Elikia M’bokolo dalam bukunya L’Afrique noire: histoire et civilisation—Afrika Hitam dan Peradaban—pernah menulis sebuah kritik terhadap historiografi Afrika yang menurutnya terlalu didominasi oleh nama-nama kaum elit. Sejarah, terutama yang berkaitan dengan kolonialisme, selalu diisi oleh nama-nama indigènes évolués, yaitu para pribumi yang biasanya berasal dari kalangan borjuis dan pernah mengecap pendidikan di Eropa. Dalam penulisan sejarah nasional, kelompok ini seringkali diklasifikasikan sebagai Bapak Bangsa yang bahkan dikultuskan sebagai pahlawan kemerdekaan. Historiografi semacam ini, bagi kita mungkin terasa lumrah. Tapi bagi M’bokolo, kecenderungan ini kerap menenggelamkan peran kelompok-kelompok yang justru paling terdampak, yaitu petani dan pekerja dari kawasan pinggiran, yang justru lebih sering dideskripsikan sebagai objek yang pasif, primitif, irasional, dan tak mampu mengorganisasi diri.[1]
Saat sejarah selalu didominasi oleh epos glorifikasi terhadap tokoh-tokoh elit, sastra dapat memberikan sudut pandang lain. Dalam kajian teori sastra, terdapat sebuah aliran yang disebut new historicism yang percaya bahwa interaksi antara sastra dan sejarah bersifat resiprokal. Artinya jika sejarah dapat mempengaruhi sastra, maka vice versa, sastra juga dapat mempengaruhi sejarah. New historicism hadir untuk mengkritik traditional historicism yang percaya bahwa sejarah adalah teks yang objektif dan universal. Padahal sejarah sebagaimana karya sastra sama-sama mengandung subjektivitas. Keduanya juga tak bisa lepas dari konteks sosial, politik, dan kultural ketika teks-teks itu ditulis. Lebih jauh lagi, sastra bahkan bisa menawarkan narasi kontra terhadap grands récits atau narasi-narasi dominan yang biasanya disebut dengan sejarah resmi atau official history. Singkatnya, sastra dapat membuat kita mempertanyakan kembali bagaimana proses dan metode sejarah terbentuk. [2]
Dalam dunia sastra francophone,[3] kita mengenal salah satu sastrawan yang dalam karya-karyanya kerap menghadirkan kontra-narasi terhadap historiografi negaranya. Ia adalah Emmanuel Boundzéki Dongala, sastrawan kelahiran Republik Kongo, 14 Juli 1941, yang dikenal sebagai “sastrawan yang selalu melawan intoleransi terhadap beragam sudut pandang sejarah”. [4] Dongala adalah salah satu sastrawan Republik Kongo yang paling moncer selain Alain Mabanckou, Henri Lopes, Guy Menga, Sylvain Bemba, Tchicaya U' Tamsi dan Sony Tabou Lansi. Ia pernah meraih dua penghargaan sastra paling bergengsi di Afrika Sub-Sahara,[5] yaitu Grand prix littéraire d'Afrique noire tahun 1988 dan Prix Ahmadou-Kourouma tahun 2011. [6] Karya-karyanya sudah diterbitkan dalam 12 bahasa. Saya sendiri sudah menerjemahkan dua cerpennya yang berjudul Kereta Hantu dan Upacara
Salah satu karyanya Le Feu des origines—Api Asal-usul—adalah novel yang paling kentara dalam menawarkan perspektif lain untuk membaca sejarah Republik Kongo. Secara singkat, novel ini menceritakan kembali sejarah negara tersebut selama era kolonialisme. Latar waktu dalam novel merentang menjelang kedatangan kolonial Prancis pada 1880 hingga Republik Kongo meraih kemerdekaan pada 15 Agustus 1960. Sejarah tersebut dihadirkan melalui kisah hidup Mandala Mankunku, tokoh utama, yang dalam novel ini menjadi saksi episode-episode krusial dalam sejarah kolonialisme di Republik Kongo, seperti proyek kerja paksa pembangunan rel kereta api Congo-Océan, dekolonisasi oleh gerakan kenabian Matsouaniste, hingga campur tangan elit borjuis menjelang kemerdekaan.
Dekolonisasi dan Peran Lumpenproletariat
Kembali pada pemikiran Elikia M’bokolo tentang historiografi yang terlalu didominasi kaum elit, Dongala dalam Le Feu des origines justru menghadirkan sejarah Republik Kongo dari sudut pandang seorang jelata. Mandala Mankunku, tokoh utama dalam novel ini, bukan seorang keturunan bangsawan apalagi raja. Ia cuma pemuda miskin dari Lubituku, sebuah desa yang penduduknya masih percaya pada hal magis dan dunia leluhur. Mankunku bahkan menjadi pekerja paksa dalam proyek rel kereta api Congo-Océan pada tahun 1921-1934. Rel kereta sepanjang 512 km ini adalah proyek ambisius yang sama mengerikannya dengan pembangunan Jalan Daendels di Indonesia. Mario Azevedo dari Departemen Studi Afrika Universitas Cambridge, menulis bahwa proyek ini kemungkinan membunuh lebih dari setengah dari total 125.000 pekerja paksa. Mereka mati dalam keadaan kelaparan, malaria, asfiksia, disentri, atau seringkali karena penyiksaan.[7] Sastrawan André Gide dalam bukunya Voyage au Congo menyebut proyek ini sebagai “penindasan yang biadab dan mengerikan” untuk menyebut misalnya praktik mutilasi alat kelamin bagi pekerja yang berani memberontak.[8] Semua episode kebrutalan tersebut, hadir dalam Le Feu des origines. Namun dalam novel ini, Dongala memberi ruang bagi para pekerja paksa untuk bercerita. Misalnya tokoh Djermakoye yang menceritakan pengalamannya dalam kutipan di bawah ini:
« Une fois à Bangui, reprit Djermakoye, nous étions entassés dans d’étroites barges sans toit, sous le soleil et la pluie ; parfois, pendant des heures, il était impossible de bouger un pied. Beaucoup mouraient par asphyxie, tandis que d’autres, fatigués parfois de se cramponner au-dessus de la mêlée où ils pouvaient respirer, lâchaient prise, glissaient et tombaient dans le fleuve... ».[9]
“Ketika berada di Bangui”, kata Djermakoye, “para pekerja paksa dijejalkan dalam satu tongkang sempit tanpa atap, di bawah matahari dan hujan. Terkadang, kami tidak bisa menggerakkan kaki sama sekali selama berjam-jam. Banyak yang tewas karena sesak napas, sementara yang lain terkadang lelah bergelayut sambil berdesakan sebelum terpeleset dan hanyut di sungai”.
Le Feu des origines selanjutnya menjadi kritik terhadap historiografi nasional yang mengaburkan peran kaum jelata dan mendewakan kaum elit. Dalam novel ini, Dongala justru mendeskripsikan dua kelompok tersebut dengan perspektif berbeda, khususnya ketika menceritakan kembali sejarah dekolonisasi. Kita dapat melihat adanya pemikiran Frantz Fanon, seorang filsuf politik asal Martinik, dalam novel tersebut. Fanon dalam bukunya Les Damnés de la terre—Orang-Orang Terhina di Muka Bumi—pernah menyatakan bahwa proses dekolonisasi utamanya bukan didorong oleh elit intelektual, melainkan justru oleh massa dari kelas paling miskin sekaligus paling teropresi. Sebab, meskipun tak punya cukup kualitas intelektual, mereka adalah subjek yang betul-betul merasakan penindasan dan dari situlah mereka mempunyai kekuatan revolusioner untuk melakukan konfrontasi langsung. Fanon meminjam istilah Marx, yaitu lumpenproletariat, untuk menyebut subjek tersebut. Tapi berbeda dengan Marx yang memandang lumpenproletariat dengan nada peyoratif sebagai sebagai kelas yang reaksioner dan mudah disuap oleh kepentingan kapitalis, Fanon justru menganggap mereka sebagai subjek revolusioner. Ia menulis “Dari massa pinggiran kota kumuh inilah, yaitu lumpenproletariat, pemberontakan akan menemukan ujung tombaknya. Lumpenproletariat adalah salah satu kekuatan revolusioner paling spontan dan radikal dari rakyat jajahan”.[10]
Dalam Le Feu des origines, Dongala merekam proses dekolonisasi dengan menghadirkan secara dominan peran subjek tersebut. Dalam konteks novel, lumpenproletariat merujuk pada para petani miskin, pengangguran, dan bekas pekerja paksa—termasuk Mandala Mankunku—yang tergabung dalam sebuah gerakan bernama Moutsoumpiste. Moutsoumpiste sendiri sebenarnya adalah alusi dari Matsoaunisme, sebuah gerakan prophétisme—atau kenabian—di Kongo yang sepanjang tahun 1942 sampai 1959 melakukan resistensi kolonial paling keras pada kolonial Prancis. Mengapa disebut gerakan kenabian? Sebab, para pengikutnya percaya bahwa suatu hari akan datang seorang juru selamat bernama André Grénard-Matsoua yang akan melibas kolonial Prancis. André-Grénard Matsoua sendiri adalah pribumi antikolonial yang sepanjang hidupnya lantang menyuarakan kesetaraan antara orang kulit hitam dan kulit putih sekaligus menolak keras program wajib militer di koloni-koloni Prancis. Matsoua ditangkap pada 1942 dan gugur dalam kondisi mengenaskan di dalam penjara. Akan tetapi, kematiannya justru memicu berdirinya Matsoaunisme, sebuah gerakan yang paling tangguh sekaligus konsisten dalam memerangi Prancis. [11]
Adapun dalam novel, Moutsoumpiste digambarkan sebagai gerakan tanpa pemimpin. Mereka hanya percaya pada Moutsoumpa, tokoh yang kehadirannya antara ada dan tiada. Ia tak pernah benar-benar nampak, tapi rakyat Kongo percaya bahwa ia punya kekuatan sebesar gajah dan pernah menggulingkan kereta api sekaligus membakar pos-pos pertahanan penjajah. Bagi rakyat Kongo, “nama Moutsompa menjadi sinonim dari perlawanan terhadap asing [...] Ia sosok yang membuat penjajah gemetaran dan ia menjadi pahlawan kisah rakyat, pahlawan legendaris”. [12]
Gerakan Moutsoumpiste juga tidak digambarkan sebagai gerakan lemah tanpa rencana. Sebaliknya, ia justru mampu mengorganisir perang gerilya, demo besar-besaran, mogok makan, bahkan membuat petisi menuntut kemerdekaan. Artinya, Le Feu des origines tidak menghadirkan massa rakyat sebagai objek yang pasif, tetapi justru subjek yang mampu mengorganisir diri dan memiliki kesadaran politik yang kuat.
Dongala dalam salah satu wawancaranya bersama Jeune Afrique pernah mengatakan “Saya tetap bersama mereka yang teropresi, bahkan jika saya dianggap berlebihan”. [13] Kata-kata tersebut sebenarnya merupakan manifestasi dari visi kepenulisannya. Bagi Dongala, seni menulis adalah sebuah usaha untuk “mengambil sesuatu yang tergeletak di sudut dan meletakannya di tempat yang nampak”. [14] Oleh karena itulah, dalam karya-karyanya, ia selalu menghadirkan subjek-subjek yang selama ini direpresi atau sengaja dilupakan oleh sejarah. Episode tentang gerakan Moutsoumpistedalam novel, sebenarnya adalah upaya Dongala untuk menempatkan kembali peran krusial gerakan Matsouanisme selama dekolonisasi. Hal ini tidak bisa lepas dari konteks sosial Republik Kongo pasca merdeka yang menempatkan nama Matsouanisme dalam bingkai peyoratif sebagai kelompok pemberontak. Hingga hari ini, Matsouanisme sebenarnya masih eksis sebagai sebuah komunitas religius. Akan tetapi, para penganutnya terus diasingkan dan kerap dianggap gila. Meike J. de Goede dalam tulisannya Legacies of political resistance in Congo-Brazzaville menjelaskan bahwa penyingkiran ini berawal dari stigmatisasi negatif terhadap Matsoaunisme yang dibentuk oleh kolonial Prancis. Pada masa menjelang kemerdekaan, Matsouanisme diidentikkan sebagai gerakan pemberontak, pengganggu ketertiban umum, irasional, dan separatis. Stigma ini sayangnya terus dilanggengkan oleh rezim Presiden pertama, Fulbert Youlou, yang memang memiliki kedekatan dengan Prancis. [15]
Elit Intelektual Menjelang Kemerdekaan: Awal Mula Françafrique
Lalu, bagaimana Le Feu des origines memotret peran elit intelektual selama dekolonisasi?
Dalam novel ini, Dongala menghadirkan satu episode mengenai pertemuan antara elit intelektual pribumi dengan elit kolonial menjelang kemerdekaan. Pertemuan tersebut sebenarnya merujuk pada pertemuan antara Fulbert Youlou dengan kolonial Prancis. Yang menarik, kelompok intelektual ini tidak dideskripsikan sebagai Para Bapak Bangsa yang nyaris tanpa cela. Mereka justru hadir sebagai kelompok yang bersama elit kolonial, turut menolak protes para petani yang tanahnya dipaksa menjadi perkebunan karet. Episode ini, lagi-lagi menunjukkan adanya pemikiran Frantz Fanon dalam Les Damnés de la terre. Dalam buku tersebut, Fanon membahas peran elit intelektual menjelang kemerdekaan negara-negara Afrika, yang baginya justru kontra-revolusioner. Menurut Fanon, di saat perlawanan di akar rumput tengah membara, para elit intelektual justru sibuk berdiskusi tentang politik asimilasi. Sementara itu, mereka abai bahwa hal paling esensial bagi rakyat miskin adalah harga diri dan tanah. [16] Dalam sejarah resmi, proses ini kerap disebut “musyawarah yang beradab” atau “perlawanan lewat jalur diplomasi”. Namun pada kenyataannya, proses ini lebih sering berujung pada dua hal: kemerdekaan semu yang menjadi awal rezim neokolonialisme dan pergantian kelas dominan dari penjajah kulit putih menjadi borjuis kulit hitam yang sebenarnya sama-sama memperkuda rakyat.
Periode dekolonisasi seharusnya menjadi pemutusan radikal terhadap kultur penjajahan. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi di sebagian besar eks koloni Prancis. Perselingkuhan antara elit kolonial dan elit pribumi menjadi awal dari neokolonialisme. Artinya, meskipun Prancis telah memberikan kemerdekaan, tetapi ia masih mempertahankan kendali yang besar pada bekas jajahannya. Ekonom Prancis, François-Xavier Verschave, menyebut fenomena ini sebagai Francafrique, yaitu strategi Prancis untuk tetap menguasai bekas jajahannya di Afrika Sub-Sahara dengan cara memberi mereka kemerdekaan, menempatkan diktator-diktator lokal sebagai presiden baru, menerapkan bahasa Prancis sebagai bahasa nasional, lalu menyusun rencana militer dan ekonomi untuk mengusai minyak, uranium, dan segala rupa hasil bumi.[17] Jika dalam Les Damnés de la terre, Fanon memberi contoh fenomena tersebut di Gabon, maka Emmanuel Dongala dalam Le Feu des origines menarasikan ulang bagaimana proses ini terjadi di Republik Kongo.
Indonesia cukup beruntung karena tidak mengalami fenomena seperti Françafrique. Netherlanesia tidak ada karena kita berani menyatakan kemerdekaan sendiri sekaligus memutus relasi seradikal mungkin dengan penjajah. Berkaca dari hal itu, kita patut untuk berbangga. Ya setidaknya, sampai kita digempur CIA sampai terjun ke jurang paling dalam pada 1965.
Referensi:
AZEVEDO, Mario, 1981, The Human Price of Development: The Brazzaville Railroad and the Sara of Chad, African Studies Review , Vol. 24, No. 1, Cambridge University Press
DONGALA, Emmanuel Boundzéki, 2018, Le Feu des origines, Albin Michel
FANON, Frantz, 2002, Les damnés de la terre, Paris : La découverte
GALLAGHER, Catherine, et GREENBLATT, Stephen, 2001, Practicing New Historicism, University of Chicago Press
GHALEM, Nadia, NDIAYE, Christian, SATYRE, Joubert, SEMUJANGA, Josias, 2004, Introduction aux littératures francophones, Presses de l’Université́ de Montréal, Montréal
GIDE, André, 1927, Voyage au Congo, éd. Gallimard
GOEDE, Meike J. de, 2019, Legacies of political resistance in Congo-Brazzaville dalamw Biographies of Radicalization: Hidden Messages of Social Change, Berlin, De Gruyter Oldenborg
M'BOKOLO, Elikia, 2002, Afrique noire, histoire et civilisation tome II, éd. Hatier
MOUKOKO, 1999, Dictionnaire générale du Congo-Brazzaville, éd. Harmattan
THOMAS, Dominic, 2002, Nation-Building, Propaganda, and Literature in Francophone Africa, Indiana University Press, pg. 166
Situs online
URL :https://www.jeuneafrique.com/152063/politique/emmanuel-dongala-redoute-un-printemps-africain-pour-les-r-volutions-arabes/ diakses pada 21 Maret 2020
[1]. Elikia M’bokolo adalah sejarawan besar asal Republik Demokratik Kongo yang dikenal sebagai ahli kajian politik Benua Afrika. Baca : Elikia M’bokolo, 2002, Afrique noire, histoire et civilisation tome II, éd. Hatier, p. 421-422
[2] Baca: Catherine Gallagher dan Stephen Greenblatt, 2001, Practicing New Historicism, University of Chicago Press, pg. 52 dan Stephen Greenblatt, 1980, Renaissance Self Fashioning, Chicago: University of Chicago
[3] Sastra francophone secara umum dipahami sebagai sastra berbahasa Prancis yang ditulis oleh orang-orang dari luar Prancis. Baca: Christine Ndiaye, Josias Semujanga, Joubert Satyre, Nadia Ghalem, 2004, Introduction aux littératures francophones, Presses de l’Université́ de Montréal, Montréal
[4] Dominic Thomas, (2002), Nation-Building, Propaganda, and Literature in Francophone Africa, Indiana University Press, pg. 166
[5] Afrika Sub-Sahara merujuk pada negara-negara di Afrika yang tidak termasuk negara-negara di Afrika Utara (Maroko, Libya, Aljazair, Tunisia, Mesir). Biasa juga disebut Afrika Hitam.
[6] Phillipe Moukoko, (1999), Dictionnaire génerale du Congo-Brazzaville, éd. Harmattan, p.136
[7] Mario Azevedo, 1981, The human price of development: The Brazzaville Railroad and the Sara of Chad, African Studies Review, Cambridge University Press, p. 14
[8] André Gide, 1927, Voyage au Congo, Gallimard, p. 98-100
[9] Emmanuel Boundzéki Dongala, 2018, Le Feu des origines, Albin Michel, pg. 115
[10] Frantz Fanon, 1995, Les Damnés de la terre, Paris : La découverte, p. 125
[11] Elikia M’bokolo, op.cit. 420-421
[12] Emmanuel Boundzéki Dongala, 2018, op.cit, p. 193-194
[13] Emmanuel Dongala redoute un “printemps africain” pour les révolutions arabes, accédé sur https://www.jeuneafrique.com/152063/politique/emmanuel-dongala-redoute-un-printemps-africain-pour-les-r-volutions-arabes/ diakses 21 Maret 2020
[14] Dominic Thomas, 2002, op.cit, p.150.
[15] Meike J. de Goede, 2019, Legacies of political resistance in Congo-Brazzaville dans Biographies of Radicalization: Hidden Messages of Social Change, Berlin, De Gruyter Oldenborg, p. 231-238
[16] Frantz Fanon, 1955, op.cit, p. 47
[17] Baca: François-Xavier Verschave, 1998, La Françafrique, le plus long scandale de la République, Paris: Stock

Tidak ada komentar:
Posting Komentar