berbalik, mengamankan hidungku ke arah lain. Kini aku bertatap muka dengan seorang lelaki berwajah mengesankan: seorang badut. Ia pasti seorang aktor atau pelawak atau apalah. Keringat mengalir di dahi, pipi, dan mulutnya dan melelehkan make upmascara, cat merah, cat hijau, dan cat putihnya. Wajahnya yang warna-warni terasa begitu ganjil. Seperti apa wajah aslinya? Yang terlihat hanya bulu matanya; Kedua sayap hidungnya kembang kempis butuh udara. Apa dia akan mati lemas? Ia menatapku, aku bergidik melihat topengnya. Topeng kematian. Ia menginginkanku. Tapi aku masih mau hidup. Keringatku mengalir deras dan semakin deras. Bunyi rel menderit, lampu kereta mati, hidup lagi, mati lagi. Topeng itu kembali menatapku tajam seolah ingin menyeret, menyerapku dalam ketiadaan. Aku coba memejamkan mata, tidak, aku tak bisa melihat lagi. Kereta ini berputar, aku ketakutan, kereta ini cepat sekali, ini kereta hantu, ia tak berhenti, tak mau berhenti, terus terjun dalam lingkaran, berputar, berputar, berputar…

***
 
Judul Asli: Mon Métro Phantôme
 
Penulis: Emmanuel B Dongala
 
Bahasa sumber: Prancis
 
Buku sumber: Kumpulan Cerpen Jazz et vin de palme
 
Emmanuel Boundzéki Dongala, lahir 14 Juli 1941, adalah seorang Profesor kimia cum sastrawan Kongo. Cerpen Mon Métro Phantôme menggambarkan keterasingan yang dialami imigran kulit hitam di Amerika, di tengah arus modernisasi dan stereotip yang melekat padanya. Cerpen yang diceritakan dengan gaya orang mengoceh ini terdapat dalam kumpulan cerpen Jazz et Vin de Palme (1982). Kumcer ini terbit ketika Kongo masih berada di bawah kekuasaan rezim Marxist-Leninist otoritarian dan sempat dilarang di negaranya karena isinya yang satir dan penuh olok-olok pada rezim tersebut.
 
Sumber:
Dongala, Emmanuel Boundzeki. 1982. Jazz et Vin de Palme. Paris: Hatier