Bapak, Kafka, dan Metamorfosa


Suatu pagi, Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa - Franz Kafka


Saya kira, tak banyak kalimat pembuka novel yang bisa sekuat kalimat pembuka novel Metamorfosa di atas. Pembuka yang begitu ganjil. Dan keganjilan itu akan terus berlanjut setiap kita membuka halaman demi halaman novel Kafka. Kata Alexis Nuselovici, dosen saya di Aix-Marseille Université, Metamorfosa adalah satu dari sedikit novel yang terus menimbulkan debat interpretasi di antara kritikus-kritikus sastra. Ujarnya lagi, “Novel ini sangat sulit diinterpretasikan dengan teori-teori. Seringkali, pengalaman pembaca lah yang akan menjadi kompas untuk menemukan makna”.

 

Metamorfosa sendiri berkisah tentang kehidupan keluarga Samsa yang jungkir balik setelah Gregor Samsa—tokoh utama dan anak sulung keluarga itu—bangun tidur dan tiba-tiba berubah menjadi seekor serangga. Ia bukan lagi manusia. Kulitnya mengeras dan menghitam, perutnya menggelembung, berkaki enam, dan dari kepalanya, menjulur sepasang antena. Kafka tak menyebut pasti apakah ia seekor coro, kumbang koksi, atau kumbang tahi. Yang jelas, saya membayangkannya seperti kecoak dengan tubuh sebesar Chris John.

 

Perubahan wujud Gregor sekonyong-konyong membuat kondisi keluarganya tak karuan. Ibunya terlengar saat pertama melihatnya. Gregor ingin mengatakan bahwa ia adalah anaknya, tapi mulutnya tak bisa lagi mengucapkan bahasa manusia.

 

Buntut paling gawat dari peristiwa ini adalah ambruknya ekonomi keluarga Samsa. Sebelumnya, Gregor adalah satu-satunya anggota keluarga yang bekerja. Ia membanting tulang dengan menjadi sales di sebuah perusahaan kain yang dipimpin seorang bos berhati tengik. Ia bekerja dari pagi sampai malam, di tempat yang ia benci, demi memenuhi urusan hidup ayah, Ibu, dan adik perempuannya.

 

Perubahan wujud ini lama-kelamaan membuat keluarganya hilang kesabaran. Terlebih kondisi Gregor makin bertambah aneh. Ia misalnya tak lagi sudi menyentuh makanan segar dan lebih memilih melahap apa-apa yang busuk. Beberapa saat kemudian, lendir dan tahi pun jebrol. Bercelemokan di lantai dan dinding kamarnya.

 

Suatu hari, ayahnya yang memang berwatak batu merasa begitu muak. Katup kesabarannya jebol. Ia merajam Gregor dengan sekeranjang apel. Salah satu apel itu lalu menghantam dan menancap di tubuhnya: membuat sebuah luka yang perlahan menganga, bernanah, dan membusuk.

 

Di dalam kamarnya sendiri, luka itu membuat Gregor tewas dalam sepi dan naas.

 

Banyak orang menganggap Metamorfosa sebagai novel yang terlalu absurd. Cerita seorang yang yang tiba-tiba berubah menjadi coro dianggap mengada-ada. Namun anehnya, Metamorfosa justru menjadi novel yang paling membekas bagi saya. Ia menjadi satu dari sangat sedikit novel yang membuat saya menangis saat menyelesaikannya.

 

Akan tetapi, saat itu saya tak langsung tahu apa yang membuat saya merasa nelangsa. Saya berusaha menggali berbagai kenangan, mengais-ngais apa yang terkubur di alam bawah sadar. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa apa yang terjadi pada keluarga Samsa adalah apa yang juga terjadi pada keluarga saya.

 

7 tahun lalu, Bapak didiagnosa menderita PPOK: Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Ini adalah jenis penyakit paru yang tak bisa disembuhkan kecuali hanya memperlambat keparahannya. Saluran pernafasannya infeksi. Parunya radang-membengkak. Kondisi ini membuatnya selalu terseret-seret kala bernafas. Sengal. Sesak.

 

Penyakit Bapak datang dari masa mudanya. Sejak lulus SD, Bapak saya sudah menjalani hidup yang keras dan cukup khayal untuk dipercaya. Ia belajar menjadi montir sejak usia belasan dan berakhir sebagai kenek bus Budiman di sepanjang jalur selatan pulau Jawa. Kala itu, rokok, mabuk-mabukan, hingga pil koplo adalah kesehariannya.

 

Kebiasaan itu menyerang balik masa tuanya. Menginjak usia kepala 6, satu per satu mala bersarang di tubuhnya. Berawal dari paru-paru, Bapak menderita bengkak jantung dan hipertensi. Tiga penyakit ini membuat Bapak jadi pasien rawat jalan sejak 2014. Dua minggu sekali, Bapak harus pergi ke Rumah Sakit untuk menebus obat. Dalam sehari, Bapak harus menenggak belasan pil, dan itu menjadi rutinitasnya selama bertahun-tahun.

 

Penyakit Bapak semakin akut dalam 2 tahun terakhir. Komplikasinya semakin bertambah. Ia menderita asam urat, maag gawat, dan radang ginjal. Mungkin efek obat yang mengendap sekian lama. Perlahan, ia makin sulit makan. Semakin hari, tubuhnya mengurus dan kakinya semakin mengecil. Ia tak mampu lagi menopang tubuhnya.

 

Kondisi ini, di suatu titik, sempat membuat saya berpikir: seandainya Bapak meninggal, keadaan tentu akan menjadi lebih baik. 

 

Saya iba melihat Bapak, tapi kesedihan paling mendalam adalah saat mengingat Ibu. Sejak Bapak sakit, Ibu otomatis menjadi tulang punggung keluarga. Tiap dua hari sekali, Ibu berangkat pasar di kala Subuh. Berdagang hingga siang. Lalu pulang dengan uang yang segera ludes untuk membiayai saya, adik, dan tentu saja Bapak. Hutangnya pada rentenir pasar bahkan pernah menumpuk hingga puluhan juta.

 

Tapi yang paling membuat saya remuk, Ibu hampir tak pernah lagi tidur nyenyak. Terutama dalam setahun terakhir. Tiap dini hari, sekitar pukul 2 atau 3, sakit Bapak selalu kambuh. Dadanya seperti terbakar dan kakinya bak dihujam duri. Ia mengaduh-aduh. Lalu ia akan muntah-muntah sampai perutnya bersih. Dan di sela derita itu, paru-paru Bapak semakin senin-kamis mengikat udara. Di saat bersamaan, rumah kami yang berdiri di atas tanah bengkok, terancam penggusuran. Bapak yang terus memikirkan hal itu, kini bukan cuma merosot kondisi fisik, tapi juga mental.

 

Kami sudah berusaha mengobatinya semampu mungkin. Hampir tiap dua bulan, Bapak nampak sekarat. Dalam keadaan itu, kami selalu merujuknya ke rumah sakit. Bapak tersiksa, Ibu menangis sampai kering, saya dan adik menghabiskan uang berjuta-juta—kami punya BPJS, tapi biaya makan dan sewa kendaraan tak pernah murah. Keadaan ini bertambah runyam tatkala tetangga semakin sering menggunjing kami. 

 

Setiap Bapak mondok di Rumah Sakit, mereka  bilang sudah bosan mendengar kabar Bapak dirawat. Kata mereka, Bapak mungkin punya jimat yang membuatnya susah mati. Beberapa bahkan menganggap penyakit yang tak kunjung sembuh adalah azab.

 

Beban mental yang menumpuk ini, membuat saya makin kerap meminta Tuhan untuk mencabut nyawa Bapak. Saya tak tahu apa ini layak disebut doa. Saya percaya bahwa tak ada doa yang buruk. Sebab, doa yang buruk adalah kutukan. Sedangkan saya tak mungkin mengutuk Bapak. Saya hanya ingin keluarga kami bahagia. Saya terlesah-lesah di antara kutuk dan doa, seperti saya buntu di antara cinta dan benci.

 

Hingga akhirnya Metamorfosa menyadarkan saya. Ia seperti membenam-benamkan kepala saya dalam lubuk air dan mengangkatnya lagi sampai betul-betul tersadar.

 

Saya tahu mengapa saya menangis. Saya menangkap apa yang ingin disampaikan Kafka. Bahwa kecoa raksasa hanyalah metafor dari tiap-tiap takdir buruk yang bisa datang tiba-tiba. Ia bisa berbentuk apapun. Penyakit paru seperti Bapak, stroke, kanker getah bening, durian jatuh di kepala, peluru nyasar, ban truk yang melindas dengkul, atau apapun yang bisa datang 5 detik lagi, dan membuat hidup kita sepenuhnya berubah.

 

Apa yang dialami Gregor sangat mungkin terjadi pada kita. Nasib terburuk tak sampai sejengkal dari jidat manusia. Tapi ada yang lebih mengerikan daripada itu. Metamorfosa menyadarkan saya jika manusia menilai manusia lain hanya berdasarkan nilai ekonomi yang masih melekat padanya. Jika suatu hari manusia berubah menjadi kecoa, maka semua orang—bahkan keluarganya—hanya akan menganggapnya sampah. Bahkan jika ia telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. 

 

Manusia keji dan saya adalah yang terbusuk di dunia. Saya menilai Bapak seperti Ayah Gregor menilai anaknya.

 

Saya bisa berkilah, bahwa saya tak tega melihatnya terus menderita atau saya hanya ingin Ibu bahagia. Tapi di tapal batas antara hati dan akal saya, ada hitung-hitungan ekonomi yang terus membayangi.

 

Saya menangis sejadi-jadinya. Saya tahu bahwa kemungkinan Bapak sembuh sangat sedikit. Tapi mendoakannya untuk lekas mati adalah hal menjijikkan. Saya baru menyadari bahwa selalu ada pilihan-pilihan lain. Saya bisa berdoa akan turunnya mukjizat. Saya bahkan bisa memilih diam saja. Atau jika saya memang manusia, saya bahkan bisa menerima kondisi Bapak sebagai bagian dari takdir yang harus kami jalani. Atau jika itu pun tak bisa, saya hanya perlu menyadari satu hal: bahwa penderitaan saya tak lebih besar dibanding penderitaan orang-orang seperti Gregor dan Bapak.

 

Di titik ini, kenang-kenangan bersama Bapak tiba-tiba berkelibatan. Saat Bapak memanggul saya menonton konser Joshua, saat Bapak membelikan komik bekas dan majalah Fantasi tiap minggu, saat kami pergi ke Magelang hanya karena saya ingin naik becak, juga ingatan-ingatan yang tak melulu indah terutama pasca ekonomi Bapak kolaps di awal tahun 2.000.

 

Kalau bukan karena Bapak, saya tak akan bisa seperti sekarang.

 

Selepas saya lulus SMP, tabungan Bapak tinggal tersisa angin. Toh, ia tetap mengusahakan agar saya bisa sekolah di Kabupaten. Kala itu, Bapak rela naik bus Wonosobo-Jogja untuk menemui saudara-saudaranya di Casa Grande. Di sana, Bapak memohon-mohon agar mereka membiayai sekolah saya di SMA 2 Wonosobo. Berkat patungan keluarga Bapaklah, saya akhirnya bisa lulus SMA.

 

Pasca SMA, saya mendapat beasiswa untuk kuliah di Sastra Prancis UGM. Saya menjalani kuliah dengan cukup lancar sampai akhirnya lulus setelah 4,5 tahun. Saat saya wisuda sarjana, kondisi Bapak sebenarnya sudah ringkih. Tapi ia tetap memaksakan diri menuju Grha Sabha Pramana meski harus pamit sebelum acara kelar karena hampir pingsan.

 

Pertemuan terakhir saya dengan Bapak terjadi saat saya hendak berangkat ke Prancis. Itu bulan Agustus 2019. Bapak sudah kurus kering dan kesulitan berjalan. Ia meminta adik saya untuk menggendongnya sampai tepi jalan raya, untuk melihat saya menunggu bus sebelum akhirnya berangkat.

 

Sekarang, harapan saya tinggal satu: semoga dua tahun menjelang, Bapak bisa berada di tempat yang sama. Menunggu saya turun dari bus untuk membawakannya ijazah, juga cerita-cerita dari Prancis.

 

Aix-En-Provence, Desember 2019


Note: Bapak meninggal 8 Juli 2021, tepat satu hari setelah saya melakukan sidang tesis. Saya sempat mengabarinya tentang kelulusan dan nilai 19/20 yang saya dapat. Kata terakhir yang Bapak ucapkan pada saya adalah "Alhamdulillah."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar